Rupiah Tembus 17.500, Ini Sederet Faktor Penyebabnya

Nilai tukar rupiah melemah hingga tembus 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS)

Diterbitkan 12 Mei 2026, 13:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah yang melemah hingga menyentuh level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa, 12 Mei 2026.

Pengamat komoditas yang juga Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai hal ini sebagai dampak dari kombinasi tekanan global dan domestik yang terjadi secara bersamaan. 

Sutopo menyebut kondisi ini sebagai refleksi dari “badai sempurna” yang menekan stabilitas mata uang domestik.

“Pelemahan Rupiah hingga menyentuh level 17.500 merupakan refleksi dari badai sempurna yang menggabungkan eskalasi geopolitik global dan tekanan fiskal domestik,” ujar Sutopo kepada Liputan6.com, Selasa (11/5/2026).

Menurut dia, penolakan proposal damai oleh Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran telah mendorong lonjakan harga energi global dan membuat inflasi bertahan tinggi. Kondisi tersebut memaksa imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tetap berada di level tinggi sekitar 4,42%.

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari terkurasnya cadangan devisa selama empat bulan berturut-turut dan besarnya utang jatuh tempo pemerintah. Situasi itu dinilai memicu defisit kepercayaan investor sehingga arus modal keluar dari pasar obligasi domestik sulit dibendung, meski pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di level 5,61%.

Panda Bond Jadi ‘Sekoci’ Pembiayaan

Sutopo juga menilai rencana penerbitan Panda Bond pada Juni 2026 merupakan langkah diversifikasi pembiayaan yang penting, meski dampaknya terhadap penguatan rupiah tidak akan terjadi secara instan.

“Panda Bond berfungsi sebagai ‘sekoci’ pembiayaan untuk mengurangi ketergantungan pada likuiditas Barat yang saat ini sangat mahal. Namun, efektivitasnya dalam menguatkan Rupiah secara langsung memang terbatas karena instrumen ini lebih bersifat mitigasi beban utang jangka menengah daripada alat intervensi pasar spot yang agresif,” katanya.

 

Penundaan Aktivasi BSF

Selain itu, ia menilai keputusan pemerintah menunda aktivasi skema pendanaan darurat merupakan langkah yang tepat untuk menjaga kredibilitas fiskal.

Sebagai gantinya, stabilisasi rupiah dinilai lebih efektif dilakukan melalui penguatan bauran kebijakan moneter, termasuk optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pengetatan aturan repatriasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA, serta intervensi pasar yang terukur. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6