AS Roma vs Inter Milan: Fokus, Mentalitas, dan Respek Chivu untuk Lawan

Cristian Chivu tahu betul apa arti konsistensi bagi Inter Milan. Setelah jeda internasional, pelatih asal Rumania itu menegaskan bahwa timnya harus melanjutkan performa impresif saat menghadapi AS Roma.

Diterbitkan 17 Oktober 2025, 23:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Pio Esposito dan Seni Mengelola Tekanan

Performa gemilang Pio Esposito dalam dua bulan terakhir menjadi perbincangan hangat di Italia. Namun, Chivu memilih untuk menjaga keseimbangan antara kebanggaan dan kewaspadaan terhadap ekspektasi berlebih.

“Dia bermain untuk Inter dan Italia – tekanan adalah bagian dari permainan,” ujarnya. “Perbandingan itu mengganggu karena tidak masuk akal. Pio punya kepribadian dan mentalitas hebat, tapi dia harus dikelola dengan hati-hati.”

Bagi Chivu, kesalahan adalah bagian dari proses tumbuh. “Dia sudah berada di level internasional, tapi dia harus menerima kesalahan dengan keinginan untuk memperbaiki diri,” jelasnya. “Dia ambisius dan terus belajar setiap hari.”

Inspirasi dari Gasperini

Bertemu kembali dengan Gasperini di pinggir lapangan membuat Chivu bernostalgia. Pelatih berpengalaman itu sempat menanganinya di Inter pada 2011. Meski singkat, pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam.

“Walau waktunya singkat, dia meninggalkan kesan kuat,” kenang Chivu. “Di Bergamo dia berinovasi dalam sepak bola; semua pelatih muda terinspirasi oleh filosofinya. Saya selalu mengaguminya – sama seperti dulu.”

Chivu juga menyinggung sistem 3-4-2-1 yang diperkenalkan Gasperini. “Latihan sangat intens, dan saya merasa dalam kondisi fisik terbaik sepanjang karier,” katanya. “Sayangnya, hasil tak mendukung dan dia dipecat terlalu cepat. Namun, sekarang, dia telah membuktikan nilainya.”

Dari Gasperini, Chivu belajar pentingnya keberanian dan inovasi. “Keberaniannya membawanya sukses di Eropa. Metodenya unik, tapi kita semua bisa belajar darinya,” ucapnya. “Kita harus mencuri hal-hal baik dari para pelatih hebat.”

Kembali ke Roma, Kembali ke Akar

Pertandingan ini juga punya makna emosional bagi Chivu. Ia kembali ke kota yang menjadi titik awal kariernya di Italia. “Saya hidup empat tahun penting di sana,” ujarnya. “Saya datang di usia 22 tahun, bermain di liga terbaik dunia, dan bekerja dengan pelatih hebat seperti Capello, Spalletti, Voeller, Prandelli, Conti, Delneri.”

Ia mengakui bahwa masa-masa itu membentuknya sebagai pemain dan pribadi. “Saya jatuh cinta pada Italia. Negara ini memberi saya banyak hal, dan saya masih di sini sampai sekarang,” katanya. “Roma membuat saya tumbuh sebagai manusia dan pemain. Saya akan selalu berterima kasih.”

Kunci Keberhasilan Inter: Konsistensi dan Keyakinan

Jelang periode penting dengan jadwal tandang berat ke Roma, Napoli, dan Liga Champions, Chivu menegaskan pentingnya kontinuitas dan konsentrasi. “Kami tahu siapa diri kami,” ujarnya. “Kami ingin tetap di puncak dan menunjukkan bahwa Inter bisa berjuang sampai akhir di setiap kompetisi.”

Meski mengakui Roma sedang dalam performa bagus, Chivu yakin musim masih panjang. “Kita baru di pekan ketujuh. Setiap tim masih bisa berkembang,” katanya. “Roma pun begitu – mereka akan terus membaik bersama Gasperini.”

Bagi Chivu, inti dari perjalanan ini sederhana: menjaga ritme, bermain dengan keyakinan, dan memperlakukan setiap pertandingan sebagai final. Dalam pandangannya, itulah fondasi bagi Inter Milan untuk bertahan di puncak dan mengejar semua target musim ini.

Sumber: Sempre Inter

Klasemen Serie A/Liga Italia

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan