Houthi Blokade Maritim Arab Saudi Ancam Pasokan Minyak

Militan Yaman, Houthi, akan berlakukan blokade maritim kepada Arab Saudi, harga minyak diprediksi meroket.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 15:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Militan Houthi di Yaman deklarasikan blokade maritim terhadap Arab Saudi, Senin, 20 Juli 2026 lantaran mereka mengklaim Riyadh telah mengebom Bandar Udara Internasional Sana’a. Blokade ini mengancam akan memperparah gangguan pasokan minyak yang sudah tertekan akibat serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.

Melansir CNBC, Selasa (21/7/2026), militan tersebut kerap mengancam untuk menutup Selat Bab-el-Mandeb selama perang AS-Iran. Selat ini adalah arus utama kapal komersial yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden dan pasar global.

Dalam pernyataan resminya, Houthi berpendapat Arab Saudi telah menerapkan “blokade agresif” terhadap mereka. Tekanan memuncak pekan lalu saat mereka mengklaim bahwa Bandar Udara Internasional Sana’a jadi korban pengeboman oleh Riyadh.

Pihak Arab Saudi telah mengalihkan jutaan barel minyak per hari melalui pipa ke sebuah terminal ekspor di Laut Merah. Ekspor ini menjadi angin segar bagi pasar minyak global selama perang AS-Iran.

Namun, blokade Selat Bab-el-Mandeb akan menghambat ekspor barel tersebut, memperkeruh keadaan pasar minyak global yang sudah tertahan akibat serangan Iran terhadap tanker di Selat Hormuz.

Ancaman Houthi Belum Pengaruhi Harga Minyak Mentah

Harga minyak mentah nyaris tidak berubah semenjak kelompok Houthi mendeklarasikan ancaman tersebut. Harga minyak Brent, yang menjadi patokan internasional, melonjak hampir 4% dalam semalam hingga menembus angka US$ 90 per barel, atau sekitar Rp 1,6 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.889).

Sentimen Harga Minyak Lainnya

Lonjakan ini terjadi setelah setidaknya tiga orang anggota militer AS tewas pada pertempuran terkini antara AS dan Iran. Harga kembali menurun setelah Tehran mengumumkan bahwa mereka terbuka untuk negosiasi dengan Washington.

Perang antara AS dan Iran memanas setelah kesepakatan yang dibuat pada 17 Juni 2026 untuk membuka kembali Selat Hormuz pupus. Teheran berkali-kali menyerang tanker minyak, menewaskan setidaknya dua dan melukai lebih dari sepuluh awak kapal pada bulan ini.

Menanggapi serangan ini, AS telah mengebom Iran selama sembilan hari berturut-turut dan kembali memberlakukan blokade lautnya. Sebagai gantinya, Tehran telah meluncurkan rudal kepada sekutu AS di kawasan Teluk.

Selama peperangan ini meningkat, perlintasan tanker telah menyusut. Pemerintahan Presiden AS Trump sempat memaparkan selat tetap dibuka, dan jutaan barel minyak diekspor setiap hari di bawah pengawasan militer AS.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6