Harga Bitcoin Rontok Tersengat Ancaman Shutdown Pemerintah AS

Sentimen ini menekan harga bitcoin (BTC) dan kripto lainnya menjelang akhir pekan ini. Berikut sentimen yang membayangi harga kripto kapitalisasi pasar terbesar

Diterbitkan 30 Januari 2026, 16:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga bitcoin (BTC) tertekan pada perdagangan Jumat sore, (30/1/2026) pukul 16.18 WIB. Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini dinilai turun ke level terendah seiring kombinasi risiko geopolitik, dan shutdown pemerintah Amerika Serikat (AS) dan makro ekonomi.

Berdasarkan data Coinmarketcap.com, harga bitcoin (BTC) turun 6,22% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga BTC merosot 7,39%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 82.425,16 atau Rp 1,38 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.790).

Sementara itu, harga Ethereum (ETH) terpangkas 7,44% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga ETH merosot 6,88%. Kini, harga Ethereum berada di posisi USD 2.725 atau Rp 45,74 juta. Kapitalisasi pasar kripto terpangkas 5,89% menjadi USD 2,81 triliun atau Rp 47.167 triliun.

Adapun pasar kripto dalam tekanan dengan bitcoin jatuh di bawah USD 83.388, level terendah sejak November. Altcoin utama seperti Ethereum, solana dan dogecoin melemah lebih dari 7%. Financial Expert Ajaib, Panji Yudha menuturkan, hal itu menunjukkan sensitivitas kripto terhadap sentimen risk-off global.

Selain itu, ia mengatakan, likuidasi di pasar aset kripto meningkat tajam seiring penurunan harga, dengan lebih dari USD 1 miliar posisi terhapus dalam 24 jam terakhir, terdiri dari sekitar USD 923 juta posisi long dan USD 120 juta posisi hort, berdasarkan data Coinglass.

“Tekanan pasar dipicu oleh kombinasi risiko geopolitik dan makro, termasuk eskalasi ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran, ancaman government shutdown AS, serta cuaca musim dingin esktrem di Amerika Utara,” kata dia dalam keterangan resmi, Jumat pekan ini.

 

Investor Hindari Aset Berisiko

Ia mengatakan, ketidakpastian ini mendorong investor memilih likuiditas tunai dibandingkan aset berisiko. “Kondisi tersebut kembali menunjukkan bitcoin masih diperlakukan sebagai aset spekulatif saat volatilitas global meningkat,” ujar Panji.

Panji menambahkan, ancaman penghentian operasional pemerintah AS pada 31 Januari turut memperburuk sentimen. Dalam episode shutdown sebelumnya, Bitcoin tercatat terkoreksi hingga 16% seiring investor menekan eksposur risiko. Potensi terganggunya layanan pemerintah dan pembayaran federal menambah tekanan terhadap pasar keuangan secara keseluruhan.

Dari sisi institusional, arus dana Bitcoin Spot ETF masih mencatat net outflow beruntun, masing-masing sebesar -USD 147,37 juta pada 27 Januari dan -USD 19,64 juta pada 28 Januari 2026.

"Meski sempat muncul inflow tipis USD 6,84 juta di awal pekan, tekanan jual tetap dominan,” kata dia.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Metaplanet Jual Saham demi Beli Bitcoin

Sebelumnya, Metaplanet, perusahaan pengelola bitcoin di Jepang menyelesaikan penjualan saham dan waran satu tahun senilai USD 137 juta atau Rp 2,29 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.790). Langkah ini dilakukan Metaplanet untuk membeli lebih banyak bitcoin (BTC).

Mengutip Yahoo Finance, Jumat (30/1/2026), penggalangan dana itu mencakup 24.529.000 saham biasa yang baru diterbitkan dan dijual melalui alokasi pihak ketiga kepada pembeli luar negeri. Demikian disampaikan Metaplanet dalam unggahan di platform X dahulu bernama Twitter.

"Meskipun penggalangan dana ini akan mengakibatkan penjualan saham biasa perusahaan, dan mengalokasikan dana untuk akuisisi bitcoin diharapkan dapat meningkatkan kepemilikan bitcoin per saham,” kata Metaplanet dalam pengajuannya.