Menteri PU Ancam Copot Pejabat Ditjen SDA Buntut Temuan Sawah Kering

Menteri PU Dody Hanggodo mengancam mencopot pejabat Ditjen SDA usai menemukan ketidaksesuaian laporan data dengan kondisi riil sawah kekeringan di lapangan.

Diterbitkan 28 September 2026, 22:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, berencana mencopot sejumlah pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PU. Langkah tegas ini diambil usai ditemukannya banyak area persawahan yang mengalami kekeringan di beberapa wilayah.

Dody mengungkapkan rencana perombakan tersebut setelah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa wilayah di Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi, hingga Kabupaten Cirebon. Ia menilai terdapat ketidaksesuaian mendasar antara data yang dilaporkan jajarannya dengan kondisi riil di lapangan.

Ia mengaku geram karena laporan resmi yang diterimanya mengklaim tidak ada kendala dan pasokan air tercukupi. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya—masih banyak sawah yang mengalami kekeringan drastis. Atas dasar itulah sejumlah pejabat masuk dalam radar pencopotan.

"Pasti Direktur OP (Bina Operasi dan Pemeliharaan) saya copot, tidak mungkin tidak. Kepala Balai (BBWS Citarum) saya copot, Kasatker dan PPK saya copot, pasti itu," tegas Dody, mengutip video yang diterima Liputan6.com, Senin (28/9/2026).

 

 

Berulang Kali Ingatkan

Dody menjelaskan, setelah meninjau langsung lokasi kekeringan, sebenarnya ada beberapa solusi teknis cepat yang semestinya bisa diambil. Misalnya, mengalirkan air dari sumber air primer ke saluran sekunder menggunakan pompa berdaya listrik dan pipa saluran.

"Yang tidak ada saluran tersiernya, ya buatlah saluran tersier kecil-kecilan. Ajak petani membuat bersama-sama, itu murah dan tidak mahal. Dengan begitu, ada sekitar hampir 400 hektare yang bisa diairi dengan mudah," bebernya.

Ia menceritakan bahwa sejak awal tahun 2026, dirinya telah berulang kali mengingatkan jajaran akan bahaya kekeringan yang mengancam sawah-sawah petani. Namun hingga September 2026, penanganan di lapangan dinilai belum berjalan optimal akibat laporan manis yang disampaikan bawahannya.

"Jadi data kami yang di Dasbor (dashboard) itu keren, hijau semua, tidak ada merahnya. Tapi itu bisa dibuktikan bahwa sebenarnya tidak tepat, karena di beberapa titik masih ada kekeringan di sana-sini," ucap Dody.

"Saya sangat menyesalkan di kementerian saya sendiri, sudah hampir dua tahun ini masih saja hobi memberi pemberi harapan hampa (PHP) kepada atasan," imbuhnya.

Mempercepat Penanganan Kekeringan Nasional

Di sisi lain, Kementerian PU terus mengklaim mempercepat upaya penanganan darurat kekeringan di berbagai daerah. Sejak Juli hingga 24 September 2026, intervensi penanganan telah dilakukan di 3.288 lokasi guna menjaga ketersediaan air bersih, kebutuhan irigasi pertanian, hingga antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dari total lokasi tersebut, sebanyak 358 lokasi berada di area persawahan, 2.553 lokasi di kawasan permukiman warga, dan 377 lokasi difokuskan untuk penanganan karhutla.

Upaya darurat ini diklaim berhasil menyelamatkan 141.440 hektare sawah dari ancaman gagal tanam maupun gagal panen (fuso). Selain itu, Kementerian PU telah menyalurkan 48,9 juta liter air bersih yang menjangkau sekitar 1,75 juta jiwa.

Dody menegaskan bahwa penanganan kekeringan dan ancaman kebakaran harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat dan produktivitas sektor pangan tetap terjaga.

"Di tengah situasi dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, air menjadi fondasi yang sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu," kata Menteri Dody.

 

Penyaluran Pompa Air ke Sawah Terdampak

Untuk menjaga pasokan air bagi sektor pertanian, Kementerian PU menjalankan serangkaian tindakan di 358 lokasi persawahan terdampak. Penanganan mencakup pemompaan air sungai ke area sawah, normalisasi saluran irigasi utama dan sekunder, pembangunan saluran darurat, hingga pengaturan giliran distribusi air.

Teknologi irigasi hemat air juga diterapkan guna mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya air agar cakupannya dapat diperluas ke area persawahan di sekitarnya. Dari 358 lokasi persawahan tersebut, sebanyak 272 lokasi telah selesai ditangani, sementara 86 lokasi sisanya masih dalam proses penyelesaian.

 

Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih Masyarakat

Selain sektor pertanian, pemerintah memprioritaskan pemenuhan kebutuhan air domestik masyarakat. Dari 2.553 lokasi permukiman yang ditangani, sebanyak 2.077 lokasi telah tuntas dan 476 lokasi masih dalam tahap pengerjaan.

Kementerian PU mengerahkan armada mobil tangki dan hidran umum, membangun sumur bor baru, serta berkoordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan PDAM setempat untuk memperkuat pasokan air di wilayah-wilayah terdampak kekeringan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6