Manchester City Tersandera Erling Haaland: Saat Sang Mesin Gol Jadi Titik Lemah

Erling Haaland kembali gagal mencetak gol dan Manchester City tumbang dari Aston Villa. Ketergantungan pada sang striker kini jadi ancaman serius bagi perburuan gelar.

Diterbitkan 28 Oktober 2025, 10:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Di saat seperti itu, City butuh kreativitas dari lini kedua. Tapi Phil Foden, Savinho, dan pemain pengganti seperti Jeremy Doku tak mampu menciptakan perbedaan.

Martinez bahkan hampir tak perlu membuat penyelamatan sulit, meski City mencatat 18 tembakan dan 53 persen penguasaan bola.

Guardiola mengakui kelemahan timnya. “Kami hanya kurang finishing. Seharusnya bisa menempatkan bola ke gawang,” ujarnya. Namun pernyataan itu gagal menyentuh akar masalah, bahwa Man City kini kehilangan kreativitas dan ketajaman kolektif yang dulu jadi ciri khas mereka.

Prediktabilitas dan Kurangnya Variasi Taktis

Masalah Manchester City bukan sekadar soal peluang yang terbuang. Pola permainan mereka kini mudah ditebak.

Saat menghadapi tim dengan pertahanan solid seperti Villa, City terlihat kehabisan ide. Tak ada variasi serangan, tak ada kejutan dari lini tengah, dan bahkan tak ada perubahan ritme ketika situasi buntu.

Guardiola tetap memuji performa anak asuhnya. “Kami bermain mengesankan. Di babak kedua kami bisa mengontrol permainan di tengah,” katanya.

Meski begitu, pengakuan itu terasa defensif, mengingat kenyataan bahwa semua dominasi mereka tak menghasilkan hasil konkret.

Guardiola dan Ancaman Ketergantungan

Guardiola mungkin enggan mengakui, tapi Manchester City kini tengah terjebak dalam jebakan yang diciptakannya sendir, yaitu sistem yang terlalu berpusat pada Haaland. Ketika sang striker tidak mencetak gol, City seperti kehilangan jati diri.

Musim lalu, Haaland menjadi mesin pencetak gol yang luar biasa. Namun, ketergantungan berlebih terhadap produktivitasnya kini membuat City rentan. Lini tengah yang dulu kreatif kini lebih sibuk memasok bola kepadanya, bukan menciptakan variasi serangan.

Guardiola menegaskan bahwa perjalanan musim masih panjang. “Liga ini sangat panjang, kami akan terus berusaha memperbaiki diri,” katanya. Masalahnya, bila City terus menunjukkan pola yang sama, Arsenal dan tim-tim lain bisa mengambil keuntungan dari prediktabilitas mereka.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan