Cerita dari Patrick Vieira: Senang Bisa Mengalahkan Brasil di Dua Edisi Piala Dunia

Piala Dunia dan Brasil. Patrick Vieira punya kenangan baik soal ini. Ia mengajak kita untuk memutar kembali cerita apa yang dia miliki.

Diperbarui 12 Oktober 2022, 14:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Vieira mengakui bahwa kondisi tim memang tak kondusif jelang laga final.

"Ketika Anda akan menghadapi Brasil, pelatih bahkan tak perlu menjelaskan apa pun," kata Vieira kepada Globi Esporte dikutip laman FIFA.

"Karena ketika Anda berbicara tentang sepak bola, Anda hanya akan berbicara tentang Brasil, Brasil, Selecao," katanya lagi.

Brasil sejatinya tak melalui Piala Dunia 1998 dengan mulus-mulus amat. Di babak grup, mereka sempat kalah 0-1 di laga pemungkas kontra Norwegia setelah dua laga sebelumnya meraih kemenangan.

Tapi, di babak 16 besar hingga semifinal, Brasil betul-betul menunjukkan kelas mereka. Dari tiga laga yang dijalani, tim besutan Mario Zagallo melaju mulus dua kali dengan margin rata-rata gol pertandingan di atas 2.

Di semifinal, langkah Brasil memang nyaris tersendat. Belanda yang menjadi lawan mereka ketika itu, sukses membuat skor imbang sehingga laga berlanjut ke babak adu penalti.

Pada babak tos-tosan, Brasil keluar sebagai pemenang karena dua eksekutor Belanda yakni Phillip Cocu dan Ronald De Boer gagal menunaikan tugas mereka. Sementara Ronaldo, Rivaldo, Emerson dan Dunga, sukses menjalankan tugas mereka. Skor akhir menjadi 4-2 dan berhak mengunci satu tiket ke final.

Viera ke Ronaldo: Pemain Terhebat di Generasi Saya

Bicara soal Brasil, kata Vieira, sosok Ronaldo adalah pemain yang memantik perhatian dirinya dan tentu seluruh masyarakat Prancis. Betapa tidak, pemain 21 tahun itu sudah mencetak 4 gol sampai ke babak final.

"Tim Brasil itu luar biasa. Ronaldo adalah salah satu pemain terhebat dari generasi kami. Mengalahkan mereka adalah sesuatu yang akan melekat dalam pikiran kita selamanya."

Pada Piala Dunia 2006 di Jerman, Prancis dan Brasil kembali bertemu. Ini adalah kali keempat dalam sejarah Piala Dunia pertemuan dua kelas berat bertemu untuk keempat kalinya di Piala Dunia.

Pada edisi pertama, legenda Brasil yakni Pele dan Garrincha mengantarkan negaranya menang dengan skor 5-2 di semifinal Piala Dunia 1958 di Swedia. Dan 28 tahun kemudian, saat Piala Dunia 1986 di Meksiko, Prancis menang adu penalti.

Dan pada edisi keempat ini, Prancis menang dengan skor tipis 1-0. Kemenangan ini diraih berkat gol Zinedine Zidane dan mengantarkan Prancis ke babak final.

"Menang atas Brasil sangat sulit," kata Vieira. "Ketika Anda bertemu Brasil di Piala Dunia, Anda harus memainkan permainan yang sempurna untuk menang. Saya pikir, pada 2006 itu, kami memainkan permainan yang fantastis."

"Saya pikir kami semua orang Prancis berada dalam kondisi terbaik kami. Kami memiliki salah satu pemain terbaik di dunia (Zidane), yang dalam performa terbaiknya."

"Tapi saya pikir kami melampaui diri kami sendiri untuk membuat kemenangan itu terjadi, meski menghadapi Brasil tidak pernah mudah. Saya pikir itu adalah salah satu penampilan terbaik Prancis di Piala Dunia."

 

Meratapi Kalah di Final dengan Positif

Di final Piala Dunia 2006, saat Prancis mempu unggul lebih dulu dari Italia, harapan Viera untuk mengulang kesuksesan Piala Dunia 1998 membuncah. Namun, faktanya, laga di Olympiastadion harus berakhir pahit untuk Les Bleus kerena mereka kalah 3-5 via adu penalti.

Vieira mengakui bahwa hasil ini memang mengecewakan. Namun, ada beberapa potongan nilai positif yang mengobati luka dirinya dan masyarakat Prancis.

"Generasi kami sangat beruntung bermain di dua final Piala Dunia,” kata Vieira. "Kami bahkan tertatih-tatih di babak kedua melawan Italia."

"Kami bermimpi memenangi laga melawan Italia. Tapi, pertandingan ditentukan melalui adu penalti dan keberuntungan tidak berpihak pada kami. Kami harus akui bahwa skuad Italia itu solid. Tapi saya pikir ketika Anda melihat cara mereka bermain di sepanjang kompetisi Piala Dunia ketika itu, mereka pantas mendapatkan sama seperti yang kami dapatkan pada Piala Dunia 1998."

"Kekalahan yang kami alami memang sangat sulit untuk diterima, tetapi begitulah sepak bola. Terkadang Anda menang; terkadang Anda kalah. Kami memberikan yang terbaik, kami mencoba, tetapi masih sulit untuk memikirkan dan membicarakannya.”

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Alan Kusuma, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan