12 Ciri Orang yang Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain, Cara Berpikir dan Bersikap

Perbandingan sosial bisa memicu ketidakpuasan dan kecemasan. Kenali ciri orang yang sering membandingkan diri berikut ini.

Diterbitkan 19 Agustus 2026, 19:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mengenali ciri orang yang sering membandingkan diri dengan orang lain penting karena kebiasaan ini kadang berlangsung begitu otomatis hingga tidak disadari. Seseorang bisa saja terlihat biasa-biasa saja dari luar, tetapi di dalam pikirannya terus menilai pencapaian, penampilan, pekerjaan, hubungan, atau kondisi hidupnya berdasarkan apa yang dimiliki orang lain.

Membandingkan diri sebenarnya merupakan bagian alami dari kehidupan sosial. Kita menggunakan orang lain sebagai salah satu referensi untuk memahami kemampuan, posisi, atau perkembangan diri. Masalahnya muncul ketika perbandingan tersebut menjadi ukuran utama untuk menentukan apakah diri sendiri cukup baik atau tidak.

Menurut Psychology Today, teori perbandingan sosial berakar pada gagasan Leon Festinger sejak 1954. Penelitian berikutnya menunjukkan bahwa perbandingan dapat membantu seseorang termotivasi, tetapi juga dapat memunculkan ketidakpuasan, kecemburuan, rasa bersalah, hingga perilaku yang tidak sehat. Berikut beberapa ciri yang dapat terlihat pada orang yang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain, dirangkum Liputan6.com, Rabu (19/8/2026).

1. Sulit Merasa Puas dengan Pencapaian Sendiri

Salah satu tanda paling mudah dikenali adalah sulit menikmati keberhasilan pribadi. Ketika mendapatkan sesuatu yang sebenarnya patut disyukuri, orang tersebut justru segera melihat pencapaian orang lain.

Misalnya, seseorang baru mendapatkan pekerjaan yang sudah lama diinginkan. Alih-alih merasa lega dan bangga, pikirannya langsung tertuju kepada teman yang memiliki posisi lebih tinggi, gaji lebih besar, atau karier yang dianggap lebih cepat berkembang.

Akibatnya, pencapaian yang seharusnya menjadi sumber kepuasan terasa mengecil. Standar keberhasilan terus bergerak mengikuti pencapaian orang lain.

2. Sering Mengukur Harga Diri dari Pencapaian Orang Lain

Ciri orang yang sering membandingkan diri dengan orang lain berikutnya adalah kecenderungan menjadikan keberhasilan orang lain sebagai cermin untuk menentukan nilai diri.

Ketika melihat teman sukses, ia mungkin berpikir bahwa dirinya tertinggal. Saat melihat orang lain memiliki rumah lebih bagus, ia merasa kehidupannya kurang berhasil. Ketika melihat seseorang mempunyai banyak teman, ia dapat menyimpulkan bahwa dirinya tidak cukup menarik.

Pola berpikir seperti ini membuat penilaian terhadap diri menjadi sangat bergantung pada faktor eksternal. Padahal, setiap orang mempunyai kondisi, kesempatan, tujuan, sumber daya, dan perjalanan hidup yang berbeda.

3. Terlalu Sering Memperhatikan Kehidupan Orang Lain

Orang yang terbiasa membandingkan diri biasanya memiliki perhatian yang besar terhadap pencapaian orang lain. Ia mungkin mudah menyadari siapa yang baru naik jabatan, membeli rumah, menikah, memiliki kendaraan baru, membuka bisnis, atau mendapatkan penghargaan.

Perhatian tersebut tidak selalu buruk. Masalahnya muncul ketika informasi tentang orang lain terus digunakan untuk mengevaluasi diri.

Media sosial dapat memperkuat pola tersebut. Psychology Today mencatat bahwa paparan terus-menerus terhadap unggahan yang menampilkan kehidupan ideal, seperti pesta, perjalanan, pekerjaan, rumah, atau pencapaian tertentu, dapat memperburuk penilaian terhadap diri pada sebagian orang.

4. Cenderung Membandingkan Diri dengan Orang yang Dianggap Lebih Unggul

Perbandingan tidak selalu dilakukan secara seimbang. Seseorang dapat memilih orang tertentu yang dianggap lebih cantik, lebih kaya, lebih sukses, lebih pintar, atau lebih populer sebagai standar.

Akibatnya, perbandingan sejak awal sudah tidak proporsional. Ia melihat kelebihan orang lain secara jelas, tetapi tidak melihat seluruh keadaan yang berada di balik kelebihan tersebut.

Meta-analisis mengenai teori perbandingan sosial yang dirangkum dalam Psychological Bulletin menemukan bahwa orang cukup sering memilih target perbandingan yang lebih unggul dalam kondisi tertentu, dan perbandingan ke arah atas dapat berdampak pada suasana hati serta penilaian terhadap kemampuan diri.

5. Merasa Tertinggal meski Sebenarnya Sudah Berkembang

Orang yang sering membandingkan diri dapat kehilangan kemampuan untuk melihat perkembangan pribadinya secara objektif.

Contohnya, seseorang mungkin sudah mengalami kemajuan besar dalam pekerjaannya selama tiga tahun terakhir. Namun, karena melihat teman sebaya yang sudah menjadi manajer, ia merasa dirinya tidak berkembang sama sekali.

Perhatian akhirnya hanya tertuju pada jarak dengan orang lain, bukan jarak antara dirinya sekarang dan dirinya di masa lalu.

Padahal, membandingkan diri dengan versi diri sendiri di masa lalu dapat menjadi cara yang lebih sehat untuk melihat perkembangan. Perbandingan temporal semacam ini juga dikenal dalam penelitian mengenai perbandingan sosial sebagai salah satu cara manusia mengevaluasi dirinya.

6. Mudah Merasa Iri ketika Orang Lain Berhasil

Perasaan iri dapat menjadi tanda lain, terutama jika keberhasilan orang lain terasa seperti ancaman terhadap harga diri.

Alih-alih sekadar berpikir, “Saya juga ingin mencapai hal tersebut,” seseorang mungkin merasa tidak nyaman ketika melihat orang lain memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Bahkan, keberhasilan orang lain dapat membuat suasana hatinya memburuk.

Kedia dan rekan-rekannya membahas bagaimana perbandingan sosial berkaitan dengan pemrosesan penghargaan dan emosi. Dalam sejumlah penelitian yang mereka ulas, melihat orang lain memperoleh hasil yang lebih baik dapat memengaruhi respons otak terhadap hasil relatif tersebut. Mereka juga mencatat kaitan antara perbandingan dengan superioritas sosial dan perasaan iri, meskipun temuan mengenai respons emosional tertentu tidak selalu konsisten antarpenelitian.

Karena itu, rasa iri sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai karakter buruk. Yang lebih penting adalah mengenali apa yang dilakukan seseorang setelah perasaan tersebut muncul.

7. Sering Meremehkan Diri Sendiri

Perbandingan yang berlangsung terus-menerus dapat menghasilkan dialog batin yang negatif.

“Dia lebih pintar.”

“Teman-temanku sudah jauh lebih maju.”

“Kenapa hidupku tidak seperti mereka?”

“Sepertinya aku tidak sehebat orang lain.”

Jika pikiran seperti ini berulang, seseorang dapat mulai melihat dirinya hanya dari kekurangan. Keunggulan yang sebenarnya dimiliki menjadi kurang terlihat karena perhatian terus diarahkan kepada apa yang belum dicapai.

Psychology Today menjelaskan bahwa perbandingan dapat menjadi masalah ketika seseorang hanya memilih figur yang sangat unggul sebagai tolok ukur. Cara tersebut membuat gambaran tentang posisi diri menjadi tidak realistis.

8. Mudah Mengubah Tujuan karena Mengikuti Orang Lain

Orang yang sering membandingkan diri terkadang tidak lagi bertanya, “Apa yang sebenarnya saya inginkan?” Sebaliknya, ia bertanya, “Apa yang sudah dicapai orang lain?”

Akibatnya, tujuan hidup dapat berubah mengikuti lingkungan. Ketika teman membeli rumah, ia merasa harus membeli rumah. Ketika orang lain membuka bisnis, ia merasa perlu memiliki usaha. Ketika banyak orang mengejar jabatan tertentu, ia menganggap jabatan tersebut sebagai tanda keberhasilan.

Masalahnya bukan pada keinginan untuk berkembang. Masalahnya adalah ketika tujuan tersebut tidak lagi berasal dari kebutuhan dan nilai pribadi.

9. Keberhasilan Orang Lain Terasa seperti Kegagalan Diri Sendiri

Ini merupakan salah satu ciri yang cukup kuat. Seseorang dapat mengetahui bahwa keberhasilan orang lain tidak mengurangi pencapaiannya sendiri, tetapi secara emosional tetap merasakan sebaliknya.

Teman mendapatkan promosi, ia merasa gagal. Saudara menikah lebih dahulu, ia merasa tertinggal. Rekan kerja memperoleh penghargaan, ia merasa dirinya tidak kompeten.

Pola tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan mulai dipandang sebagai kompetisi dengan jumlah pemenang yang terbatas. Padahal, dalam banyak situasi, seseorang dapat berkembang tanpa harus mengalahkan orang lain.

10. Sering Mengejar Validasi dari Lingkungan

Kebiasaan membandingkan diri juga dapat terlihat melalui kebutuhan yang tinggi untuk mendapatkan pengakuan.

Seseorang mungkin merasa lebih tenang ketika mendapat pujian, jumlah pengikut meningkat, unggahannya mendapat banyak respons, atau orang lain mengakui keberhasilannya. Sebaliknya, ketika orang lain mendapatkan perhatian lebih besar, rasa percaya dirinya dapat turun.

Validasi eksternal kemudian menjadi semacam “alat ukur” harga diri. Semakin sering pola ini terjadi, semakin sulit seseorang menentukan nilai dirinya tanpa melihat reaksi orang lain.

11. Membandingkan Hal yang Tidak Sepenuhnya Seimbang

Ciri lainnya adalah membandingkan kehidupan pribadi yang lengkap dengan potongan kehidupan orang lain.

Seseorang mengetahui semua kegagalannya, kekhawatirannya, masalah keuangannya, dan kekurangannya sendiri. Namun, ketika melihat orang lain, ia hanya melihat sisi yang tampak berhasil.

Inilah yang membuat perbandingan menjadi tidak adil. Psychology Today juga menyoroti kecenderungan memilih contoh-contoh terbaik dari kehidupan orang lain sebagai standar, sehingga seseorang merasa memiliki kehidupan sosial atau pencapaian yang lebih buruk daripada kenyataan sebenarnya.

12. Perbandingan Membuat Motivasi Berubah Menjadi Tekanan

Perbandingan sebenarnya dapat memberikan dorongan. Melihat seseorang berhasil dalam bidang tertentu dapat menjadi inspirasi untuk belajar dan berkembang.

Namun, motivasi dan tekanan terasa berbeda. Motivasi membuat seseorang berpikir, “Saya ingin belajar dari dia.” Tekanan membuat seseorang berpikir, “Saya harus mengalahkan dia agar merasa cukup.”

Psychology Today menjelaskan bahwa perbandingan sosial dapat memberikan manfaat ketika digunakan untuk mengukur perkembangan atau memotivasi perbaikan diri. Namun, perbandingan juga dapat menimbulkan ketidakpuasan dan kecemburuan ketika digunakan secara tidak sehat.

Mengapa Orang Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain?

Perbandingan sosial bukan semata-mata tanda seseorang iri atau tidak percaya diri. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang menggunakan orang lain sebagai acuan untuk menilai dirinya. Ketika tidak ada ukuran objektif untuk menentukan apakah seseorang sudah cukup berhasil, misalnya dalam karier, penampilan, kehidupan sosial, atau kondisi ekonomi, orang lain dapat menjadi standar pembanding.

Penelitian Gayannée Kedia, Thomas Mussweiler, dan David E. J. Linden yang diterbitkan dalam NeuroReport menjelaskan bahwa pemikiran komparatif merupakan bagian penting dari proses kognitif sosial. Otak manusia bahkan dapat secara spontan memproses hasil yang diperoleh dengan mempertimbangkan hasil orang lain. Studi tersebut juga menunjukkan keterlibatan sistem penghargaan otak, termasuk ventral striatum, ketika seseorang memproses hasil relatif terhadap orang lain.

Artinya, membandingkan diri bukan perilaku yang selalu muncul karena seseorang sengaja ingin merendahkan dirinya sendiri. Namun, jika dilakukan terlalu sering dan hasil perbandingan selalu digunakan untuk menilai harga diri, kebiasaan tersebut dapat menjadi sumber tekanan emosional.

Tidak Semua Perbandingan Itu Buruk

Penting untuk tidak menganggap semua bentuk perbandingan sebagai sesuatu yang negatif. Manusia membutuhkan referensi untuk mengevaluasi kemampuan dan menentukan arah perkembangan.

Misalnya, melihat seseorang berhasil mengelola bisnis dapat memberikan gambaran tentang keterampilan yang perlu dipelajari. Membandingkan kemampuan olahraga dengan teman dapat mendorong seseorang berlatih lebih konsisten. Membandingkan perkembangan diri dengan kondisi beberapa tahun lalu juga dapat membantu melihat kemajuan yang sebelumnya tidak disadari.

Penelitian Kedia, Mussweiler, dan Linden menunjukkan bahwa perbandingan sosial merupakan mekanisme yang sangat umum dalam kognisi sosial. Dalam tinjauan mereka, informasi relatif bahkan dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan dan motivasi untuk menyesuaikan perilaku.

Jadi, persoalannya bukan semata-mata “membandingkan atau tidak membandingkan”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi pada diri setelah perbandingan itu dilakukan?

Jika perbandingan menghasilkan informasi yang membantu seseorang belajar, menetapkan tujuan, dan berkembang, proses tersebut dapat menjadi konstruktif. Sebaliknya, jika perbandingan terus menghasilkan rasa rendah diri, iri, cemas, atau keyakinan bahwa diri tidak pernah cukup, kebiasaan tersebut perlu diperhatikan.

Cara Mengurangi Kebiasaan Membandingkan Diri

Langkah pertama adalah menyadari pemicunya. Perhatikan kapan keinginan membandingkan diri paling sering muncul. Apakah setelah melihat media sosial, berbicara dengan orang tertentu, membaca pencapaian teman, atau ketika sedang merasa tidak percaya diri?

Setelah mengenali pemicu, ubah pertanyaan yang muncul di kepala. Daripada bertanya, “Mengapa hidup saya tidak seperti dia?”, cobalah bertanya, “Apa yang sebenarnya saya inginkan dari hidup saya?” atau “Apa satu hal yang bisa saya pelajari dari orang tersebut?”

Penting pula untuk membandingkan secara lebih realistis. Jangan hanya melihat hasil akhir seseorang tanpa mempertimbangkan proses, kondisi, kesempatan, dan konteks yang berbeda.

Psychology Today menyarankan untuk mengenali orang atau situasi yang memicu perbandingan menyakitkan, memperkuat rasa syukur terhadap hal-hal baik dalam kehidupan sendiri, dan menggunakan kekaguman terhadap orang lain secara lebih bermakna.

Pada akhirnya, tujuan bukan membuat diri tidak pernah membandingkan diri dengan siapa pun. Tujuannya adalah agar perbandingan tidak mengambil alih cara kita menilai diri sendiri. Kehidupan orang lain dapat menjadi sumber inspirasi, tetapi tidak harus menjadi penggaris untuk menentukan apakah kehidupan kita sudah cukup baik.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Membandingkan Diri Sendiri

1. Apakah sering membandingkan diri dengan orang lain berarti memiliki rasa percaya diri yang rendah?

Tidak selalu. Perbandingan sosial merupakan bagian normal dari cara manusia memahami diri dan lingkungan. Namun, jika perbandingan hampir selalu berakhir dengan perasaan rendah diri, tidak berharga, atau tidak mampu, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa penilaian terhadap diri terlalu bergantung pada standar eksternal.

2. Mengapa media sosial membuat seseorang lebih sering membandingkan diri?

Media sosial menghadirkan banyak informasi mengenai kehidupan orang lain dalam waktu singkat. Masalahnya, konten yang terlihat biasanya merupakan bagian kehidupan yang telah dipilih dan ditampilkan, bukan gambaran keseluruhan. Psychology Today mencatat bahwa paparan terhadap berbagai gambaran kehidupan yang tampak ideal dapat memperkuat kecenderungan perbandingan pada sebagian orang.

3. Apakah membandingkan diri dengan orang lain bisa menjadi motivasi?

Bisa. Perbandingan dapat membantu seseorang mengenali kemampuan yang ingin dikembangkan dan menentukan target. Agar tetap sehat, fokus sebaiknya diarahkan pada hal yang dapat dipelajari, bukan pada kebutuhan untuk mengalahkan atau merendahkan orang lain.

4. Apa bedanya iri dan menjadikan orang lain sebagai inspirasi?

Iri cenderung membuat keberhasilan orang lain terasa mengancam atau menyakitkan, sedangkan inspirasi lebih mengarah pada keinginan mempelajari kualitas atau proses yang membuat seseorang berhasil. Namun, emosi dapat bercampur, sehingga rasa iri tidak selalu berarti seseorang memiliki niat buruk.

5. Bagaimana cara berhenti merasa tertinggal dari orang lain?

Mulailah dengan mengubah standar perbandingan. Alih-alih terus mengukur diri berdasarkan pencapaian orang lain, lihat perkembangan diri sendiri dari waktu ke waktu. Tetapkan tujuan berdasarkan kebutuhan dan nilai pribadi, batasi pemicu perbandingan yang tidak produktif, dan gunakan keberhasilan orang lain sebagai informasi atau inspirasi, bukan sebagai bukti bahwa diri sendiri gagal.