Integrasi Hulu dan Hilir Pertambangan Jadi Kunci ke Pasar Global

Pemerintah mulai menyadari pentingnya menciptakan nilai tambah dari sumber daya mineral, bukan hanya mengekspor bahan mentah.

Diterbitkan 07 Mei 2026, 19:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Industri pertambangan di Indonesia terus memasuki fase perubahan seiring perbedaan tujuan dan kepentingan. Saat ini, hilirisasi dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat masa depan industri pertambangan sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional.

Ini diungkapkan Mantan Direktur Utama ANTAM sekaligus Chairman ITB Mining Engineering Alumni Association, Achmad Ardianto. Dia mengatakan langkah kebijakan pemerintah yang fokus pada hilirisasi saat ini sudah tepat sebagai program strategis nasional.

Ia mencontohkan, meskipun Indonesia merupakan produsen timah terbesar kedua di dunia dan memiliki cadangan batu bara sangat besar, tetapi masih belum memiliki kendali kuat terhadap harga komoditas global. “Karena itu hilirisasi harus dipercepat, bukan hanya tepat tetapi juga cepat,” ujar dia kepada media di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Dia menjabarkan, perjalanan sektor tambang Indonesia mengalami perubahan besar sejak era tahun 1967 yang berorientasi pada sistem kontrak dan eksploitasi sumber daya.

Perubahan besar mulai terjadi melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 yang mengubah sistem kontrak menjadi perizinan serta mulai memperkenalkan konsep hilirisasi pertambangan.

Pemerintah pun mulai menyadari pentingnya menciptakan nilai tambah dari sumber daya mineral, bukan hanya mengekspor bahan mentah.

“Kesadaran bangsa kita mulai tumbuh bahwa kita tidak bisa hanya menambang, tetapi juga harus menciptakan value added melalui hilirisasi,” katanya.

Kebijakan tersebut kemudian diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 yang mewajibkan hilirisasi dan memberikan berbagai insentif bagi perusahaan yang melakukan pengolahan mineral di dalam negeri.

Peran Semua Pihak

Meski demikian, dia mengakui masih ada sederet isu yang menjadi tantangan. Di sini, pentingnya kolaborasi lintas sektor yang dikenal dengan konsep Pentahelix dalam mendukung percepatan hilirisasi.

Keberhasilan hilirisasi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau pelaku usaha semata tapi membutuhkan kerja sama antara pihak lain seperti akademisi, organisasi profesi, masyarakat, dan media untuk menciptakan ekosistem pertambangan yang sehat dan berkelanjutan.

Selain hilirisasi, Achmad juga menyoroti pentingnya penerapan teknologi modern dalam industri tambang, termasuk pengolahan mineral, pengurangan limbah, pemanfaatan teknologi nano, hingga penggunaan artificial intelligence (AI).

Menurutnya, pengelolaan tambang tidak boleh hanya fokus pada pengambilan mineral utama, tetapi juga harus memperhatikan potensi lain yang terkandung dalam limbah tambang.

Hulu ke Hilir

Integrasi antara sektor pertambangan (mining) dan pengolahan mineral (mineral processing/metallurgy) menjadi kunci strategis bagi Indonesia dalam memperkuat posisi di pasar energi global.

Integrasi yang lebih erat antara sektor pertambangan di bagian hulu dan sektor pengolahan dan pemurnian/metallurgy dibagian hilir akan menjadi kunci untuk menciptakan efisiensi operasional, stabilitas pasokan, serta daya saing industri yang berkelanjutan.

Tantangan seperti fluktuasi harga komoditas, kebutuhan investasi teknologi pengolahan, serta tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan dan dekarbonisasi, mendorong pelaku industri untuk mempercepat adopsi inovasi dan memperkuat kolaborasi lintas sektor.

METCONNEX – Mine Aidic 202 diharapkan menjadi jembatan bagi percepatan hilirisasi dan pengelolaan sumber daya alam yang lebih bertanggung jawab bagi masa depan Indonesia.

Head of Committee MetConnex 2026 Bara Dipolyadi mengatakan ajang ini menjadi wadah kolaborasi antara praktisi industri, akademisi, regulator, hingga pelaku usaha untuk membahas arah pengembangan industri mineral dan metalurgi Indonesia.

“MetConnex ini sebagai platform untuk menghubungkan para ahli, praktisi industri, akademisi, serta pemegang kebijakan untuk berdiskusi tentang perkembangan teknologi dan strategi industri mineral ke depan,” ujar Bara.

Melalui forum ini, para pemangku kepentingan didorong untuk mengadopsi teknologi terkini, meningkatkan efisiensi proses, serta memastikan praktik industri yang selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, modernisasi sektor energi dan pengolahan mineral dalam negeri dapat terus berjalan secara berkelanjutan dan kompetitif.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6