Inter Dibantai, PSG Diarak: Final Liga Champions 2025 yang Menyisakan Tanda Tanya

Final Liga Champions 2025 antara PSG dan Inter Milan berubah jadi tontonan yang sulit dipercaya. Dalam laga yang seharusnya prestisius, publik malah disuguhi dominasi yang nyaris tidak manusiawi.

Diperbarui 03 Juni 2025, 02:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Final Liga Champions 2025 antara PSG dan Inter Milan berubah jadi tontonan yang sulit dipercaya. Dalam laga yang seharusnya prestisius, publik malah disuguhi dominasi yang nyaris tidak manusiawi.

PSG menghajar Inter 5-0 dan mencetak sejarah sebagai juara dengan margin terbesar sepanjang final Liga Champions. Kemenangan ini juga menjadikan klub milik negara kedua yang berhasil menggenggam trofi si Kuping Besar.

Namun di balik kegemilangan tersebut, muncul pertanyaan yang lebih dalam: Apakah sepak bola masih tentang permainan, atau telah berubah jadi pertunjukan kekuasaan global?

Kemenangan PSG yang Mengguncang Sejarah

PSG tampil seperti raksasa yang tak tersentuh di final kali ini. Tim asuhan Luis Enrique begitu superior sejak menit pertama, hingga membuat Inter tampak seperti peserta undangan.

Gol demi gol tercipta dengan mudah, dimulai dari Hakimi pada menit ke-12, lalu disusul brace dari wonderkid Desire Doue. Bahkan Khvicha Kvaratskhelia mencetak gol keempat dengan cara yang menegaskan statusnya sebagai bintang masa kini.

Senny Mayulu menutup pesta lima gol yang tak memberi ruang sedikit pun bagi Inter untuk bernapas. Final ini terasa seperti latihan tak seimbang, bukan pertarungan dua raksasa Eropa.

Luis Enrique dan Proyek Ambisius PSG

Kemenangan ini menjadi mahkota kedua Luis Enrique di Liga Champions, sekaligus mempersembahkan treble kedua dalam kariernya. Ia membentuk tim yang bukan hanya efektif, tapi juga elegan secara taktik dan emosional.

Enrique membawa sentuhan personal dalam kemenangan ini. Ia merancang momen kemenangan dengan mengenang mendiang putrinya, Xana, sebuah gestur yang menggugah simpati publik sepak bola dunia.

Selain itu, keberhasilan para pemain muda seperti Doue dan Mayulu menunjukkan bahwa proyek jangka panjang PSG mulai membuahkan hasil. Tim ini tidak hanya mahal, tapi juga visioner.

Inter Milan Kalah Telak, tapi Bukan Tanpa Konteks

Inter Milan datang dengan pengalaman dan sejarah panjang di Liga Champions. Tapi malam itu, segala hal yang membentuk kejayaan mereka lenyap di bawah sorotan Paris yang membara.

Masalahnya bukan sekadar taktik Simone Inzaghi yang kurang cermat. Lebih dari itu, jarak kualitas fisik, stamina, dan intensitas membuat Inter tertinggal jauh sejak menit awal.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Nama-nama seperti Mkhitaryan dan Darmian, yang sempat bersinar kembali di bawah Inzaghi, terlihat kehabisan bensin. Lautaro Martinez pun gagal memberi kontribusi berarti dalam momen yang seharusnya jadi panggung besarnya.

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan