Pendiri Binance Sebut Bitcoin Unggul dari AI, Ini Alasannya

Pendiri Binance Changpeng Zhao menilai AI membawa efisiensi, tetapi Bitcoin tetap menjadi aset terbaik untuk melindungi nilai uang dari inflasi.

Diterbitkan 19 Juli 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri Binance, Changpeng Zhao (CZ), kembali menegaskan pandangannya mengenai Bitcoin. Menurut miliarder di industri kripto tersebut, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memang menawarkan banyak manfaat, tetapi tidak mampu melindungi nilai kekayaan dari inflasi seperti Bitcoin.

Pernyataan itu ia sampaikan melalui akun X dalam sebuah unggahan singkat yang telah ditonton lebih dari 1,3 juta kali.

"AI memang hebat, tetapi tidak bisa melindungi Anda dari inflasi. Bitcoin bisa," jelas dia dikutip dari CoinMarketCap, Minggu (19/7/2026).

Meski hanya terdiri dari satu kalimat tanpa penjelasan panjang, pernyataan tersebut langsung memicu perhatian pelaku pasar. Changpeng Zhao secara tegas membedakan peran AI dan Bitcoin, dua sektor yang selama beberapa tahun terakhir sama-sama menjadi incaran investor.

Menurutnya, AI dan Bitcoin memiliki fungsi yang berbeda. AI berfokus pada peningkatan produktivitas, sedangkan Bitcoin berperan sebagai aset yang mampu menjaga nilai kekayaan di tengah meningkatnya inflasi.

 

Masalah Batas Pasokan

CZ menjelaskan bahwa AI merupakan teknologi yang membantu perusahaan bekerja lebih efisien, meningkatkan pendapatan, sekaligus menciptakan nilai bagi pemegang saham. Namun, sektor AI tidak memiliki batas pasokan.

Perusahaan dapat menerbitkan saham baru, mencari pendanaan melalui utang, hingga terus memperluas bisnisnya. Begitu pula dengan token AI maupun berbagai produk investasi berbasis AI yang jumlahnya dapat terus bertambah.

Berbeda dengan itu, Bitcoin memiliki jumlah pasokan yang tetap, yakni hanya 21 juta koin. Angka tersebut tidak akan berubah, terlepas dari kebijakan bank sentral, keputusan pemerintah, maupun peningkatan jumlah uang yang dicetak.

Menurut CZ, keterbatasan pasokan inilah yang menjadi keunggulan utama Bitcoin. Ketika permintaan meningkat, jumlah Bitcoin tidak ikut bertambah sehingga karakteristik tersebut dinilai mampu menjaga kelangkaannya.

Ia juga pernah menyebut bahwa pelemahan nilai mata uang fiat akibat inflasi rata-rata mencapai sekitar 6-7 persen per tahun. Sementara itu, banyak instrumen pendapatan tetap dinilai belum mampu memberikan imbal hasil yang melampaui laju inflasi tersebut.

 

Proyeksi Sebelumnya

Meski saham-saham perusahaan AI mencatatkan kinerja yang kuat dalam beberapa tahun terakhir, CZ menilai kenaikan harga aset tidak selalu berarti mampu menjadi pelindung terhadap inflasi.

Pandangan tersebut sejalan dengan proyeksi yang pernah ia sampaikan dalam sebuah wawancara pada awal bulan ini. Saat itu, CZ memperkirakan harga Bitcoin berpotensi mencapai US$ 1 juta pada 2033.

Proyeksi tersebut didasarkan pada pola siklus kenaikan harga Bitcoin sebelumnya, yang umumnya meningkat tiga hingga lima kali lipat dalam setiap siklus. Menurutnya, siklus terakhir hanya mencatat kenaikan sekitar dua kali lipat karena dipengaruhi kondisi makroekonomi serta derasnya aliran modal ke perusahaan-perusahaan AI.

"Kita masih belum mencapai titik jenuh. Permintaan terhadap Bitcoin maupun aset kripto secara umum masih bisa meningkat secara signifikan."

Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 63.000, atau sekitar 50 persen di bawah rekor harga tertingginya. Meski demikian, CZ menilai siklus pertumbuhan Bitcoin belum berakhir dan tetap optimistis aset kripto terbesar di dunia itu masih memiliki potensi kenaikan dalam jangka panjang.