Suahasil Sebut Ekonomi Indonesia Tetap Solid di Tengah Gejolak Global

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, pertumbuhan ekonomi tetap kuat dan aliran modal mulai masuk.

Diterbitkan 23 September 2026, 16:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 saat Purbaya Yudhi Sadewa menjadi Menteri Keuangan, tetap solid di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Suahasil menilai kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang kuat, inflasi yang terkendali, serta mulai masuknya kembali aliran modal ke Indonesia.

Suahasil mengatakan ketahanan ekonomi domestik juga terlihat dari kecukupan cadangan devisa, neraca perdagangan yang memadai, serta pertumbuhan kredit yang baik. Hingga 14 September 2026, akumulasi aliran modal masuk melalui Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI mencapai Rp140,7 triliun.

“Di tengah-tengah situasi yang seperti itu kita melihat bahwa Indonesia itu terus mampu resilient. Resilient itu berarti memiliki daya tahan. Mampu tumbuh tetap solid di semester 1 2026,” ujar Suahasil di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Suahasil mengatakan aliran modal yang sebelumnya keluar mulai menunjukkan pergerakan masuk melalui sejumlah instrumen keuangan. Kondisi tersebut menunjukkan perhatian investor global terhadap Indonesia ketika pasar global menghadapi gejolak.

“Pertumbuhan ekonomi tetap kuat, inflasi terkendali, dan kita sudah mulai melihat bahwa terjadi aliran modal masuk. Kalau beberapa bulan yang lalu kita masih melihat aliran modal keluar, tapi di beberapa waktu terakhir kelihatan mulai masuk ini,” kata Suahasil.

Suahasil mengatakan ketahanan ekonomi Indonesia berlangsung ketika konflik Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian global. Konflik tersebut memengaruhi sektor militer, keuangan, dan perdagangan sehingga meningkatkan eskalasi politik dan ketidakpastian ekonomi.

Ia mengatakan perubahan kebijakan suku bunga Amerika Serikat juga menjadi faktor yang terus dipantau pemerintah. Kondisi tersebut mendorong sektor keuangan mengantisipasi situasi suku bunga yang bertahan tinggi dalam waktu lebih lama.

Suahasil mengatakan pemerintah juga memantau perubahan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan negara mitra utama secara berkala. Perkembangan tersebut memengaruhi hubungan dagang, ekspor Indonesia, serta permintaan dari pasar ekspor.

 

Keyakinan Konsumen Masih Tinggi

Di dalam negeri, Suahasil mengatakan keyakinan konsumen masih cukup tinggi dan konsumsi masyarakat kelas menengah atas masih cukup kuat. Penjualan mobil dan sepeda motor juga masih tumbuh positif, sementara penjualan semen domestik dan listrik tetap menunjukkan pertumbuhan positif.

Suahasil mengatakan kondisi tersebut perlu didukung dengan kebijakan fiskal yang semakin adaptif. Pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan APBN dengan perubahan kondisi global untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi masyarakat.

“Kebijakan fiskal harus makin adaptif, harus makin bisa menyesuaikan dengan kebutuhan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan melindungi masyarakat,” ujar Suahasil.

 

Tantangan yang Pengaruhi Fiskal

Menurut Suahasil, volatilitas harga komoditas, nilai tukar, dan suku bunga menjadi tantangan yang memengaruhi pengelolaan fiskal. Perubahan ketiga indikator tersebut dapat berdampak terhadap penerimaan dan belanja negara sehingga pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan secara berkala.

Suahasil mengatakan Kementerian Keuangan menyampaikan perkembangan ekonomi dan APBN melalui konferensi pers bulanan untuk menjaga transparansi pengelolaan fiskal. Pemerintah juga menghubungkan kebijakan APBN dengan prioritas pembangunan di bidang pangan, energi, dan sumber daya manusia.

Suahasil menegaskan kebijakan fiskal harus menjalankan fungsi sebagai penyangga guncangan ekonomi sekaligus mendukung pembangunan. Pemerintah juga perlu menjaga keberlanjutan fiskal dalam jangka pendek dan jangka panjang di tengah kondisi ekonomi global yang terus berubah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6