Ini Kronologi Perseteruan Shin Tae-yong Kontra Indra Sjafri di Kubu PSSI

Wawancara Shin Tae-yong dengan media Korea Selatan, Joins, berisi kritikan kepada PSSI dan sempat membahas perilaku Indra Sjafri.

Diterbitkan 22 Juni 2020, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Manajer pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong mendapat serangan dari pihak PSSI setelah hasil wawancaranya dengan media Korea Selatan, Joins. Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri, paling vokal mengomentari pelatih asal Korea Selatan itu. 

Di artikel yang terbit pada Kamis (18/6/2020) tersebut, Shin Tae-yong bercerita mengenai keinginan PSSI yang memintanya kembali ke Indonesia di tengah pandemi virus corona yang tidak kunjung membaik di Tanah Air.

Padahal, Shin Tae-yong berharap bisa membawa Timnas Indonesia U-19 ke Korea Selatan untuk menggelar pemusatan latihan (training centre) di sana dan baru kembali ke Tanah Air pada September mendatang.

Seiring berjalannya waktu, Shin Tae-yong menganggap sikap PSSI berbelok, namun ia tidak menjabarkan secara detail perubahan yang dimaksud.

Shin Tae-yong juga menyinggung mundurnya Ratu Tisha Destria sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI pada April lalu. Padahal, wanita berusia 34 tahun itu dianggapnya berkompeten dan populer di kalangan suporter karena kemahirannya.

Mantan pelatih Timnas Korea Selatan ini juga berkisah mengenai keputusan PSSI mengangkat Indra Sjafri sebagai Direktur Teknik PSSI. Padahal, yang bersangkutan disebutnya berperilaku kurang sopan ketika masih menjadi asistennya di Timnas Indonesia U-19.

Ceritanya, Indra Sjafri pergi tanpa pamit setelah Timnas Indonesia U-19 pulang dari Chiang Mai, Thailand, pada awal Januari lalu. Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Direktur Teknik PSSI itu melengos begitu saja.

Terakhir, Shin Tae-yong membahas target yang diberikan PSSI kepadanya dan pembayaran gajinya yang telat. Arsitek berusia 49 tahun itu dituntut untuk membawa Timnas Indonesia U-20 ke babak perempat final Piala Dunia U-20 2021 dan memenangi Piala AFF 2020 bersama timnas senior.

Menurut Shin Tae-yong, PSSI juga telat membayarkan gajinya yang telah dipotong 50 persen akibat pandemi COVID-19 pada April dan Mei 2020.

Lalu, PSSI lewat Indra Sjafri merespons hasil wawancara tersebut dengan membongkar rahasia dapur Shin Tae-yong bersama PSSI.

Diancam Dipecat

Pada Jumat (19/6/2020) Bola.com menghubungi Syarif Bastaman, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Timnas Indonesia, setelah aksi buka-bukaan Shin Tae-yong di media Korea Selatan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Syarif geram dengan Shin Tae-yong dan menyebutnya tengah bermain playing victim. Arsitek kaliber Piala Dunia itu diminta untuk kembali ke Indonesia paling lama pekan depan. Jika tidak, pemecatan menjadi ancamannya. "Sikap saya dengan wawancara dia dengan media Korea Selatan? Marah saya. Saya tidak suka. Dia ini malah mencari simpatik publik. Dia politisi atau pelatih? Kok malah bermain politik seolah-olah didzolimi. Penuhi saja kontrak. Kewajiban dia sudah jelas," imbuh Syarif. "Kalau dia tidak datang, harus kami evaluasi. Mungkin dipecat. Kami minta paling lambat dia datang pada pekan depan. Kami lihat nanti bagaimana. Sejak rapat virtual dengan dia pada pekan lalu, dia sudah setuju untuk datang ke Indonesia. Alih-alih datang, dia malah berkoar-koar di media. Walaupun entah benar atau tidak dia berbicara seperti itu, sudah tersebar di media. Saat rapat virtual dengan Komite Eksekutif Exco PSSI, tak ada dia menolak untuk datang." "Penuhi saja kontraknya. Kewajiban dia jelas. Kalau kondisi di Indonesia tidak memungkinkan, tidak mungkin kami menyuruh dia datang. Karena kondisi di sini sudah memungkinkan. Waktu juga tidak banyak. Oktober 2020 sudah Piala AFC U-16. Belum lagi Piala AFF 2020. Dan anak-anak berlatih secara fisik tanpa pelatihnya," tutur Syarif. Syarif tidak peduli dengan rekam jejak Shin Tae-yong, yang notabene merupakan juru taktik Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2018. Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Timnas Indonesia itu hanya ingin sang pelatih datang ke Indonesia dan bekerja sesuai yang tertera dalam kontraknya. "Saya tidak peduli mau siapapun sosoknya. Mau Diego Maradona, Jose Mourinho, Arsene Wenger atau Sir Alex Ferguson pun, semua sama. Dia memenuhi kewajibannya atau tidak? Lihat saja di kontrak. Kami memberikan sesuatu yang pasti. Yang terukur untuk sesuatu yang tidak terukur. Ada harga, tidak ada barang. Barangnya itu dia harus hadir. Sesuai dengan janji dia. Lalu sekarang dia malah mau melatih dengan syarat. Anak-anak harus ke Korea Selatan," ucap Syarif. Mengenai permintaan Shin Tae-yong untuk membuat TC di Korea Selatan, Syarif menuturkan bahwa yang bersangkutan belum menyampaikannya secara resmi kepada PSSI. Jika pertimbangannya karena pandemi virus corona, Syarif menjamin Jakarta telah aman. "Tidak. Belum ada. Memang dia memberikan beberapa alternatif. Saya ikut rapat virtual dengan dia, itu latihan di sini. Sudah boleh berlatih normal. Kami juga sudah mau diberikan Lapangan ABC, Senayan. Ada protokolnya juga. Kalau bahaya, kami tak akan lalukan. Memangnya di Korea Selatan tak ada COVID-19 apa?" imbuhnya.

Halaman
Show All
Muhammad Adi Yaksa, Windi Wicaksono, Wiwig PrayugiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan