Rapor Benitez Paling Merah

Sepanjang era Roman Abramovich, Chelsea menugaskan empat caretaker. Dari 12 partai awal, rapor Rafael Benitez menjadi yang terburuk dibanding tiga pendahulunya.

Diterbitkan 04 Januari 2013, 11:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sepanjang era Roman Abramovich, Chelsea menunjuk empat manajer yang berstatus caretaker sampai akhir musim menggantikan manajer permanen yang mendapat surat pemutusan hubungan kerja alias dipecat. Keempat manajer tersebut adalah Avram Grant menggantikan Jose Mourinho, Guus Hiddink mengisi posisi Luiz Felipe Scolari, Roberto Di Matteo yang menerima tongkat kepelatihan tim dari tangan Andre Villas-Boaz, dan Rafael Benitez yang ditunjuk menggantikan Di Matteo.Keputusan terakhir Abramovich yang menunjuk Benitez dipandang sebagai salah satu langkah guna mengembalikan lagi produktivitas striker andalan Chelsea yang juga merupakan pemain kesayangan taipan asal Rusia tersebut: Fernando Torres. Sejak Benitez duduk di bench, Torres mampu kembali produktif, mencetak tujuh (7) gol dalam lima pertandingan. Muncul spekulasi jika di akhir musim status Benitez bakal dipermanenkan.Namun, menyimak lebih jauh, ternyata dari 12 partai pendahuluan, rapor yang ditoreh Benitez menjadi yang terburuk dibanding ketiga caretaker lainnya. Dari selusin laga yang telah dilalui, Benitez hanya mampu mengantarkan Chelsea menang tujuh kali, dua kali bermain imbang, dan tiga kali menelan kekalahan. Atau rasio kemenangan Benitez hanya 58,33 persen, jauh jika dibanding rasio kemenangan Grant, Hiddink, dan Di Matteo.Dari 12 partai pertama yang dijalani Grant, Chelsea menoreh rekor sembilan kali menang dan tiga kali imbang. Di akhir musim 2007-2008, total jenderal rekor Grant dari 53 pertandingan adalah 35 kali menang, 14 kali imbang, dan hanya empat kali menuai kekalahan, termasuk kekalahan menyakitkan di babak final Liga Champions dari Manchester United lewat adu penalti. Meski terbilang rapornya cukup bagus, di akhir musim, Grant pun didepak dari Stamford Bridge.Guus Hiddink yang menangani John Terry pada Februari 2009 menggantikan Big Phil, julukan Scolari, mencatat rapor cukup meyakinkan dari 12 partai awal: 10 kali menang, sekali imbang, dan sekali kalah. Total, Hiddink mencatat 17 kali kemenangan, lima kali imbang, dan hanya sekali kalah dari 23 partai sampai akhir musim. Chelsea menyabet gelar FA Cup. Hiddink dijadikan manajer permanen? Tidak juga.Terakhir, Di Matteo yang memulai 12 laga awalnya dengan catatan sembilan kali menang, dua kali imbang, dan sekali kalah. Secara keseluruhan tercatat Di Matteo menukangi Chelsea dalam 21 partai dengan hasil 14 kali menang, empat kali imbang, dan tiga kali kalah. Selain berhasil merebut kembali trofi FA Cup, di akhir musim Di Matteo pun sukses mengantarkan The Blues meraih gelar Liga Champions kali pertama sepanjang sejarah. Keberhasilan tak terduga di kancah Eropa tersebut membuat nasib Di Matteo berubah. Abramovich tak dapat melanggar konsensus, memecat seorang pelatih atau manajer yang mampu mengantarkan gelar Liga Champions. Status Di Matteo pun berubah menjadi manajer permanen dengan durasi kontrak dua musim. Apa yang terjadi? Belum kompetisi berjalan separuh musim, pada 21 November 2012, Di Matteo menerima nasib yang sama seperti Mourinho, yaitu dipecat Abramovich. Lalu, bagaimana dengan nasib Benitez? Menarik menunggu titah Abramovich di akhir musim andaikata Benitez mampu mempertahankan gelar FA Cup dan mengembalikan Chelsea ke zona Liga Champions. (MEG/The Sun)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Ajang NurdinTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan