Final Piala Dunia 2026 Disisipi Halftime Show ala Super Bowl: Tradisi 90 Menit Diuji

Final Piala Dunia 2026 akan menampilkan halftime show ala Super Bowl, menguji tradisi 90 menit dan memicu pro-kontra di kalangan penggemar sepak bola global.

OlehThomas
Diterbitkan 20 April 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Keputusan untuk menyisipkan halftime show ini terinspirasi dari popularitas besar pertunjukan serupa di ajang olahraga Amerika, khususnya Super Bowl NFL, dengan tujuan utama untuk meningkatkan daya tarik hiburan global Piala Dunia. FIFA juga berencana untuk "mengambil alih" Times Square di New York City selama akhir pekan final, melengkapi acara dengan festival penggemar dan berbagai hiburan lainnya, memperkuat pengalaman bagi para penonton.

Dukungan dan Peluang Baru

Penyisipan halftime show di Final Piala Dunia 2026 diharapkan dapat membawa sejumlah keuntungan signifikan, terutama dalam meningkatkan daya tarik dan jangkauan global turnamen. Langkah ini dipandang sebagai strategi untuk menarik demografi penonton yang lebih muda dan berorientasi hiburan, sekaligus memperluas jangkauan budaya acara. Infantino sendiri menyebutnya sebagai "momen bersejarah" dan "pertunjukan yang sesuai dengan acara olahraga terbesar di dunia", yang menyatukan olahraga nomor satu di dunia dengan upaya Global Citizen mengakhiri kemiskinan ekstrem.

Dari sisi komersial, inovasi ini menciptakan peluang pendapatan premium baru yang menjanjikan. FIFA dapat menawarkan paket sponsor khusus untuk program halftime, mengintegrasikan merek dengan kemitraan artis, serta memperluas aktivasi digital dan media sosial. Hal ini juga memberikan konten premium kepada penyiar, yang dapat membantu mengatasi fragmentasi audiens di era media modern dan menjaga relevansi turnamen di pasar global yang kompetitif.

Mengingat Piala Dunia 2026 diselenggarakan di Amerika Utara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, adopsi gaya hiburan yang familiar di NFL dan Super Bowl dianggap selaras dengan model olahraga-hiburan yang dominan di wilayah tersebut. Ini adalah upaya adaptasi FIFA untuk merangkul budaya tuan rumah dan memaksimalkan potensi pasar yang ada, sembari tetap mempertahankan identitas globalnya.

Gelombang Penolakan dan Kekhawatiran

Meskipun ada potensi keuntungan, keputusan FIFA ini menuai kritik keras dari banyak penggemar dan tradisionalis sepak bola yang berpendapat bahwa langkah ini merusak esensi permainan. Mereka khawatir bahwa penambahan halftime show akan mengganggu alur pertandingan dan melanggar tradisi sepak bola yang telah lama dipegang. Komentar di media sosial menunjukkan penolakan yang kuat, dengan banyak yang menyatakan "Tidak ada yang menginginkan ini" dan "Mereka membunuh permainan".

Salah satu kekhawatiran utama adalah dampak pada pemain dan jalannya pertandingan. Jeda paruh waktu dalam sepak bola biasanya hanya 15 menit, sementara halftime show Super Bowl dapat berlangsung sekitar 30 menit. Perpanjangan jeda ini dikhawatirkan dapat membuat pemain kedinginan, mengganggu ritme permainan, dan memengaruhi performa mereka secara signifikan. Selain itu, ada juga kekhawatiran mengenai kondisi lapangan yang berpotensi terpengaruh oleh pemasangan dan pembongkaran panggung yang masif.

Kritikus juga berpendapat bahwa FIFA semakin memprioritaskan hiburan dan kepentingan sponsor korporat dibandingkan fokus pada inti olahraga itu sendiri. Ada kekhawatiran bahwa acara tersebut dapat menarik tokoh media sosial dan influencer yang tidak relevan, berpotensi menyebabkan kekacauan dan gangguan serupa insiden Salt Bae di Piala Dunia 2022. Hal ini memicu perdebatan tentang apakah FIFA masih mengutamakan semangat olahraga atau telah bergeser menjadi entitas hiburan semata.

Transformasi Piala Dunia 2026

Selain penambahan halftime show, Piala Dunia 2026 juga akan mengalami beberapa perubahan format signifikan lainnya yang bertujuan untuk memperluas skala dan jangkauan turnamen:

  • Jumlah Peserta: Turnamen ini akan menjadi yang pertama diikuti oleh 48 tim, meningkat dari 32 tim pada edisi sebelumnya.
  • Jumlah Pertandingan: Total pertandingan akan meningkat drastis dari 64 menjadi 104 pertandingan.
  • Fase Grup dan Gugur: Tim akan dibagi ke dalam 12 grup yang masing-masing berisi empat tim. Dua tim teratas dari setiap grup dan delapan tim peringkat ketiga terbaik akan lolos ke babak 32 besar, yang merupakan babak tambahan baru.
  • Durasi Turnamen: Durasi turnamen diperpanjang menjadi sekitar 39 hari.
  • Tuan Rumah: Diselenggarakan bersama oleh 16 kota di tiga negara Amerika Utara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan