Nostalgia Luis Enrique: Dari Pahlawan Real Madrid ke Musuh Nomor Satu di Bernabeu

Luis Enrique kembali membangkitkan kenangan lama yang belum sepenuhnya sembuh bagi para pendukung Real Madrid.

Diperbarui 10 Juli 2025, 13:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Salah satu momen paling ikonik sekaligus kontroversial Enrique tersaji pada El Clasico April 2003 di Santiago Bernabeu. Barcelona yang tak lagi bersaing di jalur juara berhasil menahan imbang Madrid 1-1, dengan Enrique mencetak gol penyeimbang. Selebrasinya yang penuh emosi—menunjukkan kaus ke arah pendukung Madrid—menyulut amarah seluruh stadion.

“Saya tidak heran semua orang ‘menyoraki’ saya,” ujar Enrique seusai laga. “Kalau tak suka cara saya merayakan, jangan datang.” Respons itu mempertegas posisinya: bukan lagi sekadar mantan Madridista, tapi figur yang sengaja menantang rasa sentimentil di Bernabeu.

Duel Zidane, Cemooh Sanz, dan Warisan Konflik

Masih dalam laga El Clasico 2003 itu, ketegangan memuncak ketika Enrique terlibat konfrontasi dengan Zinedine Zidane. Pemain Prancis itu tampak menyerang Carles Puyol, membuat Enrique bereaksi keras hingga akhirnya wajahnya didorong oleh Zidane. Saling dorong antar pemain terjadi, tapi hanya Zidane yang mendapat kartu, sementara Enrique lolos dari hukuman kedua.

Momen panas itu menjadi bukti bagaimana Enrique tak pernah berusaha meredam emosinya di hadapan Real Madrid. Bagi banyak pendukung Los Blancos, ini adalah penghinaan dari seseorang yang pernah mereka dukung. Reaksi dari mantan presiden klub Lorenzo Sanz pun tajam, “Itu provokasi dari pemain yang, omong-omong, dibayar sangat mahal. Pernyataannya menyedihkan.”

Konflik personal ini memperkuat narasi tentang transformasi Enrique—dari bagian keluarga Madrid menjadi simbol pemberontakan di Catalunya. Sebuah warisan yang tak pernah benar-benar padam, bahkan ketika ia tak lagi mengenakan seragam pemain.

Treble dan Satu Nama yang Tak Terlupakan

Setelah pensiun pada usia 34 tahun, Enrique kembali ke Barcelona sebagai pelatih pada 2014. Dalam musim pertamanya, ia langsung mempersembahkan treble bersejarah dengan menjuarai La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions. Ia juga memenangkan empat dari delapan El Clasico sebagai pelatih, termasuk beberapa kemenangan meyakinkan.

Prestasi itu berlanjut bersama PSG. Sejak ditunjuk pada 2023, Enrique kembali menunjukkan sentuhan emasnya. Musim lalu, ia mengantar klub Paris itu meraih treble pertamanya—dan kini, di musim 2025, ia sudah menjejak final Piala Dunia Antarklub setelah menyingkirkan Real Madrid.

Mereka yang pernah mencemoohnya kini tak bisa menghindari satu kenyataan bahwa Luis Enrique adalah arsitek kemenangan di mana pun ia berada. Mungkin ia tak akan pernah disambut hangat lagi di Bernabeu, tapi namanya sudah terukir kuat dalam sejarah rivalitas paling panas di dunia sepak bola.

Sumber: talkSPORT

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan