Jalan Panjang Hakim Ziyech: Dari Jalanan hingga Berseragam Chelsea

Bersama Chelsea, Hakim Ziyech bersiap menghadapi petualangan baru di sepak bola Eropa.

Diterbitkan 15 Februari 2020, 07:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Jalur emas terbentang di hadapan Hakim Ziyech. Mulai musim panas nanti, pemain berdarah Belanda-Maroko tersebut akan merasakan panggung sepak bola paling megah di Eropa, yakni Premier League.

Kesempatan datang setelah Chelsea akhirnya mencapai kata sepakat dengan Ajax Amsterdam. Klub Eredivise itu akhirnya bersedia melepas Ziyech dengan mahar 40 juta euro (Rp 594 miliar). Bila performa Ziyech cukup meyakinkan, angka ini bisa berubah menjadi 44 juta euro (Rp 654 miliar). 

Berseragam Chelsea merupakan salah satu lompatan tebesar dalam karier Ziyech yang dibangun dari nol. Buah dari kesabaran di saat orang-orang terdekatnya dipaksa menyerah oleh kerasnya hidup.

Seperti dilansir BBC, Ziyech merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara. Getirnya hidup telah dirasakannya sejak kecil saat ayahnya pergi di usianya yang baru menginjak 10 tahun. Dengan penghasilan kelas menengah, ibunya harus pontang-panting membiayai keluarga besar mereka.

Di tengah kondisi seperti ini, sepak bola menjadi harapan Ziyech dan dua saudara lainnya. Mereka pun berlatih sepak bola dengan harapan bisa menjadi atlet profesional dan keluar dari kesusahan.

Namun tidak semudah yang dibayangkan. Kedua saudaranya memilih berhenti. Mereka putus asa. 

Sebaliknya Ziyech sekuat tenaga berusaha menjaga mimpinya tidak padam. Dia mengasah kemampuannya di jalan-jalan kota Dronten, Belanda. Kerja kerasnya tidak sia-sia.

Ziyech lolos ke akademi sepak bola lokal, Reeal and ASV. Bakatnya semakin berkembang dan mendapat kesempatan yang lebih besar bergabung dengan Heerenveen di usia 14 tahun, 2007 lalu.

Ziyech tidak menyia-nyiakannya. Bakatnya terus berkembang dan mampu membius Abe Lenstra Stadium. Pada usia 19 tahun dia telah masuk tim utama yang bermain di liga Belanda, Eredivise. 

Dia kemudian pindah ke FC Twente pada tahun 2014. Namun baru dua musim, Ziyech sudah pindah lagi. Krisis keuangan yang melanda FC Twente memaksa Ziyech pindah ke klub Ajax Amsterdam. 

 

 

   

 

 

Saksikan juga video menarik di bawah ini:

Bermental Baja

Pengamat sepak bola Belanda, Marcel van der Kraan, menganggap Ziyech sebagai sosok yang tangguh. Selain dari kehidupan, mental pemain berusia 26 tahun itu telah ditempa lewat perjalanan karier yang tidak mudah. "Dia (Hakim Ziyech) sosok yang pantang menyerah," katanya dilansir BBC.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

"Dia telah melalui banyak hal dalam kehidupan dan dan awal yang sulit bersama Ajax," bebernya.  Menurut Marcel, legenda timnas Belanda, yang pernah menjadi pelatihnya di Heerenveen, Marco van Basten, pernah mengatakan masa depan Ziyech suram. Namun dia tidak memperdulikannya.  Cobaan kembali mengadang langkah Ziyech saat FC Twente nyaris bangkrut. Sebagai kapten Ziyech setiap pekan selalu menghadiri  jumpa pers dan harus menjawab pertanyaan yang seharusnya ditujukan kepada manajemen. Di usia yang terbilang muda, Ziyech mampu melewati itu semua.  "Dia menjawab lewat kakinya dan menangani semuanya dengan tenang. Itu yang menempa dia." Tekanan yang dihadapi semakin besar manakala Ziyech pindah ke Ajax Asmterdam. Maklum saat tiba di Johan Cruyff Arena, suporter sedang resah karena Ajax sudah lima musim paceklik gelar.  Kehadiran Ziyech tidak terlalu diterima. Puncaknya saat Ajax kalah 0-3 dari PSV Eindhoven pada April 2018 dan menjadikan tim rival sebagai juara Liga Belanda. Saat itu, suporter menghentikan bus Ajax yang hendak kembali ke Amsterdam. Mereka mengecam tim dan mengkritik Hakim Ziyech.  Mereka bahkan meminta Ziyech berhenti membela Ajax. Namun sekali lagi, Ziyech tidak gentar. Sebaliknya, musim lalu, dia mencetak 21 gol dan 24 assist. Dia juga berperan besar dalam mengantar Ajax merebut dua trofi domestik dan nyaris melaju ke final Liga Champions sebelum dihentikan Tottenham Hotspur. Dan di babak penyisihan, Ziyech sempat mencetak gol ke gawang Chelsea saat ditahan imbang Ajax Amsterdam 4-4 di babak penyisihan grup Liga Champions, November tahun lalu.  Sikap suporter Ajax pun berubah 180 derajat. Dari sebelumnya menghujat, kini berbalik memuja. Mereka semakin menyesal karena  menganggap nilai transfer Ziyech mencapai £100 juta.     

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan