Kebut Hilirisasi Mineral Kritis, Danantara Sinergikan 4 BUMN

Danantara sinergikan 4 BUMN guna amankan pasokan mineral kritis dan percepat transformasi industri material maju di dalam negeri.

Diterbitkan 14 Juli 2026, 16:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menegaskan pentingnya hilirisasi bahan tambang demi mendongkrak daya saing industri nasional. Setidaknya, empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kini didorong untuk mengoptimalkan pemanfaatan mineral kritis yang diproduksi di dalam negeri.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani menekankan bahwa Indonesia harus segera naik kelas dalam rantai nilai material maju. Indonesia dianugerahi kekayaan mineral melimpah, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga logam tanah jarang (rare earth).

"Bahan-bahan ini merupakan fondasi teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan, dan energi bersih. Namun, selama puluhan tahun kita terlalu sering berhenti di titik ekstraksi, mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga berkali-kali lipat," ujar Rosan dalam keterangan resminya, Selasa (14/7/2026).

Sebagai langkah konkret, Danantara memfasilitasi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan material maju (critical minerals downstreaming) dalam acara Danantara’s Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing. Sinergi ini melibatkan empat entitas besar yaitu PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, PT LEN Industri (Persero) atau DEFEND ID, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas.

Kerja sama ini bertujuan untuk mengoptimalkan pasokan dan penyerapan (supply-offtake) mineral kritis untuk kebutuhan industri strategis domestik. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat lahirnya industri material maju nasional berskala besar lewat pengembangan teknologi bersama.

Selain itu, kolaborasi ini diproyeksikan menyokong program strategis nasional, seperti produksi mobil dan motor listrik nasional, industri dirgantara, maritim, komponen dasar, sektor pertahanan, hingga ketenagalistrikan.

Transformasi Menuju Ekonomi Berbasis Teknologi

 

Pada kesempatan yang sama, Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit P. Santosa menjelaskan bahwa pengembangan industri middle stream (proses antara) untuk material maju merupakan bagian dari transformasi menuju ekonomi berbasis teknologi dan manufaktur bernilai tambah tinggi.

"Kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada ketersediaan mineral, tetapi pada kemampuan kita mengubahnya menjadi ekosistem industri material maju. Agenda besarnya adalah membangun kapasitas industri yang lebih luas, bernilai tambah tinggi, dan kompetitif secara global," jelas Sigit.

 

Gandeng Perusahaan Abu Dhabi

Sebelumnya, PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas mulai menjajaki pengelolaan logam tanah jarang (rare earth) di Indonesia dan Republik Gabon, Afrika Tengah. Proyek ini akan digarap bersama perusahaan asal Abu Dhabi yakni NEM.

Perminas bahkan telah meneken Nota Kesepahaman (MoU) dengan New Energy Metals Holdings Ltd (NEM). MoU itu menetapkan kerangka kerja untuk mengevaluasi potensi kolaborasi strategis terkait. Pertama, sumber daya niobium dan rare earth elements (REE) Maboumine di Republik Gabon, dan kedua, potensi inisiatif rantai nilai hilir rare earth di Indonesia.

"Fase berikutnya pertumbuhan industri Indonesia membutuhkan akses yang tangguh terhadap input strategis serta kemampuan untuk mengonversi input tersebut menjadi produk hilir yang berdaya saing global," kata Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani.

Pemanfaatan Logam Tanah Jarang

Kerja sama ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat integrasi hulu-hilir serta membangun rantai pasok rare earth yang tangguh dan berdaya saing global yang mencakup pengembangan sumber daya, pemrosesan, dan manufaktur lanjutan.

Rosan memastikan, kerja sama ini selaras dengan agenda hilirisasi, penguatan rantai pasok mineral kritis, serta pengembangan kapabilitas pemrosesan dan manufaktur lanjutan melalui potensi pembiayaan dan partisipasi investasi strategis bersama Perminas, guna mendorong integrasi hulu–hilir yang berdaya saing global.

"Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi tersebut dan mendukung pengembangan rantai nilai mineral kritis strategis yang berorientasi masa depan," kata Rosan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6