Liputan6.com, Jakarta Bicara tentang kids jaman now saat ini, pasti banyak sekali yang bisa kita diskusikan. Salah satunya adalah film pendek karya mahasiswa International Design School, yang pada hari Sabtu, 27 Januari 2018 kemarin, melakukan screening film yang dibuka untuk umum.
Bertempat di Kinosaurus, Kemang, Jakarta Selatan, dua film pendek karya mahasiswa ini diluncurkan. Bertemakan Mimpi Dalam Obsesi, dua film ini menceritakan tentang seorang anak yang terobsesi ingin menggapai cita-citanya, namun sang orang tua melarang keras dan harus mengikutin apa yang ia inginkan untuk anaknya. Â
Dua film ini masing-masing memiliki judul yang berbeda, yang pertama berjudul Sound of Wishes dan kedua berjudul Anak Lanang. Tapi jangan salah, meski dua film ini mengambil konsep yang sama, namun pengemasannya sangat jauh berbeda.
Advertisement
Dominic Brian, selaku produser dari film Sound of Wishes mengatakan, “Tema ‘Mimpi dalam Obsesi’ dipilih karena kedua karakter utama dalam film Anak lanang dan Sound of Wishes, sama-sama memiliki mimpi yang menjadi obsesi mereka, namun obsesi tersebut dihalangi oleh kedua orang tuanya. Makanya, saya dan tim sepakat memilih tema tersebut."
Â
Mengambil Konsep Film Musikal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1848788/original/067427200_1517203258-Mimpi_dalam_Obsesi_Poster.jpg)
Tidak hanya itu, konsep di film Sound of Wishes juga sangat menarik, karena mengambil konsep film musikal. Dengan menggandeng Tata Ginting sebagai Ayah Siena, dan Ari Tulang sebagai penata koreografi, film ini sukses karena bisa berhasil memberikan pesan yang baik untuk penonton.
Film Anak Lanang yang digagas oleh Minggar Panji & Ezra Mahawaditra menggabungkan budaya tari remo dengan drama orang tua dan anak, mengambil sudut pandang dalam polemik kehidupan daerah terpencil di Jawa Timur. “Mengapa saya dan Minggar (Sutradara Film Anak Lanang) tertarik untuk mengangkat konflik seputar anak dan orang tua, karena isu tersebut sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi, ada unsur budaya yang begitu kental dalam film ini," ujar Ezra Mahawaditra, produser film ini.
Â
Advertisement
Film adalah Karya yang Berharga
Sebelum ditayangkan untuk umum di Kinosaurus Kemang, dua film ini telah melakukan screening secara private dalam bentuk Graduation di CGV Grand Indonesia pada tanggal 17 Januari lalu. Diketahui, para mahasiswa ini membuat karya berupa film sebagai syarat dari sekolah mereka di International Design School, untuk bisa lulus dan mendapatkan sertifikat.
Tidak hanya menjadi syarat lulus, mereka menyebut karya ini juga sebagai portofolio dan pengalaman yang sangat berharga.
Tertarik menyaksikannya?Saksikan video pilihan di bawah ini:
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329565/original/022781600_1787284896-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-21T105934.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5180937/original/006715500_1743849574-20250405-Monas-HER_7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6591576/original/029814400_1779430905-cek_fakta_-_sertifikat_tanah_gratis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)