Mengenal PSMS Medan, Juara Piala Kemerdekaan 2015

Pamor PSMS Medan kembali meningkat setelah merebut gelar juara Piala Kemerdekaan 2015.

Diterbitkan 14 September 2015, 21:28 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sempat paceklik gelar selama 8 tahun, Ayam Kinantan kembali menunjukkan tajinya pada kompetisi perserikatan tahun 1983. Di final PSMS mengalahkan Persib Bandung dengan skor 3-2 lewat drama adu penalti usai bermain imbang 0-0.

PSMS juga sukses mempertahankan gelar ini pada tahun 1985. Di partai puncak, Ayam Kinantan kembali mempecundangi Persib Bandung 2-1 lewat drama adu penalti usai bermain imbang  dengan skor 2-2.

Duel digelar di Stadion Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta dan disaksikan 150 ribu penonton di mana saat itu kapasitas GBK hanya 110 ribu. Ini jadi rekor penonton terbanyak dalam sejarah sepak bola Indonesia. Bahkan menurut catatan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), ini merupakan rekor penonton sepak bola amatir terbanyak di dunia.

Paceklik Gelar Melanda

Seiring dengan era keemasan ini, mencuat juga nama-nama top dari PSMS. Sebut saja Sarman Panggabean, Tumpak Sihite, Nobon Kayamuddin, Sunarndi A, Ronny Pasla, Ricky Yakobi, Soetjipto Soentoro, Ronny Pasla, Iswadi Idris, Abdul Rahman Gurning, Parli Siagian, Zulkaranen Lubis, Jaya Hartono, dan tentu saja kiper legendaris Ponirin Meka.

Lama bercokol di puncak sepak bola Indonesia, era keemasan PSMS pudar juga. Diawali dengan kekalahan 1-2 dari PSM Makassar di final 1991-1992, prestasi Ayam Kinantan terus menurun. Saat perserikatan dihapus dan diganti dengan Liga Indonesia, PSMS justru lebih sering menjadi penghuni papan tengah.

PSMS sempat menjadi pemuncak klasemen Grup Barat Divisi Satu 1997-98. Sayang situasi politik nasional yang memanas memaksa PSSI menghentikan liga ini. Saat Liga Indonesia kembali bergulir 1998-99, PSMS sempat lolos hingga semifinal sebelum dihentikan Persebaya 2-4 lewat adu penalti usai imbang 1-1.

Meski masih diperhitungkan tim lawan, namun hingga Liga Indonesia 2001, PSMS tak pernah lagi juara. 

Memasuki musim-musim berikutnya, PSMS terus mengalami penurunan. Meski demikian, Ayam Kinantan masih sempat merasakan tiga gelar turnamen pramusim Piala Emas Bang Yos (2005, 2005, 2006). PSMS sempat bangkit dan meraih final Liga Indonesia 2007-08. Namun asa Ayam Kinantan mengakhiri paceklik gelar pupus usai kalah 1-3 dari Sriwijaya FC.

Gonta-ganti Pelatih

 Saat kompetisi tertinggi di Tanah Air berubah menjadi Liga Super Indonesia (ISL), di awal musim PSMS langsung dihantam berbagai masalah. Mulai dari status kandang, Stadion Teladan Medan yang tidak layak hingga eksodus pemain akibat gaji yang tak kunjung dibayar. Krisis finansial membuat Ayam Kinanta meradang. 

Belum lagi kisruh yang melanda internal manajemen. Pemecatan pelatih kian sering. Iwan Setiawan yang dianggap gagal meningkatkan performa Ayam Kinantan kemudian diganti dengan  Eric Williams yang tak lama dipecat juga lalu diganti Luciano Leandro. Namun mantan pemain Persija itu hanya bertahan 3 bulan. Manajemen kembali memecatnya.  

PSMS kemudian ditangani asisten pelatih, Liestiadi. Namun justru di tangannya, PSMS mampu keluar dari zona degradasi dan membawa Ayam Kinantan mengukir sejarah sebagai tim pertama yang lolos ke babak perempat final AFC Cup  (2009). Langkah Ayam Kinantan terhenti setelah kalah 0-4 dari Chonburi FC pada babak 16 besar.

Saat dualisme jilid satu melanda sepak bola Indonesia 2011 lalu, PSMS terbelah dua.  PSMS pimpinan Idris tampil di Liga Super Indonesia (ISL) dan pimpinan Freddy Hutabarat tampil di Liga Primer Indonesia (IPL). Sejak saat itu, nama PSMS semakin tenggelam dari sepak bola Tanah Air, sampai akhirnya bangkit dan menjuarai Turnamen Piala Kemerdekaan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan