Kadin: Peluang Investasi Transisi Energi Indonesia Rp 68.016,2 Triliun

Kadin menilai Indonesia berpeluang menarik investasi transisi energi hingga US$ 3,8 triliun sampai 2050.

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melihat peluang besar bagi Indonesia untuk menarik investasi dari sektor transisi energi. Secara global, investasi di sektor ini mencapai rekor US$ 2,3 triliun pada 2025.

Sementara itu, peluang investasi untuk jalur Indonesia menuju net zero diperkirakan mencapai US$ 3,8 triliun atau sekitar Rp 68.016,2 triliun (estimasi kurs Rp 17.899 per dolar AS) hingga 2050.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie mengatakan transisi energi kini bukan lagi sekadar agenda perubahan iklim. Menurut dia, transisi energi telah menjadi bagian dari daya saing ekonomi, ketahanan energi, dan strategi industri Indonesia.

“Transisi energi semakin menjadi agenda daya saing ekonomi, ketahanan energi, dan strategi industri, dan hal ini sangat penting bagi Indonesia,” ujar Anindya dikutip Antara, Selasa (6/10/2026). 

Menurut Anindya, peluang investasi tetap terbuka meski dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik, perubahan pola perdagangan, serta meningkatnya perhatian terhadap ketahanan energi.

Investasi global dalam transisi energi mencatat rekor US$ 2,3 triliun pada 2025. Kawasan Asia Pasifik menyumbang hampir separuh dari total investasi tersebut.

Indonesia Punya Modal Besar

Indonesia dinilai memiliki sejumlah modal untuk menangkap peluang investasi tersebut. Di antaranya kekayaan mineral kritis, potensi energi terbarukan, serta pasar domestik yang besar.

Selain itu, perkembangan kendaraan listrik, industri baterai, biofuel, dan panas bumi juga menjadi sektor yang dapat mendorong investasi dalam transisi energi.

“Hal tersebut menjadi fondasi yang kuat bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah dan membangun industri yang lebih bernilai tinggi dengan emisi karbon yang lebih rendah di dalam negeri,” kata Anin.

Anindya mengatakan terdapat tiga prioritas yang perlu diperkuat Indonesia.

Pertama, transisi energi harus meningkatkan daya saing sekaligus ketahanan energi nasional. Ketersediaan energi yang andal, terjangkau, dan semakin rendah karbon dinilai penting untuk memperkuat industri, menarik investasi, serta menciptakan lapangan kerja.

Kedua, Indonesia perlu meningkatkan nilai tambah dari ekonomi energi bersih. Indonesia tidak cukup hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi perlu mendorong industrialisasi hijau.

 

Dibutuhkan Kepastian Regulasi

Prioritas ketiga adalah memperkecil kesenjangan antara ketersediaan modal dan proyek yang siap mendapatkan pembiayaan.

Menurut Anindya, hal itu dapat dilakukan dengan menghadirkan regulasi yang lebih pasti, menyiapkan proyek yang kredibel, memperkuat infrastruktur, serta menyediakan mekanisme pembiayaan yang membuat proyek berkelanjutan layak dibiayai dalam skala besar.

“Di sinilah kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi sangat penting,” ujar Anin.

Lebih lanjut, Anindya menegaskan Kadin Indonesia terus mendorong semangat Indonesia Incorporated. Konsep tersebut mempertemukan pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, investor, lembaga keuangan, dan mitra internasional.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya Indonesia dalam menangkap peluang investasi transisi energi sekaligus mendukung target pembangunan nasional.

Dengan potensi investasi yang besar, transisi energi juga dinilai dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk membangun industri bernilai tambah tinggi. Langkah ini sekaligus dapat mendorong penggunaan energi yang lebih rendah emisi di dalam negeri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6