Mengenal PT INTI, BUMN Telekomunikasi yang Terancam Ditutup

Akibat tata kelola buruk dan krisis keuangan, PT INTI masuk radar pembubaran. Simak profil BUMN telekomunikasi yang legendaris tersebut.

Diterbitkan 25 Mei 2026, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI masuk dalam radar pembubaran oleh Badan Pengaturan (BP) BUMN. Menurut Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, perusahaan yang berbasis di Bandung tersebut kini tengah menghadapi persoalan keuangan serius akibat tata kelola yang tidak berjalan optimal sehingga membebani operasional.

Langkah ini merupakan bagian dari program penataan dan penyederhanaan struktur perusahaan negara yang dilakukan BP BUMN bersama Danantara. Pemerintah menargetkan pemangkasan jumlah entitas BUMN hingga tersisa sekitar 250 perusahaan saja, dengan fokus utama pada bisnis inti dan sektor strategis.

Selain PT INTI, sejumlah BUMN lain seperti Djakarta Lloyd dan Krakatau Steel juga mengalami masalah keuangan yang serupa. Pengelolaan yang tidak terintegrasi selama ini dinilai menjadi faktor utama yang membuat perusahaan-perusahaan pelat merah tersebut sulit untuk dipulihkan dari keterpurukan.

Dony menjelaskan bahwa sebelum Danantara terbentuk, pengelolaan BUMN cenderung berjalan sendiri-sendiri tanpa mekanisme dukungan yang memadai antarkorporasi. Pasalnya, Kementerian BUMN selama ini hanya bertindak sebagai pemegang kuasa kelola, bukan pemilik langsung dari aset-aset BUMN tersebut.

BUMN Telekomunikasi yang Berdiri Sejak 1974

PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI merupakan salah satu perusahaan milik negara yang bergerak di sektor industri strategis nasional. Dikutip dari inti.co.id, Senin (25/5/2026), perusahaan yang resmi berdiri pada 30 Desember 1974 itu kini berkantor pusat di Jalan Moch Toha No. 77, Bandung, Jawa Barat.

Saat ini PT INTI memiliki fokus bisnis di bidang manufaktur, integrator sistem, serta layanan digital. Untuk menunjang operasionalnya, perusahaan juga mengoperasikan fasilitas produksi seluas delapan hektare di Jalan Moch Toha No. 225 Bandung yang digunakan untuk memproduksi perangkat telekomunikasi dan elektronik.

Sejarah PT INTI berawal dari kerja sama antara PN Telekomunikasi dan Siemens AG pada 1966. Kerja sama tersebut kemudian berkembang menjadi pembentukan Pabrik Telepon dan Telegraf (PTT) yang menjadi bagian dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pos dan Telekomunikasi (LPP Postel) pada 1968.

Enam tahun kemudian, tepatnya pada 1974, unit tersebut dipisahkan dan resmi berdiri sebagai perusahaan perseroan yang berada di bawah Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Postel).

Pada era 1970-an, perkembangan PT INTI juga tidak lepas dari strategi industrialisasi nasional yang dipelopori BJ Habibie saat menjabat Menteri Riset dan Teknologi.

 

Pernah Jadi Pemimpin Pasar Telekomunikasi Nasional

Perjalanan PT INTI mencapai puncak pertumbuhan pada periode 1985-1998, ketika pemerintah mulai menjalankan program digitalisasi infrastruktur telekomunikasi nasional.

Saat itu, PT INTI ditunjuk menjadi pemasok tunggal Sentral Telepon Digital Indonesia (STDI) melalui kerja sama dengan Siemens AG.

Perusahaan kemudian membangun pabrik STDI pertama di Indonesia dengan kapasitas produksi mencapai 150 ribu Satuan Sambungan Telepon (SST). Produksi perdana diluncurkan pada 1985 dengan kapasitas awal 10 ribu SST.

Produk STDI menjadi tulang punggung bisnis perusahaan dan memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan PT INTI.

Meskipun pemerintah kemudian membuka persaingan dengan menghadirkan pemasok lain seperti AT&T dan NEC pada 1990, PT INTI masih mampu mempertahankan dominasinya.

Hingga 1998, perusahaan tercatat menguasai sekitar 60% pangsa pasar infrastruktur telekomunikasi nasional.

Selain itu, PT INTI juga dikenal sebagai pelopor digitalisasi jaringan telekomunikasi di Indonesia serta ikut mendukung proyek otomatisasi telepon di berbagai wilayah Indonesia bersama Telkom.

 

Kini Fokus ke Manufaktur, Sistem Integrator dan Digital

Memasuki era 2000-an, PT INTI mulai mengubah arah bisnisnya. Perusahaan tidak lagi hanya fokus pada manufaktur perangkat telekomunikasi, tetapi berkembang menjadi penyedia solusi teknologi dan integrator sistem.

Perusahaan juga menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan multinasional seperti Motorola, Ericsson, Samsung, Alcatel, hingga Sagem.

Dalam perkembangannya, PT INTI memperluas portofolio bisnis ke sektor manufaktur dan perakitan, managed service, layanan digital, hingga sistem integrator.

Saat ini, lini bisnis PT INTI terbagi menjadi tiga sektor utama.

Pada sektor manufaktur, perusahaan memproduksi kabel serat optik, perangkat energi pintar (smart energy devices), serta tabung LPG komposit.

Di sektor integrator sistem, PT INTI mengembangkan proyek serat optik, Fiber to the Home (FTTH), penerangan jalan umum, pembangkit listrik tenaga surya, hingga sistem pengawasan Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B).

Sementara di sektor digital, perusahaan mengembangkan berbagai solusi seperti Smart Hospital Management System, Internet of Things (IoT), Big Data Analytics, Cyber Defence, hingga Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6