Bitcoin di Titik Kritis, Kebijakan Jepang Jadi Penentu Pergerakan Harga

Bitcoin memasuki fase krusial jelang keputusan suku bunga Jepang. Level teknikal dan sentimen global jadi sorotan pasar.

Diterbitkan 25 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin memasuki salah satu pekan paling sensitif dalam beberapa bulan terakhir. Pasalnya, Jepang dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada 23 Januari, yang berpotensi menjadi pemicu utama pergerakan besar aset kripto tersebut.

Saat ini, Bitcoin (BTC) sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan teknikal setelah gagal menembus area resistance penting. Kondisi ini membuat hasil kebijakan moneter Jepang berpotensi menentukan apakah pasar akan masuk ke fase koreksi lebih dalam atau justru mencatatkan kenaikan terakhir sebelum tren berbalik.

Secara teknikal, area USD 98.000 kembali terbukti menjadi tembok kuat bagi Bitcoin. Dalam pergerakan terbaru, harga BTC hanya mampu naik hingga sekitar USD 97.950 sebelum berbalik arah dan melemah.

Penolakan di level ini menegaskan bahwa minat beli mulai melemah pada valuasi tinggi. Pembeli belum mampu mengambil alih kendali pasar, sehingga risiko penurunan harga pun semakin terbuka.

Meski demikian, secara struktur jangka panjang, Bitcoin masih bergerak di atas garis tren naik utama yang telah menopang tren bullish selama bertahun-tahun. Artinya, pasar belum mengalami breakdown, tetapi sedang berada di titik penentuan yang sangat krusial.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Waspada Area USD 88.450

Level teknikal paling penting yang kini menjadi sorotan pelaku pasar adalah area USD 88.450. Garis tren naik di level ini selama ini berperan sebagai fondasi utama struktur harga Bitcoin, terutama saat terjadi koreksi di masa lalu.

Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang pemulihan harga masih terbuka. Namun, jika BTC turun dan menembus support ini secara meyakinkan, hal itu dapat menjadi konfirmasi teknikal bahwa tren turun utama telah dimulai.

Dalam skenario tersebut, pergerakan harga berpotensi berubah menjadi sideways hingga menurun, dengan target support berikutnya berada di kisaran USD 69.000. Level ini sebelumnya menjadi area penopang penting dalam struktur harga jangka menengah.

Tekanan tidak hanya datang dari sisi teknikal. Keputusan suku bunga Jepang menambah lapisan risiko baru bagi pasar. Jika Bank of Japan memutuskan menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi, yen Jepang berpotensi menguat dan likuiditas global bisa mengetat.

Kondisi tersebut kerap memicu tekanan jual pada aset berisiko, termasuk Bitcoin. Dengan harga yang sudah tertahan di area resistance, sentimen makro ini dapat mempercepat pelemahan jika pasar bereaksi negatif.

 

Risiko Jangka Panjang

Meski tekanan meningkat, skenario alternatif masih terbuka. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas tren USD 88.450 dan minat beli kembali menguat, harga masih berpeluang mencatatkan kenaikan terakhir.

Dalam kondisi tersebut, Bitcoin berpotensi menguji area USD 102.000 hingga USD 110.000. Namun, secara struktur, kenaikan ini lebih dipandang sebagai fase distribusi akhir, bukan awal dari tren bullish baru yang berkelanjutan.

Risiko jangka panjang juga perlu diperhatikan. Jika tren turun benar-benar berkembang, grafik menunjukkan potensi koreksi yang jauh lebih dalam. Garis tren naik jangka panjang sejak 2018 berada di kisaran USD 49.000–USD 52.000, yang berpotensi menjadi dasar pasar bearish siklis jika kondisi makro global semakin memburuk.

Dengan resistance yang kembali diuji dan ketidakpastian makro meningkat, Bitcoin kini berada di zona berisiko tinggi. Kombinasi keputusan kebijakan Jepang dan level teknikal utama diperkirakan akan menentukan arah pasar, tidak hanya untuk hitungan hari, tetapi bisa berdampak lebih panjang dari sekadar satu candle mingguan.