Masuki Usia 47 Tahun, KFC Indonesia Bertransformasi dari QSR ke QXR untuk Experience Lebih Berkesan

KFC Indonesia memasuki usia 47 tahun dengan bertransformasi dari QSR ke QXR. Intip experience baru yang disiapkan untuk konsumen.

Diterbitkan 29 September 2026, 20:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengalaman makan di restoran kini tak lagi hanya berbicara tentang menu yang tersaji di meja. Kemudahan memesan, suasana restoran, interaksi dengan staf, hingga cara sebuah brand berkomunikasi dengan konsumennya ikut membentuk pengalaman secara keseluruhan.

Perubahan perilaku tersebut menjadi salah satu hal yang direspons KFC Indonesia saat memasuki usia ke-47. Dalam perayaan hari jadinya di KFC Taman Melawai, Jakarta, Selasa (29/9/2026), KFC memperkenalkan babak baru dengan bertransformasi dari konsep Quick Service Restaurant (QSR) menuju Quick Experience Restaurant (QXR).

Transformasi ini menjadi langkah KFC dalam merespons perkembangan teknologi, dinamika budaya, serta pilihan konsumen yang semakin beragam. Pengalaman yang telah dibangun selama hampir lima dekade kini dibawa ke arah yang lebih modern, personal, dan relevan tanpa meninggalkan identitas yang telah dikenal lintas generasi.

Director V PT Fast Food Indonesia Tbk, Wachjudi Martono mengatakan, perjalanan panjang KFC bersama masyarakat Indonesia menjadi pijakan untuk terus berkembang mengikuti perubahan.

“Selama 47 tahun, KFC telah menjadi bagian dari berbagai momen masyarakat Indonesia. Memasuki usia ke-47, kami melihat ini sebagai momentum untuk terus berkembang bersama konsumen. Modernisasi bukan berarti meninggalkan apa yang telah menjadi kekuatan KFC, tetapi membawa pengalaman KFC ke tahap berikutnya tanpa kehilangan cita rasa original yang telah menjadi bagian dari perjalanan kami,” ujar Wachjudi.

Sejak membuka gerai pertamanya di Indonesia pada 1979, KFC kini telah berkembang menjadi 683 gerai yang beroperasi di 181 kota pada 34 provinsi.

“Adaptasi dan perkembangan kami dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan dalam bentuk inovasi produk, pengalaman kunjungan restoran bagi pelanggan, pemanfaatan teknologi, kanal digital, dan yang terpenting adalah bagaimana kami tetap relevan bagi konsumen,” lanjutnya.

Dari Quick Service Menuju Quick Experience

Director VII PT Fast Food Indonesia Tbk, Dio May Avico menjelaskan, transformasi dari QSR menuju QXR berangkat dari perubahan cara konsumen memilih dan berinteraksi dengan sebuah brand.

“Pasar terus berkembang dan konsumen terus berubah, begitu juga dengan cara mereka memilih sebuah brand. Karena itu, kami ingin semakin dekat dengan konsumen dan menjadi bagian dari budaya yang berkembang di masyarakat. Kami tidak hanya ingin mengikuti tren, tetapi menciptakan momen yang dapat menjadi bagian dari percakapan dan pengalaman konsumen,” ujar Dio.

Menurutnya, perubahan dari QSR menjadi QXR memang hanya mengganti satu huruf, tetapi membawa makna yang signifikan. KFC tak lagi hanya menitikberatkan pada kecepatan layanan, melainkan juga pengalaman yang diterima pelanggan setiap kali berkunjung.

“Sekarang kami ingin setiap kunjungan menjadi berkesan bagi pelanggan. Tetap cepat, tetapi ada experience-nya. This is our new way to play, cara baru kami untuk terhubung dan berinteraksi dengan pelanggan sehingga pengalamannya lebih dari sekadar membeli ayam,” jelas Dio.

Konsep QXR diterjemahkan melalui empat fokus, yakni Modern Experience, Modern Assets, Modern Menu, dan Modern Communication. Keempatnya terhubung melalui cultural relevance agar modernisasi tetap dekat dengan konsumen.

“Pengalaman itu nggak cuma dirasakan dari menu yang baru dengan cita rasa yang sudah menjadi heritage-nya KFC, tapi juga pengalaman ketika baru masuk ke restoran dari tim operation kami, lalu proses pemesanan, enjoyment makanannya, sampai dengan prosesnya selesai,” tambahnya.

Digital Makin Seamless, Human Hospitality Tetap Penting

Pada pilar Modern Experience, KFC menghadirkan pengalaman yang lebih seamless melalui KFCku App, Kiosk, dan Web Order untuk mengikuti kebiasaan konsumen yang semakin digital.

Namun, pemanfaatan teknologi tidak serta-merta menggantikan interaksi manusia. Human hospitality tetap menjadi bagian dari pengalaman yang personal dan berkesan, mulai dari pelanggan memasuki restoran hingga berinteraksi dengan tim KFC.

Sementara melalui Modern Assets, KFC mulai menerapkan New Visual Identity yang dapat dipadukan dengan karakter dan budaya masing-masing daerah. Salah satu penerapannya akan hadir di KFC Banyuwangi dengan tampilan modern yang tetap membawa inspirasi dari karakter lokal.

GM Marketing PT Fast Food Indonesia Tbk, Alfiya Rahmani mengatakan, pengalaman menjadi bagian penting dalam transformasi tersebut.

“Kami ingin mengubah momen yang biasa menjadi sesuatu yang luar biasa dan memorable. Karena experience bukan hanya apa yang terjadi ketika pelanggan datang ke restoran, tetapi juga apa yang terjadi setelahnya,” ungkap Alfiya.

Lebih Banyak Cara Menikmati KFC

Transformasi juga menyentuh menu. Melalui Modern Menu, KFC mengembangkan pilihan yang lebih beragam untuk menyesuaikan kebutuhan dan momen konsumsi pelanggan.

“Karena itu, kami juga melakukan modernisasi pada menu-menu kami. Bukan sekadar meluncurkan produk baru, tetapi memberikan lebih banyak cara untuk menikmati KFC,” kata Alfiya.

Pengembangan tersebut mencakup menu boneless, pilihan makanan yang lebih praktis dibawa, beragam saus, hingga minuman. Peningkatan juga menyentuh keseluruhan pengalaman produk, mulai dari penyajian hingga packaging.

Di tengah modernisasi, KFC juga berupaya menjaga keseimbangan antara pelanggan lama dan generasi baru. Identitas serta familiarity KFC tetap dipertahankan, sembari menyesuaikan diri dengan perubahan cara makan, pengalaman konsumen, dan digitalisasi.

Dekati Next Gen Lewat Hal yang Mereka Sukai

Pilar Modern Communication membawa KFC bergerak menjadi social-first brand dengan komunikasi yang lebih interaktif dan dua arah. Salah satu fokusnya adalah mendekatkan KFC dengan Next Gen, khususnya generasi berusia 14-22 tahun yang dipandang sebagai cultural catalyst.

“Melalui pendekatan Speak Their Culture, Turn Moments into Memories, dan Connect Through What They Love, KFC ingin memahami lebih dekat budaya, minat, serta berbagai hal yang menjadi bagian dari kehidupan generasi berikutnya,” ujar Alfiya.

Menurutnya, kedekatan dengan generasi baru tidak cukup dibangun dengan sekadar berbicara kepada mereka.

“Kalau kami ingin dekat dengan mereka, kami tidak bisa hanya speak to them. We need to speak with them. Kami perlu mendengarkan mereka, memahami apa yang mereka sukai, dan memahami apa yang berarti bagi mereka,” tuturnya.

Koneksi tersebut dibangun melalui berbagai hal yang dekat dengan generasi baru, seperti musik, olahraga, kreativitas, gaming, komunitas, dan beragam passion. KFC juga menghadirkan pengalaman luring melalui KFC Bucket Hoops, Children Creative Carnival, dan KFC Birthday Party.

Memasuki usia ke-47, transformasi dari QSR menuju QXR menjadi cara KFC membawa pengalaman yang telah dikenal selama hampir lima dekade menuju babak berikutnya. Mulai dari kemudahan digital, tampilan restoran yang lebih modern, pilihan menu yang semakin beragam, hingga komunikasi yang lebih dekat dengan generasi baru.

Pengalaman baru tersebut akan hadir secara bertahap melalui berbagai touchpoint KFC. Konsumen pun bisa merasakan sendiri bagaimana konsep QXR membawa pengalaman menikmati KFC lebih dari sekadar memesan makanan, mulai dari memasuki restoran, memilih dan menikmati menu, hingga terhubung dengan berbagai momen yang mereka sukai.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6