Menko Airlangga Paparkan 3 Skenario Defisit APBN jika Harga Minyak Melonjak

Menko Bidang Airlangga Hartarto menuturkan, pemerintah melihat pola lonjakan harga minyak dalam beberapa krisis global sebelumnya.

Diterbitkan 13 Maret 2026, 18:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto (Menko Airlangga) memaparkan sejumlah skenario terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) apabila konflik global mendorong kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah menyiapkan simulasi berdasarkan kemungkinan durasi konflik dan dampaknya terhadap harga minyak mentah Indonesia (ICP), nilai tukar rupiah, serta biaya surat berharga negara (SBN).

Airlangga menjelaskan pemerintah melihat pola lonjakan harga minyak dalam beberapa krisis global sebelumnya, seperti saat harga minyak mencapai USD 139 dolar per barel pada 2008 serta kenaikan hingga sekitar USD 110 dolar saat konflik Rusia-Ukraina.

"Kalau kita mengambil beberapa asumsi perang katakanlah 5 bulan 6 bulan dan 10 bulan dengan masing-masing kenaikan harga BBM yang sampai 107 kemudian 6 bulan 107-nya 6 bulan kemudian menurun lagi kemudian yang 10 bulan itu menaik sampai 130 sampai akhir Desember 125,” ujar Airlangga dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).

Ia menambahkan, realisasi harga ICP pada awal tahun masih berada di bawah asumsi APBN. Pada Januari harga tercatat sekitar USD 64,41 per barel dan Februari sekitar USD 68,79 per barel, lebih rendah dari asumsi APBN sebesar USD 70 dolar per barel.

Namun, jika konflik berlangsung lebih lama dan harga minyak meningkat, pemerintah memproyeksikan beberapa kemungkinan terhadap defisit APBN.

 

 

Skenario pertama, jika harga ICP berada di sekitar USD 86 per barel dengan nilai tukar rupiah sekitar Rp 17.000 per dolar AS dan pertumbuhan ekonomi dipertahankan di level 5,3 persen, imbal hasil SBN diperkirakan sekitar 6,8 persen. Dalam kondisi tersebut, defisit APBN diproyeksikan mencapai sekitar 3,18 persen dari produk domestik bruto (PDB).

 

Skenario Hadapi Lonjakan Harga Minyak

Skenario kedua, apabila harga minyak naik hingga sekitar 97 dolar per barel dan kurs rupiah berada di sekitar Rp17.300 per dolar AS dengan pertumbuhan ekonomi 5,2 persen serta imbal hasil SBN sekitar 7,2 persen, maka defisit APBN diperkirakan meningkat menjadi sekitar 3,53 persen dari PDB.

Skenario ketiga atau pesimistis, jika harga minyak melonjak hingga sekitar USD 115 per barel, nilai tukar rupiah melemah ke sekitar Rp 17.500 per dolar AS, dan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,2 persen dengan imbal hasil SBN sekitar 7,2 persen, maka defisit APBN diperkirakan dapat mencapai sekitar 4,06 persen dari PDB.

Menurut Airlangga, simulasi tersebut menunjukkan mempertahankan batas defisit fiskal di level 3 persen akan sulit dilakukan apabila harga minyak naik signifikan tanpa adanya penyesuaian pada belanja negara atau pertumbuhan ekonomi.

"Jadi artinya dengan berbagai skenario ini defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan,” tuturnya.

Ia mengatakan, berbagai skenario tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam rapat terbatas pemerintah untuk menentukan langkah kebijakan yang diperlukan menghadapi potensi tekanan global terhadap APBN.

 

Harga Minyak Hari Ini Terbang Tinggi, Brent Tembus USD 100 per Barel

Sebelumnya, harga minyak ditutup sedikit di atas USD 100 per barel pada hari Kamis setelah pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, bersumpah untuk menjaga Selat Hormuz tetap tertutup, pertanda terbaru bahwa pasar mungkin menghadapi gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Dikutip dari CNBC, Jumat (13/3/2026), patokan harga minyak internasional, Brent, naik 9,22% atau USD 8,48, dan ditutup pada USD 100,46 per barel. Ini adalah pertama kalinya Brent ditutup di atas USD 100 sejak Agustus 2022. Kontrak berjangka West Texas Intermediate AS naik 9,72% atau USD 8,48 dan ditutup pada level USD 95,73.

Mojtaba adalah putra Ayatollah Ali Khamenei yang dibunuh AS dan Israel dalam serangan pembuka perang. Komentarnya muncul di tengah berlanjutnya serangan terhadap kapal-kapal dagang di Teluk Persia.

Menteri Energi Chris Wright mengatakan Angkatan Laut AS belum siap untuk mengawal kapal tanker melalui Selat tersebut. Aset militer AS di wilayah itu difokuskan pada penghancuran kemampuan ofensif Iran, kata Wright.

Dua kapal tanker minyak dan sebuah kapal kargo dihantam di lepas pantai Irak dan Uni Emirat Arab semalam, kata pihak berwenang, serangan terbaru di atau dekat Selat yang sangat penting secara strategis tersebut. Kira-kira seperlima pasokan minyak global melewati Selat tersebut, yang menghubungkan Teluk Persia ke pasar global. 

Persediaan darurat Serangan terhadap kapal-kapal tersebut terjadi setelah Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mengumumkan pelepasan darurat cadangan minyak mentah terbesar dalam sejarahnya.

Pasar minyak tidak terlalu terpengaruh oleh pelepasan cadangan tersebut, yang menunjukkan keraguan para pedagang bahwa langkah itu dapat menutup kesenjangan pasokan yang dipicu oleh penutupan Selat Taiwan.

“Seperti yang telah kami katakan berulang kali, satu-satunya cara untuk melihat harga minyak turun secara berkelanjutan adalah dengan mengalirkan minyak melalui Selat Hormuz,” kata Para Ahli Strategi di bank Belanda ING dalam catatan riset yang diterbitkan Kamis.

“Jika gagal melakukannya, berarti harga tertinggi pasar masih akan datang," tutur dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6