Sukses

Dynu, Menyulap Karung Goni Bekas Jadi Pundi Uang

Menciptakan sesuatu yang bernilai jual tinggi, tidak harus selalu menggunakan bahan baku baru dan terkadang mahal. Bahan baku bekas yang kadang banyak berserakan di sekitar kita bisa sangat berguna.

Hal ini yang coba dilakukan perempuan muda bernama Raezika Radhina Puri.  Ia mencoba membuat barang-barang bernilai tinggi dari karung goni bekas.

Di bawah bendera merek Dynu, karung goni yang biasanya hanya dipakai sebagai pembungkus beras maupun komoditas pertanian lain, disulap menjadi sejumlah produk fashion hingga perlengkapan rumah.

Masa Rintis Usaha

Ide membuat produk dari karung goni muncul ketika Dhina bertemu dengan seorang warga negara Jepang yang memakai tas unik berbahan baku karung goni.

Sayang, menurut dia, bahan tas tersebut bukan karung goni asli, melainkan campuran sintetis, sehingga tidak tahan lama dan mudah berjamur.

Terbersit dalam pikiran Dhina, peluang untuk membuat suatu barang dari karung yang biasa dipakai untuk membungkus gabah ini. Alhasil, pada 2011 Dhina pun mulai merintis usahanya dari nol.

"Kemudian kami mencari pengrajin karung goni yang memang benar-benar asli. Akhirnya mulai dikembangkan dan mulai mengikuti apa yang diinginkan pasar. Orang Indonesia yang paling konsumtif itu kan perempuan sehingga kami buat yang tidak jauh dari fashion," ujar dia saat diberbincang dengan Liputan6.om di Jakarta.

Dengan modal sekitar Rp 50 ribu, untuk membeli karung goni, benang dan peralatan menjahit seadanya, Dhina mulai membuat produk dari karung goni dengan keterampilan seadanya.

Dia kemudian memakai merk Bynu untuk produk-produknya tersebut. Menurutnya, nama ini dapat berarti berbeda dalam 4 bahasa, seperti dalam bahasa Perancis dan Jerman yang berarti nomor 1, dalam bahasa Inggris artinya beli sesuatu yang baru dan dalam bahasa Jawa yang artinya air.

"Ini eksperimen sendiri, produk karung goni sendiri sebenarnya sudah ada sebelumnya. Proses trial and error sekitar 1 tahun sampai kita temukan antiseptik karungnya yang aman untuk anak-anak dan ibu hamil. Kemudian bagaimana cara paling tidak mengurangi bau pada karung goni," lanjut dia.

Alasan memilih kerajinan dari karung goni ini, Dhina menilai karena kerajinan seperti ini sebenarnya telah ada namun masih belum dikenal luas, sehingga dia pun ingin lebih memperkenalkan jenis kerajinan ini sekaligus mendukung program global warming dan 3R (reuse, reduse, recycle). "Sampai sekarang ternyata interest-nya cukup baik terhadap produk dari karung goni ini," ungkapnya.

Proses Produksi

Proses pembuatan kerajinan ini terbilang cukup rumit, karena membutuhkan waktu yang cukup panjang dan beberapa kali proses pencucian untuk menghilangkan kotor dan bau pada karung goni.

Karung yang masih kotor, dicuci dikeringkan dan dipotong. Kemudian disambung dengan cara dianyam ulang pada sambungannya, sehingga berbentuk gulungan kain.

Setelah itu dicuci ulang, diberikan antiseptik, kemudian ada yang di-bleaching. Setelah bersih kemudian dibentuk pola, dipotong dan dicuci ulang untuk finishing. Selanjutnya disetrika uap agar bebas dari bakteri dan kutu.

Untuk bahan baku utama berupa karung goni, Dhina mengaku mendatangkan langsung dari wilayah Jember, Jawa Timur karena di wilayah tersebut masih banyak pabrik-pabrik yang menggunakan pembungkus dari karung goni.

Selain itu, di Jember jenis karung goni yang tersedia jauh lebih lengkap dibanding di wilayah lain, seperti besar kecil anyaman berbeda-beda sesuai dengan serat yang dipakai dan fungsi dari karung goni tersebut.

"Di Jakarta sebenarnya ada tetapi mungkin karena karungnya sudah digunakan kesekian kali sehingga karungnya sudah tidak mumpuni untuk diolah atau seratnya karungnya yang terlalu besar," ujar wanita kelahiran Surabaya, 16 Januari 1990 ini.

Berdayakan Anak Berkebutuhan Khusus

Selain membuat kerajinan dari barang bekas, Dhina ternyata memiliki misi khusus dari usahanya. Dia mengajak anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak-anak tuna rungu dan tuna wicara sebagai pekerja yang bertujuan memberikan mereka kesempatan untuk berkreatifitas sekaligus menghasilkan uang sendiri.

Saat ini, dia memiliki 5 orang anak berkebutuhan khusus tersebut untuk membantunya dalam memproduksi kerajinannya ini.

Dia bertemu dengan anak-anak tersebut karena sang adik juga merupakan seorang tuna grahita yang bersekolah sekolah luar biasa (SLB). Dari sekolah tersebut dia menemukan siswa-siswa yang pandai menjahit.

Usai lulus anak-anak tersebut, mulai diajak untuk membantunya karena telah memiliki keterampilan yang didapat dari sekolah untuk bisa hidup mandiri. "Ada juga freelance kalau ada pesanan banyak, itu pun juga anak-anak berkebutuhan khusus tersebut. Kendalanya banyak, salah satunya adalah masalah komunikasi jadi permasalahan utama, kami juga harus jaga perasaan mereka," tutur dia.

Produk-produk hasil karyanya terbagu menjadi 2 kategori yaitu fashion dan houseware. Untuk fashion pria dia memiliki produk berbagai macam tas seperti selempang, backpack, dan lain-lain.

Sementara pada fashion wanita seperti poch, beragam tas, bros dan lain-lain. Sedangkan untuk kategori houseware dia memproduksi seperti  taplak meja, tutup galon, tablemanner set, kitchen set dan lain-lain.

Harga yang ditawarkan pun bermacam-macam seperti untuk fashion mulai dari harga Rp 10 ribu sampai jutaan rupiah, begitu juga dengan houseware mulai dari Rp 50 ribu sampai jutaan rupiah.

Omset yang bisa dikantong Dhina per tahun rata-rata bisa mencapai Rp 70 juta. "Tiap produk ambil untung sekitar 20% sudah bersih. Yang paling banyak dicari tas dan poch," tutur dia.

Dia biasa memasarkan produknya melalui website atau sosial media sedangkan untuk penjual secara retail biasanya melalui event seperti bazzar, pameran atau melalui pesanan secara langsung.

"Penjualan keluar negeri sampai saat ini masih sama teman-teman dengan cara dibawa oleh mereka atau melalui pemeran yang diadakan disana, seperti sudah sampai ke China, Abudabi, Belanda, Australia," terangnya.

Dari segi kendala, Dhina mengatakan masih kesulitan pada alat karena yang digunakan saat ini masih memakai alat seadanya dan belum secanggih seperti produsen kerajinan pada skala besar.

Sedang untuk pemasaran, dia mengaku masih terkendala pada pola pikir orang Indonesia yang masih belum peduli dengan produk asli Indonesia. Namun dia yakin bahwa produk asli Indonesia seperti buatannya ini juga tidak kalah dengan produk-produk luar negeri.

Meski produksinya ini terbilang masih dalam skala rumahan, namun berkat usahanya tersebut dia pernah menyabet gelar Puteri Wirausaha Kreatif Indonesia Tahun 2012 untuk Kategori Inspiratif.

Dia pun berharap ke depan bisa memiliki galeri sendiri khusus untuk barang-barang hasil kreasinya. Selain itu memiliki tempat khusus workshop untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak kebutuhan khusus sebagai tempat bekerja dan adanya pasar yang mendukung menyalurkan hasil kreatifitas anak-anak tersebut. (Dny/Nur)