Leicester City: Sebuah Dekade Penuh Kejutan, Air Mata, dan Harapan Baru

Selama satu dekade terakhir, Leicester City menjadi bukti nyata bahwa sepak bola bisa menghadirkan kisah paling gila, paling tragis, sekaligus paling membanggakan.

Diperbarui 07 Agustus 2025, 18:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Namun, keberhasilan itu tidak diikuti dengan investasi berkelanjutan. Kehilangan pemain-pemain penting seperti Riyad Mahrez dan Harry Maguire menjadi strategi finansial untuk menjaga neraca, namun pada akhirnya tidak cukup untuk menjaga kestabilan performa tim.

“Jika di sepak bola kamu diam di tempat, maka sebenarnya kamu sedang mundur,” ujar Mike Stowell, mantan pelatih kiper yang 16 tahun mengabdi di Leicester. Ia menilai bahwa minimnya investasi setelah juara Premier League menjadi salah satu penyebab utama kemunduran klub.

Marti Cifuentes, Harapan Baru dari Reruntuhan

Kini, tanggung jawab untuk mengangkat kembali Leicester berada di tangan Marti Cifuentes. Mantan pelatih QPR ini dikenal sebagai pelatih dengan pendekatan menyerang dan penguasaan bola, mirip seperti Enzo Maresca, arsitek promosi Leicester tahun lalu yang kini melatih Chelsea.

Cifuentes datang di tengah ketidakpastian, baik dari sisi manajemen maupun transfer pemain. Hingga saat ini, satu-satunya rekrutan anyar adalah Asmir Begovic, itu pun didatangkan dengan status bebas transfer. Sementara lubang besar yang ditinggalkan Vardy belum juga terisi.

Meski demikian, Cifuentes tidak gentar. “Saya suka berada di tempat di mana ekspektasi tinggi, karena itu menandakan adanya ambisi. Dan saya siap dengan tekanan itu,” katanya kepada BBC Radio Leicester.

Mengenang Kejayaan, Menatap Masa Depan

Salah satu upaya Cifuentes menjaga identitas klub adalah dengan menggandeng Andy King, bagian dari skuad juara Premier League, sebagai staf pelatih.

Selain itu, kehadiran pemain muda jebolan akademi seperti Ben Nelson yang pernah jadi ball boy saat Andrea Bocelli menyanyikan “Nessun Dorma” dalam perayaan gelar 2016 menjadi simbol kesinambungan dari generasi ke generasi.

Nelson yang kini berusia 21 tahun mengenang masa itu sebagai momen yang membentuk mimpinya. “Sekarang saatnya reset. Kami harus mulai lagi dari nol, langkah demi langkah,” ujarnya.

Sumber: BBC

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Ari Rachman PrayogaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan