Sukses

Mengenal Down Syndrome dan Ciri-Cirinya

Liputan6.com, Jakarta Disabilitas memiliki berbagai jenis, tidak hanya terkait dengan fisik, disabilitas juga dapat berupa disabilitas mental dan intelektual contohnya Down syndrome.

Down syndrome adalah kondisi di mana anak memiliki kromosom tambahan yaitu kromosom 21, sehingga total kromosomnya berjumlah 47. Padahal, anak yang terlahir tanpa disabilitas hanya memiliki dua salinan kromosom sehingga jumlah kromosomnya adalah 46.

Menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari Klikdokter, di dalam kromosom tersebut terdapat DNA yang akan menentukan perkembangan tubuh manusia. Akibat penambahan kromosom ini, terjadilah gangguan pada saraf, tulang kulit, jantung, dan fungsi pencernaan. Itulah sebabnya penyandang Down syndrome biasanya memiliki wajah yang khas.

“Tulang dahi menjadi lebih datar, jembatan mata lebih datar, mata kiri dan kanan agak berjauhan, posisi daun telinga lebih rendah,” tulis Dyah melansir Klikdokter, Selasa (29/12/2020).

Jumlah kromosom berlebih membuat anak dengan Down syndrome akan mengalami kesulitan dalam merangkak dan berdiri. Meski demikian, latihan khusus yang teratur dengan dukungan penuh dari keluarga dapat sangat membantu.

Dyah menambahkan, anak dengan Down syndrome juga sulit untuk berbicara. Bukan karena ia tak tahu cara untuk berbicara, namun ia tak memiliki kekuatan otot. Bagian dalam mulutnya juga terbentuk secara tidak normal. Karenanya, anak dengan Down syndrome membutuhkan perawatan khusus agar dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.

2 dari 4 halaman

Down Syndrome dalam Angka

Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa penyandang Down syndrome tidak dapat melakukan hal-hal hebat. Padahal, jika dilatih dan diarahkan sejak dini, Down syndrome juga dapat berprestasi layaknya anak-anak lain.

Kesadaran tersebut perlu ditanamkan pada masyarakat luas agar pandangan-pandangan yang keliru dapat dikikis sedikit demi sedikit. Mengingat, angka Down syndrome di Indonesia pun tidak sedikit.

Angka Down syndrome di Indonesia terus mengalami peningkatan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, proporsi kasus Down syndrome pada anak usia 24-59 bulan meningkat sebesar 0,12 persen. Pada 2018, kasus Down syndrome meningkat menjadi 0,21 persen.

Terry Elton yang merupakan peneliti dari Ohio State University, Amerika Serikat, mengatakan bahwa prevalensi Down syndrome kira-kira 1 berbanding 700 kelahiran. Data yang diperolehnya menunjukkan bahwa di dunia kurang lebih ada 8 juta anak dengan Down syndrome.

3 dari 4 halaman

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: