Liputan6.com, Jakarta - Uang kerap jadi sumber stres bagi banyak orang, padahal ciri orang yang pandai mengatur uang sebenarnya bisa dipelajari siapa saja. Bukan soal besar penghasilan, tapi kebiasaan kecil yang konsisten setiap hari yang membedakan orang yang tenang secara finansial.
Menurut Eric Roberge, perencana keuangan bersertifikat yang tulisannya pernah dimuat di Business Insider, orang yang benar-benar pandai mengelola uang bukanlah mereka yang tahu segalanya soal finansial, melainkan mereka yang sadar di titik mana pengetahuannya berhenti dan kapan harus bertanya pada ahli.
Lewat daftar berikut ini, kamu bisa mengecek kebiasaan mana yang sudah kamu terapkan dan mana yang masih perlu dibangun pelan-pelan. Pembahasan ini dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber media finansial internasional, Kamis (6/8/2026).
Advertisement
1. Selalu Tahu ke Mana Uangnya Pergi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314369/original/086304700_1785744426-pexels-ahsanjaya-8719575.jpg)
Orang yang jago mengatur keuangan tidak harus mencatat setiap recehan yang dikeluarkan, tapi mereka punya gambaran jelas soal arus kas bulanannya. Kebiasaan sederhana seperti mengecek mutasi rekening seminggu sekali sudah cukup membantu membentuk kesadaran ini.
Dengan mengetahui pos pengeluaran terbesar, mereka jadi lebih mudah menentukan mana kebutuhan yang wajib dipertahankan dan mana keinginan yang sebenarnya bisa ditunda. Kesadaran semacam ini juga membuat mereka tidak kaget saat tanggal tua tiba, karena sejak awal bulan sudah punya perkiraan sisa saldo yang realistis, bukan sekadar tebakan kasar semata.
Advertisement
2. Pengeluaran Tidak Otomatis Naik Saat Gaji Naik
Ini yang sering disebut sebagai jebakan "lifestyle inflation". Banyak orang begitu gajinya naik, otomatis menaikkan standar hidup: ganti mobil, sewa apartemen lebih mahal, atau makan di restoran lebih sering. Menurut ulasan di Times Applaud, salah satu perbedaan mendasar antara orang yang pandai mengatur uang dan yang tidak adalah pengeluaran mereka tidak ikut melonjak setiap kali penghasilan bertambah.
Selisih kenaikan gaji justru dialihkan ke tabungan atau investasi. Mereka biasanya menetapkan persentase tetap dari kenaikan gaji untuk langsung dipindahkan ke rekening terpisah sebelum sempat terpakai untuk kebutuhan gaya hidup. Cara ini membuat standar hidup naik secara bertahap dan terkontrol, bukan melonjak drastis hanya karena ada tambahan penghasilan yang sebenarnya belum tentu stabil di masa depan.
3. Tidak Gengsi Membeli Barang Bekas atau yang Awet
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4979533/original/009815300_1729829777-fashion-preloved.jpg)
Melansir Business Insider, orang yang benar-benar mapan secara finansial cenderung memilih kendaraan berusia lima hingga sepuluh tahun ketimbang mobil baru. Alasannya sederhana: nilai mobil baru bisa turun drastis hanya dalam setahun pertama pemakaian. Prinsip yang sama berlaku untuk barang lain, mereka lebih mengutamakan kualitas dan daya tahan dibanding sekadar gengsi memiliki barang baru.
Mereka lebih senang menghitung biaya kepemilikan jangka panjang, bukan hanya harga beli di depan, sehingga sering memilih barang bekas berkualitas baik atau merek yang tahan lama meski harganya sedikit lebih mahal. Pola pikir ini membuat uang yang seharusnya hilang karena penyusutan nilai barang baru, bisa dialihkan untuk tabungan, investasi, atau kebutuhan yang jauh lebih produktif.
Advertisement
4. Tidak Menganggap Uang Sebagai Topik Tabu
Sebagian orang merasa tidak sopan membicarakan gaji, tabungan, atau utang. Namun menurut pembahasan di laman Barnaby Cecil, orang yang pandai mengelola keuangan justru terbuka membahas topik ini, baik dengan pasangan, keluarga, maupun profesional. Keterbukaan ini membantu mereka mendapat masukan, menghindari kesalahpahaman finansial dalam rumah tangga, dan lebih cepat mengambil keputusan penting seperti membeli rumah atau memulai investasi bersama.
Mereka juga tidak canggung bertanya soal gaji atau strategi menabung kepada teman maupun kolega, karena menganggap informasi semacam itu justru berguna sebagai bahan perbandingan. Sikap terbuka ini membuat mereka lebih cepat sadar jika ada kebiasaan finansial yang keliru, sekaligus lebih percaya diri saat harus bernegosiasi soal gaji atau harga.
5. Berani Mendelegasikan Tugas ke Profesional
Alih-alih mengerjakan semuanya sendiri demi berhemat, orang yang mapan secara finansial memahami nilai waktu. Barnaby Cecil mencatat, mereka tidak ragu menyewa jasa akuntan, konsultan pajak, atau asisten untuk pekerjaan yang bukan keahliannya. Waktu yang dihemat bisa dialihkan untuk hal yang lebih produktif, sementara uang yang dikeluarkan untuk jasa profesional tetap berputar dan memberi manfaat jangka panjang.
Mereka menyadari bahwa mencoba mengerjakan semua hal sendirian, termasuk urusan yang bukan bidangnya, justru berisiko menimbulkan kesalahan yang biayanya lebih besar di kemudian hari. Dengan mendelegasikan tugas teknis kepada ahlinya, waktu dan energi yang tersisa bisa difokuskan untuk mengembangkan penghasilan utama atau menjaga kualitas hidup dan hubungan dengan keluarga.
Advertisement
6. Tidak Menyalahkan Diri untuk Pembelian Impulsif Sesekali
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293007/original/000099200_1783668435-pexels-gustavo-fring-5622857.jpg)
Sehat secara finansial bukan berarti anti belanja. Orang yang pandai mengatur uang tetap sesekali membeli sesuatu secara spontan tanpa merasa bersalah berlebihan, tapi mereka tahu kapan kebiasaan itu harus dihentikan sebelum jadi pola yang merusak anggaran bulanan. Keseimbangan antara menikmati hasil kerja dan tetap disiplin inilah yang membuat mereka bertahan jangka panjang tanpa merasa tertekan oleh aturan finansial yang terlalu ketat.
Mereka memahami bahwa anggaran yang terlalu kaku justru rentan gagal karena terasa menyiksa, sehingga tetap menyisihkan sedikit ruang untuk kesenangan tanpa mengorbankan target menabung. Kuncinya ada pada evaluasi rutin, bila pembelian impulsif mulai terlalu sering terjadi, mereka segera menyadarinya dan kembali menata ulang prioritas pengeluaran sebelum kondisi keuangan benar-benar terganggu.
7. Punya Rencana dan Terus Belajar
Mereka rutin mengevaluasi tujuan finansial, entah itu dana darurat, dana pensiun, atau target investasi, lalu menyesuaikannya seiring perubahan hidup seperti pindah kerja, menikah, atau punya anak. Sikap ini membuat mereka tidak mudah panik saat kondisi ekonomi berubah, karena sudah terbiasa meninjau ulang rencana secara berkala alih-alih membiarkannya statis bertahun-tahun.
Mereka juga aktif mencari informasi baru, baik lewat buku, seminar, maupun diskusi dengan perencana keuangan, karena menyadari bahwa strategi yang cocok di satu fase hidup belum tentu masih relevan di fase berikutnya.
Advertisement
8. Mengenali Kepribadian Finansialnya Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313070/original/023339100_1785576103-IMG_2336.jpeg)
Melansir CNBC soal "kepribadian uang" menyebut ada tipe yang gemar memberi, ada pula yang gampang tergoda belanja demi kesenangan sesaat sehingga rawan terjebak utang. Orang yang pandai mengatur uang biasanya sudah menyadari tipe kepribadian finansialnya sendiri, sehingga mereka bisa mengantisipasi kelemahan tersebut, misalnya dengan membuat aturan "jeda 24 jam" sebelum membeli barang di luar rencana.
Dengan mengenali kecenderungan pribadi, mereka juga lebih mudah memilih strategi yang cocok, misalnya tipe yang gampang tergoda belanja bisa mengaktifkan fitur pemisahan rekening tabungan otomatis. Sementara tipe yang terlalu pelit pada diri sendiri bisa belajar mengalokasikan sebagian dana untuk kebutuhan yang mendukung kesehatan mental dan kebahagiaan jangka panjang.
Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Pandai Mengatur Uang
Apakah orang yang pandai mengatur uang pasti punya gaji besar?
Tidak selalu. Banyak orang berpenghasilan besar tapi tetap boros, sementara orang bergaji standar bisa hidup nyaman karena disiplin mengelola pengeluaran dan menabung secara konsisten.
Bagaimana cara mulai melatih kebiasaan mengatur uang dengan baik?
Langkah paling mudah adalah mulai mencatat atau memantau pengeluaran bulanan secara rutin, lalu menetapkan target sederhana seperti menyisihkan sebagian gaji sebelum digunakan untuk hal lain.
Apakah wajar sesekali melakukan pembelian impulsif?
Wajar, selama tidak terjadi terus-menerus. Yang penting adalah menyadari pola tersebut dan segera menyeimbangkannya lagi agar tidak mengganggu anggaran bulanan secara keseluruhan.
Kenapa penting membicarakan uang secara terbuka dengan pasangan atau keluarga?
Keterbukaan soal uang membantu menghindari kesalahpahaman, mempermudah perencanaan keuangan bersama, dan membuat keputusan besar seperti membeli rumah lebih mudah disepakati kedua pihak.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8820855/original/024125800_1782912081-gedung_ditjen_pajak-1_Juli_2026.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296017/original/033910000_1784000101-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T103335.623.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316388/original/075760100_1785924799-cek_fakta_-_cpns_kementerian_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4281778/original/026398200_1672848072-closeup-shot-entrepreneur-working-from-home-his-personal-finances-savings.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5111546/original/094274700_1738052316-1738044387934_apa-itu-impulsif.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311076/original/067563800_1785387094-8NYGfOwvKlxUTjDY52ro5FS6yPZbZGJkJkeL4uWi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312085/original/042581000_1785479477-kelly-sikkema-3-Tc_5LROrM-unsplash.jpg)