Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia: Pentingnya Mempunyai Orang Terdekat dan Tidak Memendam Sendiri

Pentingnya mempunyai orang terdekat dan tidak memendam sendiri, berbagi cerita ke orang terdekat bisa meringankan beban pikiran. Simak alasan dan caranya di sin

Diterbitkan 08 September 2026, 13:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pentingnya mempunyai orang terdekat dan tidak memendam sendiri kalimat ini sering terdengar sederhana, tapi maknanya begitu penting, apalagi menjelang peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang jatuh setiap 10 September. Punya orang terdekat untuk berbagi cerita ternyata bukan sekadar soal curhat biasa, melainkan salah satu cara paling efektif untuk menjaga kesehatan mental tetap stabil.

Banyak orang cenderung menyimpan sendiri kekhawatiran, rasa lelah, atau tekanan hidup karena merasa itu bukan masalah besar, atau takut merepotkan orang lain. Padahal, kebiasaan memendam perasaan dalam jangka panjang justru bisa memperberat beban pikiran dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental yang lebih serius.

Pada dasarnya, berbagi cerita dengan orang tepercaya dapat membantu memproses emosi, mengurangi stres, dan mengatasi rasa sepi saat menghadapi masalah. Momentum Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia juga mengingatkan pentingnya percakapan jujur tentang perasaan. Lantas, bagaimana mekanisme ini bekerja dan dari mana kita bisa memulainya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber pada Selasa (8/9/2026).

Momentum Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia dan Ajakan "Mulai Bicara"

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia pertama kali diperingati pada 2003, digagas oleh International Association for Suicide Prevention (IASP) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Peringatan ini digelar setiap 10 September untuk mengingatkan bahwa bunuh diri sebenarnya bisa dicegah, dan bukan sesuatu yang harus dibicarakan secara sembunyi-sembunyi.

Menurut data resmi WHO, lebih dari 700 ribu orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya di seluruh dunia, dengan dampak sosial, emosional, dan ekonomi yang meluas ke keluarga maupun komunitas di sekitarnya. Tema global untuk periode 2024-2026 adalah "Changing the Narrative on Suicide", dengan ajakan aksi "Start the Conversation" atau mulai membuka percakapan.

Tema ini menekankan pentingnya bergeser dari budaya diam dan stigma menuju keterbukaan, pengertian, dan dukungan. WHO menyebut, dengan mengurangi stigma seputar kesehatan mental dan bunuh diri, masyarakat bisa menciptakan lingkungan di mana orang merasa aman untuk mencari bantuan sebelum keadaan memburuk.

Risiko di Balik Kebiasaan Memendam Perasaan Sendiri

Kebiasaan menyimpan masalah sendiri sering dianggap sebagai bentuk kekuatan atau kemandirian, padahal justru berisiko bagi kesehatan mental jangka panjang. Sejumlah terapis yang dikutip Hudson Therapy Group menjelaskan bahwa emosi yang tidak pernah disalurkan cenderung menumpuk dan membuat seseorang merasa semakin kewalahan seiring waktu.

Saat pikiran dan perasaan negatif terus dipendam tanpa ada ruang untuk diungkapkan, seseorang berisiko mengalami kecemasan berlebihan hingga gejala depresi yang makin berat. Kondisi ini diperparah jika orang tersebut merasa tidak punya siapa pun untuk diajak bicara, sehingga bebannya terasa dipikul sendirian.

Inilah salah satu alasan mengapa memiliki orang terdekat baik keluarga, sahabat, maupun pasangan begitu penting. Kehadiran mereka bukan untuk menyelesaikan semua masalah, tapi memberi ruang aman bagi seseorang untuk melepaskan tekanan yang selama ini dipendam sendirian.

Manfaat Berbagi Cerita bagi Otak dan Tubuh

Berbagi cerita bukan sekadar melegakan perasaan secara emosional, tapi juga punya dasar ilmiah yang cukup kuat. Berikut sejumlah manfaat berbagi cerita menurut penelitian dan pakar kesehatan mental:

  • Meredakan aktivitas bagian otak yang memicu rasa takut. Menurut penelitian yang dikutip Genomind, saat seseorang menuangkan perasaannya jadi kata-kata (affect labeling), area otak yang berkaitan dengan pemrosesan emosi menjadi aktif, sementara respons amigdala yang memicu rasa takut justru menurun.
  • Melepaskan hormon yang menenangkan. Riset yang dihimpun University of Birmingham menyebut berbicara dengan orang yang suportif dapat memicu pelepasan oksitosin, hormon yang berkaitan dengan rasa percaya dan kedekatan, sehingga membantu meredam stres dan kecemasan.
  • Menurunkan tingkat stres secara keseluruhan. Psychology Today mencatat bahwa berbagi cerita dan emosi negatif dengan orang yang dipercaya terbukti membantu menurunkan tingkat stres serta memperkuat daya tahan tubuh.
  • Memberi jeda dari pikiran yang berputar-putar. Saat pikiran terjebak dalam kekhawatiran yang berulang, berbicara dengan orang lain membantu menciptakan jeda dan sudut pandang baru, sehingga pola pikir negatif tidak terus berputar tanpa henti.

Kenali Tanda-Tanda Orang Terdekat Membutuhkan Dukungan

Tidak semua orang secara terang-terangan mengatakan bahwa dirinya sedang kesulitan. Karena itu, penting untuk mengenali sejumlah tanda perubahan perilaku berikut pada orang di sekitar:

  • Menarik diri dari lingkungan. Mulai jarang berkumpul dengan keluarga atau teman, menghindari interaksi sosial, atau kehilangan minat pada aktivitas yang biasa disukai.
  • Perubahan suasana hati yang signifikan. Terlihat lebih murung, mudah tersinggung, atau justru tampak sangat tenang setelah sebelumnya terlihat sangat tertekan.
  • Perubahan pola tidur dan makan. Sulit tidur, tidur berlebihan, atau perubahan nafsu makan yang cukup drastis dalam waktu singkat.
  • Mulai berbicara seolah putus asa. Melontarkan kalimat yang menyiratkan rasa lelah menjalani hidup atau merasa menjadi beban bagi orang lain.

Jika beberapa tanda ini muncul bersamaan pada orang terdekat, sebaiknya jangan diabaikan. Menanyakan kabar secara tulus dan menawarkan diri untuk mendengarkan bisa menjadi langkah awal yang sangat berarti bagi mereka.

Cara Menjadi Pendengar yang Baik untuk Orang Terdekat

Mendengarkan cerita orang lain, terutama yang sedang berat, membutuhkan cara yang tepat agar mereka benar-benar merasa didengar. Berikut beberapa hal yang bisa diterapkan menurut sejumlah psikolog:

  • Dengarkan tanpa menghakimi. Hindari memberi penilaian atau komentar yang membuat lawan bicara merasa disalahkan atas apa yang dirasakannya.
  • Jangan buru-buru memberi solusi. OpenUp menjelaskan bahwa terkadang seseorang hanya butuh didengar, bukan langsung diberi nasihat atau jalan keluar.
  • Beri ruang dan waktu yang cukup. Pastikan berbicara di tempat yang nyaman dan tidak terburu-buru, sehingga orang tersebut merasa aman untuk terbuka.
  • Tunjukkan bahwa perasaannya valid. Kalimat sederhana seperti "aku di sini untuk kamu" atau "perasaanmu wajar kok" bisa sangat berarti bagi orang yang sedang kesulitan.

Ke Mana Mencari Bantuan Jika Beban Terasa Terlalu Berat

Berbagi cerita dengan orang terdekat memang membantu, tapi ada kalanya seseorang butuh dukungan yang lebih terarah dari tenaga profesional. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan langkah berani untuk memastikan diri sendiri atau orang tercinta mendapat penanganan yang tepat.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menyediakan layanan Healing119.id, hotline kesehatan jiwa berbasis digital yang bisa diakses gratis selama 24 jam melalui telepon di nomor 119 ekstensi 8, tanpa perlu registrasi terlebih dahulu. Layanan ini menghubungkan masyarakat dengan konselor profesional secara anonim untuk memberikan dukungan psikologis awal, termasuk bagi mereka yang mendampingi keluarga atau teman yang sedang dalam tekanan.

Selain itu, konsultasi ke psikolog atau psikiater di puskesmas maupun rumah sakit terdekat juga bisa jadi langkah lanjutan jika kondisi yang dialami cukup berat. Ingat, tidak ada yang salah dengan meminta bantuan justru itulah bentuk kepedulian paling nyata terhadap diri sendiri maupun orang yang disayangi.

Tanya Jawab Seputar Pentingnya Berbagi Cerita dan Dukungan Orang Terdekat

1. Kenapa berbagi cerita bisa meringankan beban pikiran?

Menuangkan perasaan jadi kata-kata membantu otak memproses emosi dengan lebih baik, sehingga rasa cemas atau tertekan terasa lebih ringan meski masalahnya belum selesai.

2. Apa tema Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia saat ini?

Tema global 2024-2026 dari WHO dan IASP adalah "Changing the Narrative on Suicide" dengan ajakan "Start the Conversation", mendorong masyarakat mulai membuka percakapan jujur tentang kesehatan mental.

3. Bagaimana cara mengenali orang terdekat yang butuh dukungan?

Perhatikan perubahan perilaku seperti menarik diri dari lingkungan, kehilangan minat pada aktivitas yang biasa disukai, atau perubahan suasana hati yang signifikan.

4. Apa yang sebaiknya dilakukan saat mendengarkan cerita orang lain?

Dengarkan tanpa menghakimi, hindari buru-buru memberi solusi, dan tunjukkan bahwa perasaan mereka valid serta didengar.

5. Ke mana bisa mencari bantuan profesional di Indonesia?

Masyarakat bisa menghubungi layanan Healing119.id atau hotline 119 ekstensi 8 dari Kementerian Kesehatan, yang tersedia gratis untuk dukungan psikologis awal.