Ruang Hijau Multifungsi di Sekolah Semarang, Solusi Ketangguhan Iklim

Inisiatif ini berhasil mengintegrasikan pendidikan perubahan iklim dengan perancangan ruang terbuka hijau multifungsi.

Diterbitkan 13 Juni 2025, 19:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Semarang Setelah berjalan selama sembilan bulan, program OASIS Schoolyards Semarang telah menciptakan perubahan signifikan di lima sekolah dasar dan madrasah. Inisiatif ini berhasil mengintegrasikan pendidikan perubahan iklim dengan perancangan ruang terbuka hijau multifungsi.

Tidak hanya menjadi tempat bermain dan belajar, ruang-ruang ini juga dirancang untuk meningkatkan ketangguhan sekolah menghadapi risiko banjir rob dan gelombang panas, sekaligus menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.

Diluncurkan pada September 2024, program ini merupakan hasil kerja sama antara PT Global Dairi Alami (MilkLife), Resilient Cities Network (R-Cities), dan Pemerintah Kota Semarang. Lima institusi pendidikan yang terlibat—MI Darul Ulum, MI Mirfa’ul Ulum, SDN Gebangsari 01, SDN Kaligawe, dan SD Marsudirini Gedangan—mendapatkan pendampingan melalui pelatihan guru, pengembangan kurikulum, serta desain ruang terbuka hijau berbasis solusi alam bersama siswa dan orang tua.

Capaian luar biasa program ini dipamerkan dalam acara Penutupan & Showcase OASIS Schoolyards Semarang di Balai Kota Semarang, Kamis (12/6). Sekitar 96 pendidik, perwakilan pemerintah, dan pegiat filantropi hadir untuk melihat hasil nyata dari inisiatif ini.

Beberapa pencapaian utama termasuk peningkatan kapasitas guru—82% melaporkan peningkatan dalam metode pengajaran perubahan iklim—dan pengembangan 29 modul ajar yang kini diterapkan di sekolah-sekolah tersebut.

 

Model pendidikan perubahan iklim

Ananto Kusuma Seta, Koordinator Nasional Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan UNESCO Indonesia, menyebut program ini sebagai model sukses pendidikan perubahan iklim.

“Saat ini, 73% sekolah di Indonesia berada di wilayah rawan banjir. Program seperti ini menjadikan sekolah sebagai laboratorium hidup untuk keberlanjutan, menghubungkan siswa dengan masyarakat sekitarnya,” ujar Ananto.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, Budi Prakosa. Ia menekankan bahwa sekolah bisa menjadi oase di tengah kota yang padat sekaligus pelopor pendidikan lingkungan.

“Kami berharap perubahan ini dapat diperluas, tidak hanya di Semarang tetapi juga ke kota-kota lain,” katanya.

 

Inspirasi menghadapi perubahan iklim

Vanessa Ingrid Pamela, Group Brand Head MilkLife, juga optimis dengan dampak program ini. “Tindakan kecil seperti ini, jika menjadi budaya bersama, dapat membawa perubahan besar. Kami berharap program ini menjadi inspirasi bagi lebih banyak pihak untuk turut berkontribusi,” ujarnya.

Dengan kolaborasi lintas sektor dan pendekatan berbasis komunitas, OASIS Schoolyards Semarang tidak hanya menjadi solusi lokal, tetapi juga inspirasi global dalam menghadapi perubahan iklim.