Bola Ganjil: Trio Milutinovic Bersaudara Mengguncang Dunia

Simak kisah tiga Milutinovic bersaudara yang memiliki keahlian masing-masing di sepak bola.

Diperbarui 17 April 2022, 22:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Bintang Impor Bayern Munchen Pertama

Dengan kehidupan profesional dan personal lebih mapan, Milos tampil percaya diri di lapangan. Dia bersinar pada laga pertama Piala Champions sepanjang masa melawan CP Sporting dari Lisbon, Portugal. Mencetak dua gol, Milos terpilih sebagai man of the match.

Milos makin bersinar di partai kedua. Dia membuat empat gol dan membantu timnya melangkah ke babak berikut.

Real Madrid sudah menunggu. Memiliki Ferenc Puskas, Alfredo Di Stefano, dan Francisco Gento, Los Blancos jelas diunggulkan. Namun, justru Milos yang bersinar pada duel pertama di ibu kota Spanyol. Dia bahkan mampu menghasilkan dua gol pada 10 menit pertama. Beruntung bagi Real Madrid, wasit menganulir kedua torehannya tersebut.

Tuan rumah menang 4-0. Pada leg kedua, Milutinovic kembali cemerlang dan menjebol gawang lawan dua kali. Sayang Partizan hanya berjaya 3-0 dan tersisih. Meski begitu, catatan delapan gol dari empat laga menjadikan Milutinovic sebagai top skor kompetisi.

Milos terus memperkuat reputasi. Jika bukan karena larangan bermain di luar negeri sebelum berusia 28 tahun, dia bakal bersinar di Eropa. Sempat dua musim di Partizan, dia lalu pergi ke OFK Belgrade.

Tahun 1960, Milos didiagnosis mengidap tuberkulosis. Penyakit itu merupakan pembunuh paling aktif di Yugoslavia. Beruntung ada klub Eropa Barat mau membantu. Bayern Munchen yang ketika itu belum ada apa-apanya menawarkan karier plus perawatan. Proposal tersebut pun disambut.

Manuver Bayern Munchen berbuah manis. Milos jadi salah satu pemain asing terbaik sepanjang sejarah klub, meski performanya tidak seperti ketika belum terkena penyakit.

Dari Jerman, Milos berpetualang ke Prancis untuk membela Stade Francais dan Racing Club sebelum pulang kampung di usia 35 tahun.

Milos kembali memperkuat OFK dan berduet bersama teman lama Dragoslav Sekularac. Kehadiran keduanya menarik perhatian 33 ribu penonton untuk menyaksikan laga pertama. Seperti biasa, Milos tetap bersinar. Dia mencetak gol dan membantu tim meraih kemenangan.

 

Pilihan Milorad

Milorad sempat mengikuti Milos ke OFK pada kesempatan pertama sebelum memilih jalur berbeda. Dia kembali ke Partizan ketika Milos pergi ke Bayern Munchen.

Pada saat bersamaan, Bora bergabung dan bermain sebagai gelandang. Keduanya bermain bersama pada periode 1960-1963 dalam tim legendaris Partizan. 

Milorad dikenal sebagai bek tanpa kompromi yang piawai menghalau serangan lawan. Memasuki usia 28 tahun, dia memaksimalkan opsi berkarier di luar negeri, tepatnya Swiss bersama La Chaux-de-Fonds dan Neuchatel Xamax. Namun, Bora memutuskan bertahan dan masih jadi bagian klub pada musim 1965/1966.

Ketika itu dia tidak lagi jadi pilihan utama. Beberapa bulan sebelum Partizan sukses melangkah ke final Liga Champions, dia pindah ke OFK dengan status pinjaman. Transfer ini membuat Milutinovic bersaudara membela Partizan dan OFK pada karier masing-masing.

 

Polesan Bora

Jika Milos paling berbakat di lapangan, maka Bora punya kemampuan terbaik sebagai pelatih. Meski Milos dan Milorad sama-sama mencoba peruntungan, keduanya tidak mampu menyamai torehan sang bungsu.

Milos mampu membawa Partizan menjadi juara Yugoslavia pada 1983 setelah paceklik gelar setengah dekade. Sempay pula memimpin Besiktas dan timnas, dia kembali ke Partizan pada 1990. Namun Milos tidak berdaya menandingi Red Star Belgrade yang dalam periode keemasan. Dia meninggal dunia pada 2003.

Smeentara Milorad melatih klub Swiss Neuchatel Xamax sebelum memutuskan posisi pelatih bukanlah bukanlah pekerjaan ideal. Hanya bekerja semusim dan hidup tenang hingga menyusul Milos tahun 2015.

Hanya Bora yang masih hidup. Dia membawa timnas Meksiko, Kosta Rika, Amerika Serikat, Nigeria, dan Tiongkok tampil di Piala Dunia secara beruntun pada 1986-2002.

Pada kariernya itu, Bora hanya sekali gagal membawa tim asuhannya lolos dari fase grup yakni Tiongkok.

Keterlibatannya di panggung terbesar dunia memastikan nama Milutinovic tetap relevan dalam sepak bola lewat pencapaian di dalam dan luar lapangan lebih dari setengah abad lalu.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan