Liputan6.com, Jakarta - Hiruk-pikuk Pasar Induk Cipinang tidak pernah benar-benar reda. Bau khas pati beras menyeruak kuat di udara, bercampur dengan derak roda troli dan deru mesin truk yang mengangkut berkarung-karung beras siap kirim. Di sudut-sudut lorong, kuli panggul berkaus basah keringat tampak cekatan memanggul karung setinggi bahu.
Sementara itu, di kios-kios eceran, transaksi berlangsung riuh. Para pembeli menjemput segenggam beras dari karung terbuka—merabanya perlahan untuk merasakan kelembapan, mendekatkannya ke hidung untuk menghirup aromanya, bahkan tak sedikit yang nekat menggigit satu-dua bulir beras guna memastikan kualitas. Di tengah tumpukan karung berjejer tinggi, bapak-bapak dan ibu-ibu tampak teliti memilih bahan pokok utama dapur mereka tersebut.
Atmosfer sibuk ini seolah tak terusik oleh riak kabar miring di luar sana. Isu beredarnya beras oplosan yang belakangan menyita perhatian publik ternyata tidak serta-merta melumpuhkan aktivitas para pelaku warung sembako. Mengandalkan relasi dan kepercayaan pelanggan setia, pedagang eceran seperti Suryadi dan Yuni mengaku penjualan beras di warung mereka tetap bertahan stabil, bahkan menunjukkan tren peningkatan.
Advertisement
Suryadi, pemilik warung sembako yang rutin berbelanja beras premium dan medium di Pasar Induk Cipinang untuk dijual kembali, mengatakan isu tersebut tidak membuat pembelinya panik.
"Kalau di warung sendiri penjualan masih tetap stabil. Alhamdulillah enggak ada masalah sampai sekarang sih. Belum ada orang nanya. Soalnya sudah langganan tetap, sih," tutur Suryadi saat ditemui di Pasar Induk Cipinang, Kamis (29/10/2026).
Isu praktik curang di sektor pangan ini memang sempat menyengat setelah dibongkar oleh Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Mentan mengendus dugaan aksi mafia pangan yang mengubah beras bersubsidi Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi beras premium di kawasan Jakarta Timur.
Tindakan tak bertanggung jawab ini sangat merugikan konsumen. Pasalnya, beras SPHP yang semestinya dijual kepada masyarakat seharga Rp 12.500 per kilogram dipoles sedemikian rupa, lalu dipasarkan sebagai beras premium dengan harga membubung hingga Rp 17.000 per kilogram.
Meski demikian, Yuni, seorang pedagang sembako di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur, mengaku tak ikut terdampak isu miring tersebut. Setiap dua hingga tiga hari sekali, Yuni masih rutin membeli beras karungan ukuran 50 kilogram, khususnya merek Batik dan Palapa Solo.
Di warungnya, beras tersebut dijual secara eceran per liter untuk menyuplai kebutuhan rumah tangga dan usaha katering. Dalam sebulan, ia dapat menghabiskan lebih dari sepuluh karung—bahkan mencapai enam karung hanya dalam sepekan.
Yuni menuturkan, isu beras oplosan memang sudah ramai diperbincangkan di kalangan pembeli. Namun, kekhawatiran masyarakat sejauh ini lebih banyak tertuju pada beras kemasan 5 kg. Meski sebagian pelanggan sempat ragu, mereka pada akhirnya tetap membeli beras yang disajikannya.
“Memang ada sebagian yang takut, cuma sebagian enggak. Tetap jadi beli,” kata Yuni.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat, Yuni memilih pendekatan personal untuk meyakinkan para pelanggan. “Saya bilang, ‘Enggak kok, ini insyaallah aman.’ Udah itu aja. Dan alhamdulillah customer-nya pada percaya,” ujarnya.
Kontras Lengang di Pasar Induk Senen
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385812/original/054874400_1793270494-WhatsApp_Image_2026-10-29_at_17.34.47.jpeg)
Sangat kontras dengan keriuhan di Cipinang, suasana di Pasar Induk Senen justru tampak jauh lebih lengang. Lorong-lorong kios beras terasa sunyi, hanya diwarnai langkah beberapa calon pembeli yang lalu-lalang tanpa banyak singgah. Karung-karung beras yang menumpuk rapi lebih sering dibiarkan tersentuh angin ketimbang jemari pembeli.
Ketenangan di tingkat warung sembako rupanya berbanding terbalik dengan kondisi yang dirasakan Ivan, seorang pedagang beras yang telah berjualan selama 40 tahun di Pasar Induk Senen.
Bagi Ivan yang mengambil pasokan langsung dari Pasar Induk Beras Cipinang, penjualan di kiosnya mengalami kelesuan drastis dalam beberapa bulan terakhir. Namun, ia menilai penurunan ini bukan semata-mata karena isu beras oplosan, melainkan akibat melemahnya daya beli masyarakat secara luas.
"Pokoknya omzet sudah pasti menurun, jauh. Bukan cuma karena isu beras oplos saja sih, tapi karena faktor ekonomi. Daya beli masyarakat itu menurun parah," kata Ivan saat ditemui Kamis (29/10/2026).
Ia mencontohkan, konsumen perorangan yang biasanya membeli beras sebanyak 25 kg kini memangkas belanjanya menjadi hanya 10 kg untuk menghemat pengeluaran. Hal serupa dialami pelanggan dari kalangan restoran.
"Restoran yang biasa seminggu habis 10 karung, sekarang jadi sebulan. Jadi konsumsinya benar-benar ditekan," tuturnya.
Terkait pengawasan pasar, Ivan menuturkan kiosnya sempat didatangi petugas dalam inspeksi mendadak (sidak) sekitar enam bulan lalu. Dalam sidak tersebut, pedagang diinstruksikan untuk mematuhi harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp 15.000 per kg.
"Waktu disidak disuruh jual Rp 15.000, enggak boleh lebih. Saya sebagai pengecer cuma mematuhi saja regulasi yang ada," jelasnya.
Advertisement
Kiat Mengenali Beras Asli ala Pedagang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385813/original/071902300_1793270494-WhatsApp_Image_2026-10-29_at_17.32.21.jpeg)
Meski menghadapi situasi pasar yang berbeda, para pedagang membagikan kiat serupa bagi masyarakat agar tidak mudah tertipu beras berkualitas buruk atau oplosan.
Ivan menyarankan pembeli untuk lebih teliti memeriksa kondisi fisik beras sebelum bertransaksi. "Tipsnya beli beras jangan yang banyak patahan bulirnya, jangan banyak batu atau gabahnya. Kalau fisiknya bersih dan utuh, umumnya kualitasnya bagus," pangkas Ivan.
Sementara itu, Suryadi dan Yuni menekankan pentingnya mengenali tekstur beras melalui rabaan tangan.
"Beras bagus sama yang oplosan itu beda rasanya pas dipegang. Dari teksturnya bisa langsung ketahuan, apakah bulirnya halus, pulen, atau terasa kasar. Yang penting teliti dan beli di tempat langganan yang terpercaya," tutup Yuni.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490698/original/095003200_1770021594-bea_cukai_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4949090/original/063678200_1726832428-Apel1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5558081/original/096705700_1776405688-cek_fakta_-_dana_bantuan_hindu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385829/original/024402600_1793271201-Screenshot_2026-10-29_174018.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385811/original/039304800_1793270494-WhatsApp_Image_2026-10-29_at_17.32.22.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361803/original/099544000_1790748121-Cek_fakta_Bantuan_sembako.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1223093/original/001717500_1462280591-20160503-Pasar--Inflasi-Masih-Terkendali-Hingga-Juni-Jakarta-Angga-Yuniar-01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340262/original/076910500_1788497697-IMG_20260904_115312.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324888/original/030124600_1786776768-nt1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311976/original/002081100_1785471804-IMG_20260731_111428.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306219/original/027985100_1784868327-IMG_20260724_114037.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6843528/original/072960200_1779629425-1000324590.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299591/original/095713100_1784266667-IMG_20260717_123358.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294862/original/052449200_1783905486-Emak-emak_tertipu_sembako_murah.jpg)