Sukses

Tingkat Aborsi Janin Difabel di Inggris Masih Tinggi

Liputan6.com, Jakarta Baroness Tanni Gray Thompson hidup dengan baik di tengah keterbatasannya. Kursi roda yang menjadi bagian dari dirinya tak menghalangi aktivitas sebagai atlet, politisi, presenter teve, dan penasihat disabilitas di salah satu universitas.

Hidupnya semakin lengkap dengan menikah dan memiliki satu anak perempuan. Namun, terlepas dari semua pencapaian itu, dia masih menghadapi diskriminasi karena disabilitasnya, terutama ketika menyangkut memiliki anak.

Baroness muncul di podcast BBC, "Stumps, Wheels and Wobblies," dan mengungkapkan bagaimana dia ditekan untuk melakukan aborsi. Bahkan ia pernah dilarang punya anak karena spina bifida atau kelainan tulang belakang yang disandangnya.

"Anak perempuan saya sekarang berusia 17, saat berencana hamil dokter menyebut orang seperti saya sebaiknya tidak hamil dan memberi pandangan yang rumit tentang disabilitas."

Menurutnya, dokter khawatir bahwa disabilitas Baroness mungkin "menyebar" jika orang-orang difabel berkembang biak.

2 dari 4 halaman

Ketidakadilan yang Besar

Penyiar podcast, Ruth Madeley mengatakan dia telah mendengar hal yang sama dari orang lain dengan spina bifida. Mereka sering disuruh segera melakukan aborsi setelah berkonsultasi dengan dokter terkait kehamilan mereka. "Tingkat aborsi masih 80 persen," kata Madeley. "Banyak dari itu datang dari seorang profesional medis yang menasihatinya."

Baroness dianggap sebagai salah satu atlet difabel paling sukses di Inggris. Ia memenangkan total 16 medali Paralimpiade, memecahkan lebih dari 30 rekor dunia, dan memenangkan Marathon London enam kali.

Terlepas dari semua yang telah dia capai, dia masih menghadapi diskriminasi, dokter merasa lebih baik bagi orang-orang seperti dia untuk tidak memiliki anak. Sedihnya kemampuan menyerang semacam ini sangat umum terjadi di Inggris.

Orang-orang difabel sering mengatakan bahwa mereka tidak boleh memiliki anak, atau tidak seharusnya dilahirkan. Warga Inggris penyandang disabilitas menghadapi pelecehan dan intimidasi sepanjang waktu, namun ketika mereka maju, pihak berwenang tidak mempercayai mereka.

Batas aborsi di Inggris adalah usia kandungan 24 minggu, kecuali untuk bayi yang didiagnosis pranatal dengan segala jenis kecacatan, bahkan yang kecil dan mudah dikoreksi seperti bibir sumbing. Bagi negara yang menganggap dirinya progresif, cara berpikir seperti ini adalah ketidakadilan besar.

3 dari 4 halaman

Infografis Pilihan:

4 dari 4 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini: