Ethereum Masuk Fase Bearish? Analis Prediksi Harga Bisa Jatuh

Ethereum menghadapi tekanan baru setelah muncul sinyal bearish yang berpotensi mendorong harga turun hingga USD 1.350.

Diterbitkan 21 Mei 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ethereum (ETH) kembali menghadapi tekanan di pasar setelah sejumlah indikator teknikal menunjukkan potensi pelemahan tren. Meski sempat mencatat kenaikan harian, sejumlah analis mulai mengingatkan adanya risiko penurunan harga yang lebih dalam jika minat beli tidak kembali menguat.

Saat laporan ini dibuat, dikutip dari CoinMarketCap, Kamis (21/5/2026), Ethereum diperdagangkan di level USD 2.142,52 atau naik sekitar 1,53 persen dalam 24 jam terakhir. Namun kenaikan tersebut belum sepenuhnya mengubah pandangan pasar terhadap arah pergerakan aset kripto terbesar kedua di dunia itu.

Analisis terbaru dari CryptoQuant menunjukkan Ethereum mulai memasuki fase teknikal yang lebih rapuh. Salah satu indikator yang menjadi sorotan adalah jebolnya pola segitiga (triangle pattern) yang sebelumnya menopang pergerakan harga selama periode konsolidasi cukup panjang.

Pelemahan pola seperti ini umumnya dianggap sebagai sinyal perubahan dominasi pasar dari pembeli menuju penjual.

Selain itu, indikator rata-rata pergerakan (moving average) juga menunjukkan tanda pelemahan. Rata-rata jangka pendek kini bergerak di bawah rata-rata jangka panjang, membentuk pola bearish crossover yang sering muncul saat tekanan turun mulai meningkat.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Kekhawatiran Investor

Analis CryptoQuant, PelinayPA, menilai perubahan arah pada indikator utama tersebut menggambarkan kondisi pasar yang melemah secara lebih luas, bukan sekadar koreksi sementara.

“Jika Ethereum gagal kembali ke struktur segitiga yang sudah ditembus, tekanan jual dapat meningkat lebih lanjut dan harga berpotensi menuju level dukungan USD 1.350,” tulis PelinayPA.

Pelaku pasar umumnya melihat kemunculan beberapa sinyal bearish secara bersamaan sebagai peringatan yang lebih kuat dibandingkan hanya satu indikator.

Pergerakan harga Ethereum saat ini juga menunjukkan bahwa setiap upaya pemulihan masih diikuti tekanan jual yang cukup besar. Kondisi tersebut membuat harga kesulitan membentuk level dukungan baru yang lebih kuat.

Situasi itu memunculkan kekhawatiran bahwa penguatan jangka pendek yang terjadi saat ini belum cukup untuk mengubah tren utama pasar.

 

Gelombang Likuidasi

Selain faktor teknikal, aktivitas perdagangan derivatif juga menjadi perhatian investor Ethereum.

Data CryptoQuant menunjukkan Binance, yang menangani sebagian besar perdagangan kontrak berjangka Ethereum global, mencatat peningkatan likuidasi posisi beli (long liquidation). Kondisi ini terjadi ketika posisi dengan leverage tinggi dipaksa ditutup akibat pergerakan harga yang berlawanan.

Gelombang likuidasi tersebut berpotensi memperbesar tekanan jual dan mempercepat pelemahan harga dalam jangka pendek.

Dalam beberapa kasus sebelumnya, lonjakan likuidasi besar memang sempat membuka peluang pemulihan harga. Namun, Ethereum dinilai belum menunjukkan tanda pemantulan yang kuat setelah tekanan jual terbaru.

Saat ini Ethereum masih bergerak di bawah area resistensi penting di sekitar US$2.400. Sementara level dukungan terdekat berada di kisaran US$2.067, dan jika level tersebut ditembus, harga berpotensi menguji area psikologis US$2.000.