Teror Suporter di Piala Eropa Lebih Nyata dari Ancaman ISIS

Bukan aksi teror yang terjadi, tetapi ulah anarkis suporter menghantui tuan rumah.

Diterbitkan 13 Juni 2016, 12:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Marseille - Teror di Prancis November tahun lalu membuat tuan rumah siaga penuh menghalau ancaman kelompok radikal ISIS. Ribuan Tentara dan Polisi diterjunkan di berbagai titik untuk mengantisipasi serangan teroris menyambut perhelatan Piala Eropa 2016

Dalam serangan akhir tahun lalu, puluhan orang meregang nyawa. Salah satu venue pertandingan, Stade de France di kota Paris, Prancis menjadi sasaran aksi teror ketika menghelat duel Prancis melawan Jerman di laga persahabatan. Ancaman teror juga semakin nyata setelah bandara internasional dan kereta bawah tanah di Brussels, Belgia mendapat serangan bom. ISIS disebut-sebut berada dalam rangkaian teror di Benua Biru.

Tidak ingin kecolongan di hajatan sepak bola antarnegara Eropa, pemerintah Prancis secara khusus mengembangkan aplikasi alarm anti-teror di telepon pintar setelah kejadian itu. Prancis menambah status siaga satu ancaman teroris hingga Piala Eropa 2016 rampung.

 

Baca Juga

  • Dejan Tinggalkan Persib, Bagaimana Nasib Pemain Bawaannya?
  • Lewat Gol Kontroversial, Peru Singkirkan Brasil
  • Persegres Akhirnya 'Pecah Telur' Lawan Sriwijaya

 

Namun bukan aksi teror yang terjadi, tetapi ulah anarkis suporter menghantui tuan rumah. Teror ricuh suporter lebih nyata dari ancaman ISIS. Belum sepekan Piala Eropa 2016 berlangsung, turnamen ini sudah ternoda dengan kerusahan antar suporter. Prediksi gangguan teror dari kelompok radikal ISIS hingga kini belum terbukti. 

>Polisi Prancis dibuat repot dengan keributan pendukung Inggris dan Rusia jelang pertandingan di Marseille, Sabtu (11/6/2016) akhir pekan lalu. Keributan terjadi di luar stadion. Suar menjadi pemicu keributan antarkedua kubu. Laporan yang berkembang, pendukung Rusia menyalakan kembang api di depan pendukung Inggris. Keributan berlanjut di tribun stadion. Baku pukul antarkedua pendukung tidak terhindarkan. Puluhan orang mengalami luka-luka

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Polisi terpaksa mengeluarkan gas airmata untuk mengendalikan massa. Isteri pemain Inggris, Rebekah Nicholson menjadi korban. Wanita berambut panjang itu berada di tengah-tengah suporter Inggris dan Rusia yang terlibat bentrok. "Ini menjadi pengalaman terburuk dalam pertandingan tandang. Ditembak gas air mata tanpa alasan, ditahan dan diperlakukan seperti binatang. Mengejutkan," tulis Rebekah dalam akun Twitter miliknya. Wanita yang baru saja menikah dengan Vardy jelang Piala Eropa ini mengaku melihat sendiri insiden mengerikan ini."Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Saya tidak bisa berkomentar secara spesikfik, tapi saya terjebak di dalam sesuatu yang mengerikan," dia melanjutkan. Keributan antarsuporter juga terjadi di kota lainnya, Nice. Kericuhan melibatkan suporter Irlandia Utara dan Prancis jelang duel Irlandia Utara melawan Polandia, Minggu (12/6/2016) malam kemarin. Setidaknya, 6 fans Irlandia Utara harus dilarikan ke Rumah Sakit.

Halaman
Show All
Rejdo Prahananda, Marco Tampubolon, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan