Real Madrid dan Tiga Poin Penyelamat: Mengapa Xabi Alonso Belum Benar-Benar Aman di Bernabeu

Real Madrid menang 2-0 atas Sevilla, menyelamatkan posisi Xabi Alonso untuk sementara. Namun performa tim, tekanan suporter, dan sikap Perez masih jadi ancaman.

Contoh paling jelas terlihat saat kontroversi Vinicius Junior di El Clasico pada 26 Oktober. Reaksi marah sang pemain saat ditarik keluar lapangan seolah mendapat simpati dari presiden, bukan dari pelatihnya.

Sejak saat itu, hubungan kekuasaan di ruang ganti terasa timpang. Beberapa bintang besar disebut enggan sepenuhnya mengikuti instruksi detail Alonso, sebuah situasi yang menggerus wibawa pelatih di klub sebesar Madrid.

Insiden Talavera dan Sorotan ke Ruang Ganti

Masalah Madrid tidak berhenti di La Liga. Laga Copa del Rey melawan Talavera de la Reina menjadi salah satu momen paling memalukan musim ini.

Madrid unggul 2-0 di babak pertama melawan tim papan bawah kasta ketiga Spanyol. Namun mereka hampir tersingkir, dan hanya diselamatkan oleh penyelamatan krusial Andriy Lunin di menit akhir untuk menang 3-2.

Rekaman bangku cadangan yang ditayangkan acara televisi Spanyol memperlihatkan Vinicius Jr, Endrick, dan Franco Mastantuono tertawa di tengah situasi genting. Alonso terlihat tegang di pinggir lapangan, sebuah kontras yang menimbulkan pertanyaan besar soal keseriusan tim.

Tekanan Suporter dan Pemain yang Jadi Sasaran

Reaksi publik Bernabeu muncul jelas saat laga melawan Sevilla. Vinicius Junior mendapat siulan keras, terutama ketika ia diganti pada menit ke-83. Penyerang Brasil itu kini telah melewati 14 laga tanpa gol.

Bek muda Dean Huijsen juga tak luput dari kecaman. Kesalahan-kesalahan sederhana dan hilangnya kepercayaan diri membuatnya menjadi sasaran ketidakpuasan suporter.

Menariknya, kemarahan publik lebih diarahkan ke pemain ketimbang pelatih. Sebuah jajak pendapat di media Spanyol menunjukkan mayoritas suporter masih ingin Alonso bertahan, sementara pemain dinilai lebih bertanggung jawab atas performa buruk tim.

Realitas Skuad, Kelelahan, dan Jalan Terjal ke Depan

Alonso menghadapi keterbatasan nyata dalam skuadnya. Cedera di lini belakang, absennya gelandang pengatur tempo, serta kelelahan kolektif akibat padatnya kalender pertandingan menjadi kendala serius.

Dalam satu tahun kalender, Madrid memainkan 67 laga resmi, jumlah terbanyak dalam sejarah klub. Partisipasi di Piala Dunia Antarklub musim panas lalu juga memangkas waktu pramusim secara signifikan.

Situasi ini memaksa Alonso mengurangi sesi taktik dan video setelah keluhan dari pemain senior. Empat bintang utama, Kylian Mbappe, Vinicius Junior, Jude Bellingham, dan Rodrygo, kini lebih sering dimainkan bersama, meski hal itu mengorbankan kolektivitas permainan.

Dengan kecilnya kemungkinan tambahan pemain pada bursa Januari, jeda musim dingin menjadi momen krusial bagi Alonso. Ia harus menemukan cara terbaik memaksimalkan pemain yang tersedia dan menyampaikan ide-idenya dengan lebih efektif.

 
 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Copy Link
Batalkan