Inter Dibantai, PSG Diarak: Final Liga Champions 2025 yang Menyisakan Tanda Tanya

Final Liga Champions 2025 antara PSG dan Inter Milan berubah jadi tontonan yang sulit dipercaya. Dalam laga yang seharusnya prestisius, publik malah disuguhi dominasi yang nyaris tidak manusiawi.

Diperbarui 03 Juni 2025, 02:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Nama-nama seperti Mkhitaryan dan Darmian, yang sempat bersinar kembali di bawah Inzaghi, terlihat kehabisan bensin. Lautaro Martinez pun gagal memberi kontribusi berarti dalam momen yang seharusnya jadi panggung besarnya.

Jurang Finansial yang Menelan Kompetisi

Ada fakta mencolok yang tak bisa diabaikan: Gaji tahunan PSG bahkan melebihi total pendapatan Inter dalam setahun. Ketimpangan finansial ini mencerminkan bagaimana Liga Champions makin condong ke satu arah.

Inter bukan klub kecil—mereka pernah tiga kali menjuarai kompetisi ini dan berada di jajaran 15 besar klub terkaya dunia. Namun di era kekuasaan negara dalam sepak bola, status itu seperti tak lagi relevan.

PSG, dengan dukungan penuh dari Qatar, memanfaatkan keunggulan uang untuk merekrut talenta muda termahal dan membentuk liga domestik yang nyaris tanpa kompetitor. Hasilnya terlihat jelas di final.

Jangan salah, skuad PSG sekarang memang dipenuhi pemain muda, tapi bukan berarti harga beli dan gaji mereka murah.

PSG Menawan Tapi Mengusik Nurani

Ironisnya, permainan PSG sangat memanjakan mata. Pola serangan mereka cair, cepat, dan brilian secara teknis—sesuatu yang membuat para pecinta bola sulit berpaling.

Namun di sisi lain, keindahan itu terasa seperti layar penutup bagi krisis identitas sepak bola modern. Pertanyaan mendasar tentang arah olahraga ini pun makin sulit dihindari.

Ketika laga puncak berubah menjadi simbol ketimpangan, sulit untuk tak bertanya: Apakah ini puncak dari pencapaian olahraga, atau hanya selebrasi kekuasaan dalam balutan jersey dan stadion megah?

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan