Manchester City Tersandera Erling Haaland: Saat Sang Mesin Gol Jadi Titik Lemah

Erling Haaland kembali gagal mencetak gol dan Manchester City tumbang dari Aston Villa. Ketergantungan pada sang striker kini jadi ancaman serius bagi perburuan gelar.

Diterbitkan 28 Oktober 2025, 10:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Musim Premier League 2025 berjalan penuh kejutan, dan Manchester City kini tampak seperti tim yang kehilangan sentuhan ajaibnya. Kekalahan 0-1 dari Aston Villa di Villa Park bukan hanya membuat mereka kehilangan tiga poin, tapi juga membuka celah besar dalam sistem yang selama ini nyaris sempurna.

Pep Guardiola menyebut timnya hanya kurang penyelesaian akhir. Namun kenyataannya, City terlihat tumpul, monoton, dan terlalu bergantung pada satu soso, Erling Haaland. Ketika sang striker Norwegia gagal mencetak gol, City tak lagi menakutkan.

Aston Villa menunjukkan cara paling efektif untuk menaklukkan sang juara bertahan: matikan Haaland, dan City pun kehilangan arah. Dengan hasil ini, The Citizens menelan kekalahan ketiga mereka musim ini, sebuah sinyal peringatan dini dalam persaingan menuju gelar.

Kini, muncul pertanyaan besar yang mulai menghantui Etihad Stadium: Apakah Manchester City mampu bersaing tanpa selalu bergantung pada mesin gol mereka?

Villa Park, Panggung Strategi yang Menjinakkan City

Laga di Villa Park memperlihatkan bagaimana Aston Villa mampu memainkan permainan cerdas nan disiplin. Unai Emery mengatur lini tengah untuk menekan setiap pergerakan City, sementara John McGinn tampil luar biasa dalam merusak ritme permainan lawan.

City mencoba berbagai variasi serangan, operan pendek, serangan melebar, hingga kombinasi cepat antara Phil Foden dan Savinho, namun semua gagal menembus blok kokoh Villa.

Bahkan setelah tertinggal, mereka tetap terperangkap dalam pola yang sama, yaitu menguasai bola tanpa menciptakan peluang berarti.

Gol tunggal Matty Cash yang lahir dari skema bola mati menjadi bukti kelengahan City di momen krusial. Setelah itu, pertandingan berubah menjadi permainan kucing dan tikus di mana Villa mampu menahan City tanpa harus banyak menekan.

Ketika Haaland Terhenti, City Kehilangan Identitas

Semua bukti di lapangan menunjukkan satu hal: hentikan Haaland, maka City berhenti. Dua peluang emas yang didapatnya, satu lewat umpan terobosan Bernardo Silva, satu lagi dari sundulan di akhir laga, dua-duanya terlalu mudah ditepis Emiliano Martinez.

Sepanjang pertandingan, Haaland kesulitan mendapatkan ruang. Villa menjaga garis belakang rapat dan memotong suplai bola dari Kevin De Bruyne maupun Rodri. Setelah Villa unggul, ruang yang biasanya tersedia bagi sang striker benar-benar menghilang.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Di saat seperti itu, City butuh kreativitas dari lini kedua. Tapi Phil Foden, Savinho, dan pemain pengganti seperti Jeremy Doku tak mampu menciptakan perbedaan. Martinez bahkan hampir tak perlu membuat penyelamatan sulit, meski City mencatat 18 tembakan dan 53 persen penguasaan bola. Guardiola mengakui kelemahan timnya. “Kami hanya kurang finishing. Seharusnya bisa menempatkan bola ke gawang,” ujarnya. Namun pernyataan itu gagal menyentuh akar masalah, bahwa Man City kini kehilangan kreativitas dan ketajaman kolektif yang dulu jadi ciri khas mereka.

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan