Bitcoin Melonjak, tapi Sinyal Bahaya Masih Mengintai

Sejumlah sentimen mempengaruhi harga bitcoin (BTC) pada Selasa, (24/3/2026).

Diterbitkan 24 Maret 2026, 11:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin (BTC) yang berada di kisaran USD 70.469 melonjak 4% dalam hitungan menit setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan niatnya untuk sementara meredakan konflik di Iran dan membuka jalur negosiasi.

Mengutip Cointelegraph.com, Selasa (24/3/2026), sementara harga minyak langsung anjlok 14% ke USD 85 per barel WTI dan indeks S&P 500 naik 3%, metrik derivatif Bitcoin justru masih menunjukkan skeptisisme serta kurangnya kepercayaan terhadap level support USD 68.000. Kontrak berjangka Bitcoin diperdagangkan dengan premi tahunan sebesar 2% dibandingkan pasar spot pada Senin, 23 Maret 2026 yang menandakan rendahnya permintaan terhadap leverage bullish.

Dalam kondisi normal, indikator ini biasanya berada di kisaran 4% hingga 8% untuk mengompensasi periode penyelesaian yang lebih panjang. Minimnya keyakinan dari pihak bullish ini telah menjadi pola selama sebulan terakhir, bahkan saat terjadi reli menuju USD 76.000 pada Selasa, 24 Maret 2026.

Adapun sentimen positif jangka pendek terkait konflik AS dan Israel-Iran kemungkinan besar belum cukup untuk membalikkan pesimisme setelah penurunan harga selama lima bulan. Karena penyebab pasti dari crash kilat Bitcoin pada 10 Oktober 2025 serta kegagalannya mengikuti pasar tradisional belum terkonfirmasi, para trader cenderung menyikapi setiap perkembangan dengan penuh kecurigaan.

Aksi jual besar-besaran tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya tarif impor AS, termasuk bea 100% untuk barang-barang China setelah negara tersebut membatasi ekspor logam tanah jarang.

Namun, likuidasi besar-besaran senilai USD 19 miliar menjadi faktor paling merusak, menyebabkan kerugian besar bagi market maker dan trader yang menggunakan posisi cross-margin.

 

Opsi Call Bitcoin

Di bursa Deribit, opsi call Bitcoin di level USD 80.000 untuk jatuh tempo 24 April diperdagangkan pada 0,017 BTC (USD 1.207). Dengan waktu tersisa 31 hari dan volatilitas implisit sebesar 48%, pasar hanya memberi peluang sekitar 20% bagi Bitcoin untuk mencapai USD 80.000. Ekspektasi rendah untuk kenaikan bulanan sebesar 13% ini tergolong jarang di pasar kripto yang biasanya lebih optimistis.

Stablecoin berbasis dolar AS diperdagangkan dengan premi 1,3% terhadap nilai tukar resmi dolar AS terhadap yuan pada hari Senin, menunjukkan tidak adanya ketidakseimbangan signifikan antara permintaan beli dan jual di kawasan tersebut.

Biasanya, permintaan tinggi terhadap kripto akan mendorong premi di atas 1,5%, sementara aksi jual panik membuat stablecoin diperdagangkan dengan diskon.

Kebijakan The Fed menahan minat risiko

Data menunjukkan adanya ketahanan moderat di pasar derivatif Bitcoin, terutama setelah BTC kembali menguji level USD 67.500 pada hari Senin. Penurunan harga emas sebesar 21% dalam sepuluh hari menjadi bukti tidak ada kelas aset yang benar-benar aman saat pelaku pasar khawatir terhadap resesi ekonomi dan risiko inflasi, terutama ketika harga bahan bakar memengaruhi sektor logistik dan hampir seluruh sektor ekonomi AS.

Trader Bakal Tetap Hati-Hati

Kenaikan 3% pada indeks S&P 500 pada Senin kemungkinan belum cukup untuk mendorong investor keluar dari instrumen pendapatan tetap, terutama karena Federal Reserve tidak memberikan sinyal kuat untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter. Suku bunga tinggi mengurangi insentif pembiayaan konsumsi dan meningkatkan beban biaya modal bagi korporasi.

Aset berisiko, termasuk Bitcoin, sangat bergantung pada durasi konflik yang berlangsung. Selama harga minyak belum kembali ke level USD 75 atau lebih rendah, kemungkinan besar trader akan tetap berhati-hati. Selain itu, dibutuhkan katalis tambahan agar pelaku pasar kembali bullish, terutama mengingat masih lemahnya keyakinan yang tercermin dalam metrik on-chain dan derivatif.

Â