Sukses

Ahli: Polusi Udara Buat Paru-Paru Anda Menua Dua Tahun Lebih Cepat

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah studi menemukan paparan polutan dalam asap knalpot dan emisi pabrik memicu peningkatan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). PPOK adalah kondisi yan tak dapat disembuhkan yang terjadi ketika parau-paru meradang, rusak, dan menyempit.

Seiring waktu, pasien dapat mengalami sesak napas, sering menderita infeksi dada, dan bahkan batuk parah. Studi ini juga menemukan orang-orang yang berpenghasilan rendah lebih berisiko daripada rekan-rekan mereka yang lebih kaya bahkan ketika paparan polusi udara yang mendapatkan adalah sama.

Penelitian ini dilakukan oleh Universitas Leicester dan dipimpin oleh Profesor Anna Hansell dari Pusat Kesehatan dan Keberlanjutan Lingkungan Inggris.

"Dalam salah satu analisis terbesar hingga saat ini kami menemukan paparan polusi udara luar berhubungan langsung dengan fungsi paru-paru yang lebih rendah dan peningkatan prevalensi PPOK," kata Hansell seperti melansir dari Daily Mail.

 

2 dari 5 halaman

Berefek lebih besar pada warga berpenghasilan rendah

Dalam penelitian itu ditemukan bahwa orang yang terpapar tingkat polutan tinggi, memiliki fungsi paru yang lebih rendah setara dengan setidaknya satu tahun penuaan. Yang mengkhawatirkan, efeknya lebih besar pada orang-orang dengan penghasilan rendah.

"Kami menilai lebih dari 300.000 orang menggunakan data dari studi Biobank di Inggris untuk memeriksa apakah paparan polusi udara dikaitkan dengan perubahan fungsi paru-paru dan memengaruhi risiko partisipan terkena PPOK."

 

3 dari 5 halaman

Menganalisis berbagai polutan

Para peneliti menganalisis berbagai polutan termasuk NO2 dan partikel kecil yang disebut PM10s dan PM2.5s yang dilepaskan dari knalpot kendaraan dan emisi pabrik. Ini memasuki paru-paru dan aliran darah melalui hidung.

Para peneliti juga menggunakan model yang divalidasi untuk memperkirakan jumlah polusi udara yang terpapar oleh para peserta di rumah mereka ketika mereka mendaftar untuk studi antara 2006 dan 2010. Para peserta yang berusia 40-69 tahun juga menjawab kueisoner kesehatan dan mengukur paru-paru mereka melalui spirometri.

4 dari 5 halaman

Kemiskinan pengaruhi kesehatan paru-paru

Perangkat ini bisa mengukur seberapa banyak udara yang bisa dihembuskan dalam satu napas yang dipaksakan. Diklaim lingkungan tempat tinggal yang buruk, pola makan yang buruk, akses ke layanan kesehatan yang buruk atau efek jangka panjang dari kemiskinan turut memengaruhi kesehatan paru-paru.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Kualitas Udara di Jakarta Tidak Sehat
Artikel Selanjutnya
HEADLINE: Jakarta Masuk Daftar Kota dengan Polusi Udara Terburuk Dunia, Solusinya?