Perusahaan Kripto Strategy Ungkap Ingin Jadi Pembeli Bitcoin Terbesar

CEO Strategy Phong Le menegaskan, pihaknya akan membeli bitcoin dalam jangka panjang meski baru-baru ini menjual bitcoin.

Diterbitkan 16 Juli 2026, 18:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan kripto Strategy berharap dapat terus mengakumulasi bitcoin (BTC) dalam jangka panjang. Perusahaan yang didirikan Michael Saylor ini akan mencermati risiko utang jika bitcoin anjlok menjadi US$ 8.000-US$ 10.000.

Hal itu disampaikan Presiden Direktur dan CEO Strategy Phong Le saat wawancara dengan Bloomberg TV, dikutip dari the block, ditulis Kamis, (16/7/2026).

“Kami tidak akan pergi ke mana pun. Tujuan saya adalah menjadi pembeli bitcoin terbesar untuk masa mendatang,” kata Phong Le.

Strategy baru-baru ini menjual bitcoin US$ 215 juta atau Rp 3,88 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.070) sebagai bagian dari strategi modal. Perseroan belum membeli bitcoin sejak pekan yang berakhir 22 Juni 2026. Pekan lalu, perusahaan menghimpun US$ 467 juta atau Rp 8,43 triliun dari penjualan saham biasa. Langkah Strategy itu meningkatkan cadangan kas menjadi sekitar US$ 3 miliar atau Rp 54,20 triliun.

Strategy mengatakan, cadangan itu cukup untuk menutupi pembayaran dividen saham preferen selama dua tahun. Strategy juga memberikan tambahan fleksibilitas keuangan.

Phong Le menuturkan, Strategy meningkatkan cadangan kas setelah pemegang saham preferen menunjukkan mempertahankan kas likuid sangat penting di neraca dalam jangka pendek. Ia mengatakan, penjualan bitcoin baru-baru ini untuk menunjukkan likuiditas dalam kepemilikan bitcoin perusahaan.

Jika Bitcoin Tetap di Bawah Tekanan

Le berharap tidak ada kekhawatiran neraca, kecuali bitcoin turun ke US$ 8.000-US$ 10.000.

“Ketika bitcoin turun mendekati US$ 8.000 atau US$ 10.000, saat itulah kita harus mempertimbangkan risiko yang terkait dengan utang kita. Sampai saat itu, kami merasa sangat aman tentang neraca kami,” ujar Le.

 

Merancang Struktur Modal

Ia menambahkan, Strategy telah merancang struktur modal untuk menahan pasar bearish sambil tetap berada di posisi untuk mendapatkan keuntungan dari reli masa depan.

Perusahaan mengalami periode serupa selama penurunan 2022, dan berharap untuk terus mengakumulasi bitcoin dalam jangka panjang.

Le menuturkan, Strategy telah berevolusi dari perusahaan perbendaharaan bitcoin menjadi apa yang ia gambarkan sebagai platform modal digital lebih luas. Perusahaan akan meningkatkan modal untuk mendukung pembelian bitcoin pada masa mendatang.

Bagian penting dari strategi itu melibatkan STRC, saham preferen abadi Strategy yang dikenal sebagai Stretch. Phong Le menuturkan, perusahaan akan menerbitkan lebih banyak STRC setelah nilainya kembali ke nilai nominal US$ 100.

 

Beli Lebih Banyak Bitcoin

Hasil penerbitan akan dipakai untuk membeli lebih banyak bitcoin sekaligus berpotensi menambah cadangan dolar AS perusahaan. Ia menggambarkan sebagai bagian penting dari rencana modal jangka panjang Strategy.

"Ketika STRC kembali ke nilai nominalnya, kami akan menerbitkan lebih banyak. Kami akan membeli bitcoin," ujar  Le.

"Itu adalah bagian besar dari rencana modal kami untuk menerbitkan lebih banyak saham preferen dari waktu ke waktu karena itu sangat menguntungkan bagi nilai bitcoin per saham kami, yang juga menguntungkan bagi pemegang saham kami,” ia menambahkan.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.