Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan rupiah hampir mendekati 17.000 per dolar AS, atau di level Rp 16.979 pada penutupan perdagangan Jumat sore, 27 Maret 2026.Pelemahan rupiah terhadap dolar AS ini masih dari perang Iran dan AS.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 75 poin sebelumnya sempat melemah 80 poin di level Rp 16.979 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.904," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya, Jumat (27/3/2026).
Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih dipengaruhi oleh perang Iran dan AS. Terbaru, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan untuk mengakhiri perang dengan Iran berjalan dengan baik dan ia akan menghentikan serangan terhadap pembangkit energi negara itu selama 10 hari.
Advertisement
Meskipun Trump mengumumkan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi Iran, AS juga telah mengirim ribuan pasukan ke Timur Tengah, dengan Trump mempertimbangkan apakah akan menggunakan pasukan darat untuk merebut pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg.
Sementara, seorang pejabat Iran mengatakan bahwa proposal AS yang terdiri dari 15 poin, yang disampaikan kepada Teheran oleh Pakistan, adalah "sepihak dan tidak adil".
Di sisi lain, perang tersebut telah mengurangi pasokan minyak global sebesar 11 juta barel per hari, dengan Badan Energi Internasional menggambarkan krisis tersebut lebih buruk daripada dua guncangan minyak tahun 1970-an dan perang gas Rusia-Ukraina jika digabungkan.
"Selain itu, pasar memperkirakan skenario inflasi tinggi. Pada awal tahun, para pedagang memperkirakan setidaknya dua kali pemotongan suku bunga dari Federal Reserve (Fed). Namun, sejak konflik dimulai dan setelah keputusan kebijakan Fed pada 18 Maret, mereka mengurangi taruhan dovish mereka," ujarnya.
Sebaliknya, mereka memperkirakan pengetatan sebesar 12 basis poin oleh bank sentral AS, menurut Prime Market Terminal. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani emas dengan mengurangi daya tariknya sebagai aset yang tidak menghasilkan.
Faktor Internal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337095/original/079976700_1609328703-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-4.jpg)
Ibrahim mengatakan ada momentum Hari Raya Lebaran 2026 turut menpengaruhi pelemahan rupiah. Momen tersebut dinilai menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tiga bulan pertama atau kuartal I-2026. Peningkatan konsumsi rumah tangga hingga arus mudik diyakini pemerintah bisa mendorong ekonomi Indonesia tumbuh hingga 5,5% atau lebih.
Namun, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 ini tak setinggi target pemerintah, yakni hanya 5,4% atau sedikit di bawah target. Perkiraan ini didasarkan pada pelaksanaan Hari Raya Lebaran tahun tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Hal ini membuat dorongan pelaksanaan Hari Raya terhadap pertumbuhan ekonomi jadi lebih terbatas.
Dari sisi pendorong, ekonomi nasional bisa tumbuh hingga 5,4% berkat belanja pemerintah yang dinilai cukup ekspansif, terutama pada program-program prioritas pemerintah dan bantuan sosial yang dinilai cukup untuk menjaga daya beli masyarakat.
"Kemudian, inflasi yang cukup tinggi ikut membuat konsumsi masyarakat sedikit tertahan selama puasa dan hari raya Lebaran berlangsung. Membuat dorongan ekonomi dari peristiwa ini tak maksimal seperti tahun-tahun sebelumnya," pungkasnya.
Advertisement
Pembukaan Rupiah
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turun pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, (27/3/2026). Analis menilai, rupiah lesu terhadap kurs dolar AS seiring volatilitas harga minyak dunia.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 14 poin atau 0,14% menjadi 16.928 per dolar AS dari penutupan sebelumnya 16.904 per dolar AS.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran 16.870-16.920 dipengaruhi oleh global harga minyak dunia yang masih dengan volatilitas yang tinggi dan ketidakpastian berakhirnya perang AS-Israel dengan Iran,” kata Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova dikutip dari Antara, Jumat pekan ini.
Mengutip Sputnik, anggota parlemen Iran Mohammadreza Rezaei Kouchi menyatakan Iran ingin melegalkan pungutan bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Pada 24 Maret 2026, Bloomberg melaporkan bahwa Iran sudah mulai mengenakan biaya hingga 2 juta dolar AS (sekitar Rp33,8 miliar) bagi kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Sentimen Lainnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282588/original/045207500_1672910856-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_7.jpg)
Eskalasi di sekitar Iran menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar global. Kondisi itu juga mempengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut dan mendorong kenaikan harga di dunia.
Melihat sentimen domestik, pasar disebut khawatir atas peningkatan tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak, diiringi kewaspadaan potensi defisit anggaran sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) terlampaui.
“Sebelum pecah perang AS-Israel dan Iran tren inflasi sudah mulai meningkat, ditambah kenaikan harga minyak yang akan menambah biaya produksi industri dan harga jual barang,” ujar Rully.
“Langkah yang dapat dilakukan pemerintah di antaranya dengan menjaga daya beli masyarakat melalui program-program di antaranya bantuan tunai dan insentif listrik serta penghematan di lembaga dan kementerian,” tutur dia.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2892802/original/045596000_1566805482-20190826-Jokowi-sebut-kaltim-jadi-ibu-kota-baru-ANGGA-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291090/original/060643400_1604902998-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-4.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260379/original/084688000_1781589230-tj_verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259296/original/035877100_1781495343-_____________FIFAWorldCup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621898/original/023575700_1782614127-063_2283622576.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540345/original/069396100_1774710516-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8618866/original/035352900_1782607831-063_2283624619.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243047/original/051478600_1749093312-AP25155771563061.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3529388/original/056973400_1627972342-000_9767F7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625922/original/005183100_1782620553-063_2283651686.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625483/original/070181900_1782619556-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291093/original/097460500_1604903000-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524871/original/011814200_1782454663-WhatsApp_Image_2026-06-26_at_13.06.41__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3029348/original/099783600_1579686479-20200122-Penguatan-Rupiah-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282582/original/062080800_1672910733-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337093/original/010245400_1609328702-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349280/original/047226900_1757918262-2a382ae5-7ce5-42aa-9447-93e8636268f9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282588/original/045207500_1672910856-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579577/original/079405700_1778057267-7.jpg)