Dolar Singapura Sentuh 13.946 terhadap Rupiah, Ini Kata Ekonom

Dolar Singapura menguat terhadap rupiah pada Kamis, (28/5/2026). Berikut sentimennya.

Diterbitkan 28 Mei 2026, 16:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rupiah tidak hanya melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Nilai tukar rupiah juga lesu terhadap dolar Singapura. Ekonom  menilai dolar Singapura yang menguat didorong aliran dana yang masuk ke Singapura.

Berdasarkan data google finance, Kamis, (28/5/2026), dolar Singapura menyentuh 13.946 terhadap rupiah. Di sisi lain, mengutip tradingeconomics.com, dolar Singapura terhadap rupiah kini sentuh 13.961. Secara tahunan, dolar Singapura naik 10,49% sedangkan secara bulanan menguat 3,36% terhadap rupiah. Padahal pada Januari 2026, dolar Singapura terhadap rupiah masih di kisaran 12.967.

Selain itu, dolar Singapura juga menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dolar AS terhadap Singapura di kisaran 1,28 pada Kamis pekan ini.

Ekonom BCA, David Sumual menuturkan, dolar Singapura yang menguat terhadap rupiah seiring aliran modal asing langsung ke Singapura dan Malaysia yang relatif deras setelah pandemi COVID-19.

“Banyak perusahaan teknologi berinvestasi di kedua negara tersebut selain perusahaan-perusahaan yang melakukan realokasi investasi dari China. Indonesia relatif kalah bersaing dengan negara tersebut sehingga neraca pembayaran kita pun defisit,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Seiring sentimen itu, David menuturkan, dolar Singapura dan Ringgit Malaysia menguat terhadap dolar Amerika Serikat, sedangkan mata uang negara berkembang cenderung melemah year to date (ytd).

Di sisi lain, CEO EMEA JPMorgan Asset Management Patrick Thomson menuturkan, dolar AS akan melemah dalam jangka panjang mengingat kekhawatiran atas tingginya tingkat utang AS. Dolar AS telah naik 1,8% sejak dimulainya perang Iran pada akhir Februari mengingat kredibilitas sebagai aset safe-haven.

“Hegemoni Departemen Keuangan AS masih hidup dan kuat, tetapi kami melihat keseimbangan fiskal dan perdagangan serta kemampuan untuk kembali membayar utang tersebut,” ujar Patrick dikutip dari Yahoo Finance.

Ia menuturkam, ada argument yang mengatakan dalam jangka panjang dolar AS akan melemah. “Dinamika posisi fiskal di AS menciptakan tingkat utang yang  tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Eropa dapat menjadi tempat berlindung bagi aset yang aman,” ia menambahkan.

Kurs Rupiah Ditutup Loyo Jelang Libur Idul Adha

Sebelumnya, nilai tukar (kurs) rupiah melemah pada penutupan perdagangan hari ini Selasa 26 Mei 2026 atau menjelang hari raya Idul Adha. Kurs rupiah melemah 52 poin atau 0,29 persen jadi 17.796 per dolar AS dari sebelumnya 17.744 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini dipicu serangan baru AS ke Iran.

“AS telah melancarkan serangan baru terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan. Militer AS mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan untuk membela diri, dan bahwa gencatan senjata dengan Iran tetap berlaku,” ujarnya dikutip dari Antara, Selasa (26/5/2026)

Atas peristiwa tersebut, lanjutnya, setiap aksi militer baru berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, terutama pasca Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut.

Sebelumnya, AS dan Iran telah mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump sendiri mengisyaratkan kemajuan dalam negosiasi dengan Iran, dan mengklaim bahwa Republik Islam tersebut akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya, namun Iran membantah rencana untuk melepaskan uranium.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah ini berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).

 

Lonjakan PHK

Lonjakan PHK disebut terjadi hanya dalam satu bulan terakhir. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pekerja terdampak PHK mencapai 15.425 orang sepanjang Januari hingga April 2026. Kondisi itu mulai berdampak pada sejumlah perusahaan yang melakukan efisiensi hingga menghentikan operasional.

“Tekanan terhadap industri bukan hanya dipicu pelemahan rupiah, namun konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri non subsidi yang turut menambah biaya produksi perusahaan,” kata Ibrahim.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.789 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.743 per dolar AS.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6