BPDP Siapkan Anggaran untuk Program B50 hingga Solar Nelayan

BPDP memperkirakan kebutuhan dana program biodiesel tembus Rp 32,3 triliun pada 2026.

Diterbitkan 15 Juli 2026, 15:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memprediksi kebutuhan dana program biodiesel 2026 menyentuh Rp 32,3 triliun. Seiring kebutuhan dana, BPDP juga memastikan kesiapan anggaran untuk mendanai program implementasi biodiesel 50% (B50) dan subsidi solar bagi nelayan.

Demikian disampaikan Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP Muhammad Alfansyah, dikutip dari Antara, Rabu (15/7/2026).

“(Soal kesiapan anggaran) BPDP siap support saja,” ujar Muhammad Alfansyah.

Ia memprediksi, kebutuhan dana program biodiesel 2026 menyentuh Rp 32,3 triliun. Meski demikian, ia memastikan program-program pendukung di sektor sawit tetap berjalan dan tidak terganggu, mulai dari program peremajaan sawit rakyat (PSR), program sarana dan prasarana (sarpras), pengembangan sumber daya manusia (SDM), hingga pendanaan riset.

“Sudah saya sampaikan tadi, PSR, sarpras, riset, SDM, tidak boleh tidak ada dananya, itu pasti harus ada,” kata Alfansyah.

Selain program B50, ia mengatakan, BPDP juga mempersiapkan anggaran yang dibutuhkan untuk 400 ribu kiloliter solar bagi nelayan.

Adapun ia mengatakan, anggaran yang disiapkan kurang dari Rp 1,5 triliun dengan asumsi subsidi yang akan ditanggung oleh BPDP sebesar 3.600/liter dan dikalikan dengan alokasi solar yang ditetapkan sebesar 400 ribu kiloliter.

Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pemberian harga khusus bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 15.000 per liter bagi pengusaha nelayan yang mengoperasikan kapal berukuran 30 hingga 200 gross ton (GT).

“Karena pengusaha nelayan ini perlu diberikan harga kekhususan, tadi dibahas bahwa harga yang disepakati adalah di harga Rp15.000 per liter,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Senin, 13 Juli 2026.

Ia menuturkan, harga BBM non-subsidi sebelumnya sempat mencapai Rp 21.300 per liter. Sementara itu, nelayan dengan kapal di bawah 30 GT telah memperoleh BBM bersubsidi seharga Rp6.800 per liter.

Airlangga menuturkan, harga rata-rata produksi solar dalam negeri sekitar Rp 18.600 per liter. Selisih sekitar Rp 3.600 per liter akan dibiayai melalui dana BPDP, bukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

BPDP Jadi Lokomotif Pengembangan SDM Sawit Nasional

Sebelumnya, pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan industri kelapa sawit nasional yang berkelanjutan.

Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat ME Manurung, mengatakan bahwa Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP memiliki peran strategis untuk meningkatkan kualitas SDM di sektor kelapa sawit nasional.

Dia menuturkan, berbagai program BPDP baik dalam bentuk beasiswa kelapa sawit maupun pelatihan bagi petani telah memberikan kontribusi positif terhadap kemajuan industri sawit.

"Saya melihat salah satu kata kunci keberhasilan sawit Indonesia sampai dengan saat ini adalah dukungan BPDP terkhusus di sektor SDM," katanya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Gulat Manurung mengatakan, program-program BPDP yang berfokus pada pengembangan SDM semakin terarah dan tepat sasaran. Implementasi program tersebut diwujudkan melalui pelatihan dan pendidikan teknis serta dukungan terhadap penelitian dan pemberian beasiswa di bidang kelapa sawit.

 

 

Melakukan Evaluasi

Ia mendorong BPDP untuk terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan program guna meningkatkan efektivitas serta dampak nyata terhadap industri. Langkah evaluasi dan perbaikan yang dilakukan selama ini telah memperkuat posisi BPDP sebagai lokomotif utama dalam pengembangan SDM kelapa sawit nasional.

Terkait program pelatihan petani sawit, ia berharap bisa semakin tepat sasaran. Program pelatihan teknis bagi petani sawit ini penting guna meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan profesionalisme sehingga terwujud industri kelapa sawit nasional yang semakin produktif dan berkelanjutan.

"Saya melihat evaluasi dan perbaikan yang cukup signifikan telah membuat BPDP sebagai lokomotif SDM sawit Indonesia. SDM sawit harus di depan, paling tidak setara dengan perkembangan dinamika teknologi perkebunan kelapa sawit. Makanya kampus-kampus yang menjadi mitra SDM sawit harus berkualitas" ujarnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6