Dolar AS Menguat di Tengah Harapan Kesepakatan Damai Amerika Serikat-Iran Memudar

Dolar Amerika Serikat (AS) sedikit menguat terhadap sejumlah mata uang pada Selasa, (26/5/2026).

Diterbitkan 26 Mei 2026, 19:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dolar Amerika Serikat (AS) stabil pada Selasa, (26/5/2026) seiring harapan investor terhadap kesepakatan yang segera tercapai untuk kembali membuka Selat Hormuz dan mengakhiri perang Iran terguncang oleh serangan baru Amerika Serikat (AS) terhadap target Iran. Selain itu, pernyataan terhadap kesepakatan antara AS-Iran membutuhkan waktu juga mempengaruhi pergerakan mata uang.

Mengutip Yahoo Finance, Selasa (26/5/2026), prospek kesepakatan perdamaian telah mendorong harga minyak di bawah USD 100 per barel, mengurangi tekanan pada mata uang pasar berkembang dan sedikit meningkatkan sentimen risiko pekan ini.

Namun, komentar dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio pada Selasa pekan ini kalau negosiasi kesepakatan dengan Iran dapat membutuhkan beberapa hari, setelah pasukan AS menyerang di Iran Selatan. Hal itu meredam optimisme pasar tersebut.

Euro sedikit melemah menjadi US$ 1,163 pada Selasa pekan ini setelah naik 0,3% pada awal pekan ini. Poundsterling turun 0,2% menjadi US$ 1,347, setelah naik 0,6% pada Senin pekan ini.

Dolar AS sedikit menguat terhadap sejumlah mata uang. Indeks dolar AS berada di 99,08, setelah turun 0,3% pada hari sebelumnya.

“Pasar tepat untuk memperhitungkan optimisme karena bahkan jalan menuju pembukaan kembali Selat Hormuz menurunkan risiko ekstrem seputar minyak, inflasi, dan pertumbuhan global,” ujar Chief Investment Strategist, Saxo, Charu Chanana.

“Saya tidak akan mengganggap kabar baik dalam negosiasi sebagai de-eskalasi yang berkelanjutan. Ujian sebenarnya bukanlah kesepakatan utama, tetapi apakah kapal tanker dapat bergerak bebas, premi asuransi dapat turun, dan aliran energi dapat kembali normal,” Chanana menambahkan.

Pergeseran sentimen itu membebani yen Jepang terhadap dolar AS,naik 0,2% menjadi 159,21 yen. Hal ini menempatkan mata uang itu mendekati 160 di tengah pelaku pasar mengamati potensi intervensi oleh pemerintah.

 

Mata Uang Lain

Sumber menuturkan, kepada Reuters kalau pemerintah melakukan intervensi pada akhir April agar yen tidak mendekati 160 per dolar AS.

Di sisi lain, dolar Australia turun 0,2% menjadi US$ 0,716, setelah menguat 0,6% pada Senin pekan ini.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS turun tajam pada Selasa pekan ini setelah pasar keuangan libur.

Selain itu, harga minyak juga sebagian pulih pada awal perdagangan, Selasa pekan ini karena serangan AS. Harga minyak Brent berjangka naik 1,5% menjadi US$ 97,76 per barel setelah turun 7% pada Senin pekan ini.

“Kami masih memperkirakan penurunan harga minyak yang lambat, bahkan jika harga turun secara berkelanjutan di bawah US$ 100 per barel pada paruh kedua 2026. Ini menunjukkan dukungan dolar AS terhadap neraca perdagangan tidak akan cepat memudar,” ujar Analis OCBC.

“Tidak ada alasan kuat untuk bersikap bearish terhadap dolar AS,” demikian seperti dikutip.

Analis OCBC menyampaikan itu dengan mempertimbangkan pertumbuhan AS yang tangguh dan tekanan inflasi yang didorong oleh artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang telah mendorong retorika Federal Reserve (the Fed) ke arah lebih hawkish.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6