Cetak Rekor, Produksi Listrik PGE Tembus 4.113 GWh

PGE cetak rekor produksi listrik tertinggi sepanjang sejarah sebesar 4.113 GWh. Laba bersih melesat 21,45% jadi US$ 126,62 juta.

Diterbitkan 04 November 2026, 18:45 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan produksi listrik panas bumi sebesar 4.113 giga watt hour(GWh) pada periode Januari–September 2026. Capaian ini menjadi angka produksi tertinggi sepanjang sejarah berdirinya perusahaan.

Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, menyampaikan bahwa realisasi tersebut merupakan akumulasi dari seluruh wilayah kerja perseroan yang mengalami kenaikan 9,86% dibandingkan periode yang sama pada 2025.

"Pencapaian kami di tahun 2026 tercatat hingga September, kita kembali mencatat all time high pencapaian produksi yaitu di 4.113 GWh sekitar 9% hampir 10% year on year, 9,86% ya 10% dari year on year atau performance di tahun 2025," ungkap Yani dalam temu media di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang menjadi penyumbang terbesar dengan 1.438 GWh (naik 8,4%). Diikuti PLTP Ulubelu sebesar 1.218 GWh (turun 0,6%), PLTP Lumut Balai 702 GWh (naik 48,5%), PLTP Lahendong 658 GWh (naik 2,3%), serta PLTP Karaha sebesar 98 GWh (naik 21,9%).

Realisasi produksi 4.113 GWh ini sudah setara dengan 78,26% dari total target perseroan sepanjang 2026 yang ditetapkan sebesar 5.255 GWh.

"Tentu saja hal ini tercapai dengan strategi kami bagaimana mengelola lapangan ini secara operation excellence, menjaga investasi untuk menjaga ketersediaan uapnya, reservoir management-nya seperti apa. Sehingga bisa sustain dijaga dengan baik, bagaimana power plant-power plant kami itu bisa kontinyu beroperasi menghasilkan, mengenerate revenue yang kita dapatkan," beber dia.

Laba Bersih Melonjak 21,45%

Rekor produksi tersebut berdampak positif pada kinerja keuangan perseroan. PGEO membukukan laba bersih sebesar US$ 126,62 juta sepanjang Januari–September 2026, melesat 21,45% (year-on-year) dibanding US$ 104,26 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan perseroan pun terkerek 10,46% menjadi US$ 352,20 juta dari sebelumnya US$ 318,86 juta. Lonjakan ini didorong oleh rekor produksi listrik serta efisiensi operasional yang terjaga dengan baik.

Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat, menegaskan bahwa capaian finansial ini membuktikan konsistensi perseroan dalam menjalankan strategi bisnis yang efektif dan berkelanjutan.

"Pertumbuhan laba bersih yang melampaui pertumbuhan pendapatan ini mencerminkan semakin kuatnya profitabilitas PGE. Kinerja ini didukung oleh peningkatan produksi, optimalisasi pendapatan, serta disiplin pengelolaan biaya yang terus kami jalankan. Fundamental keuangan yang solid menjadi modal penting bagi Perseroan untuk menjaga kesinambungan bisnis sekaligus mendukung pengembangan kapasitas panas bumi ke depan," ujar Fransetya, Jumat (30/10/2026).

Profitabilitas dan Posisi Keuangan Makin Solid

Penguatan profitabilitas PGEO juga terlihat dari laba usaha yang tumbuh 17,44% menjadi US$ 186,26 juta. Sementara itu, margin laba bersih naik dari 32,70% menjadi 35,95%.

Dari sisi neraca keuangan, total liabilitas PGEO menyusut menjadi US$ 955,55 juta dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar US$ 988,89 juta.

Di saat yang sama, posisi kas dan setara kas tercatat kuat sebesar US$ 713,68 juta, memberi ruang fleksibilitas bagi perseroan untuk mengeksekusi rencana ekspansi bisnis ke depan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6