Kisah Dhea Natasya Ukir Sejarah Selancar Indonesia, dari Pantai Bali ke Panggung Dunia

Berawal dari ombak di pantai Bali, Dhea Natasya menorehkan sejarah sebagai perempuan Indonesia pertama yang tampil di World Surf League World Longboard Tour.

Diterbitkan 17 Juli 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ombak datang silih berganti tanpa pernah menjanjikan kemenangan. Ada hari ketika laut begitu bersahabat, ada pula saat angin mengubah segalanya dalam hitungan menit. Bagi Dhea Natasya, setiap gulungan ombak selalu menghadirkan pelajaran baru.

Laut bukan sekadar arena olahraga, melainkan ruang tumbuh yang menempa kesabaran, keberanian, dan keyakinan untuk terus melangkah. Dari pantai-pantai di Bali, perempuan berusia 25 tahun itu akhirnya menorehkan sejarah sebagai peselancar Indonesia pertama yang lolos ke ajang World Surf League (WSL) World Longboard Tour 2026.

Perjalanan tersebut tidak lahir dari satu kemenangan besar. Semua bermula ketika Dhea berusia sembilan tahun dan hampir setiap sore mengikuti ayahnya bekerja di pantai. Waktu yang semula hanya diisi bermain air perlahan berubah menjadi awal dari mimpi panjang.

Sang ayah mengajaknya mengenal papan selancar, meski pengalaman pertama tidak berjalan mulus karena ia bahkan belum bisa berenang. "Saya sempat berhenti karena takut. Waktu didorong ombak saya panik dan menangis. Tapi setelah melihat adik ikut lomba dan membawa pulang piala, saya ingin mencoba lagi," Dhea bercerita di Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026.

Semangat itu tumbuh bersama kebiasaan yang dilakukan tanpa henti. Setiap pulang sekolah, pantai menjadi tempat bermain, sekaligus ruang belajar. Lima jam berada di laut bukan sesuatu yang terasa berat bagi Dhea kecil.

Ia baru berhenti ketika ayahnya memanggil. Kebiasaan sederhana tersebut perlahan membentuk naluri, ketahanan fisik, sekaligus rasa cinta terhadap olahraga yang kemudian mengubah arah hidupnya.

Pilihan menjadi atlet juga tidak datang dari rencana yang disusun sejak awal. Ibunya sempat membayangkan sang putri kelak mengenakan jas dokter. Namun, kehidupan ternyata membawa Dhea pada jalur berbeda.

Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga membuat impian itu tumbuh tanpa tekanan. Pintu menuju panggung dunia justru terbuka ketika Dhea berani mengambil jalan yang berbeda. Setelah lama berkompetisi di nomor shortboard, ia mulai melirik longboard pada 2019.

Jumlah atlet perempuan yang lebih sedikit membuat peluang berkembang terasa lebih besar. Keputusan tersebut bukan sekadar soal berpindah papan selancar, melainkan keberanian membaca kesempatan dan mempersiapkan diri dari awal. Latihan demi latihan dijalani hingga akhirnya pelatih memintanya fokus di nomor longboard.

Perubahan itu membuahkan hasil lebih cepat dari dugaan. Dalam waktu singkat, Dhea meraih medali emas di ajang SEA Games dan terus mengumpulkan poin di berbagai seri internasional. Jalan menuju World Surf League tetap dipenuhi tantangan.

Persaingan berlangsung ketat, sementara setiap seri menuntut kesiapan fisik, mental, dan biaya yang tidak sedikit. "Saya tidak pernah merasa puas dengan satu sesi latihan karena setiap hari selalu ada hal yang bisa dipelajari. Buat saya, latihan adalah bagian dari perjalanan menjaga fisik sekaligus mental," ujar Dhea.

 

Menuju World Surf League

Perjalanan menuju World Surf League sempat menghadapi rintangan yang tak berkaitan dengan kemampuan di atas papan selancar. Seri terakhir di Jepang menjadi penentu langkahnya menuju World Tour, tapi biaya perjalanan dan pengangkutan longboard membuat keberangkatannya nyaris batal.

Di tengah situasi tersebut, dukungan datang dari YUMMY Dairy. Kesamaan akar di Bali dan keyakinan bahwa prestasi besar lahir dari konsistensi mempertemukan keduanya.

Bagi jenama yang sejak 1988 tumbuh sebagai produsen susu segar lokal itu, perjalanan Dhea mencerminkan nilai yang selama ini mereka gaungkan, yakni membangun wellness melalui kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari.

Dukungan tersebut kemudian berlanjut dengan menjadikan Dhea bagian dari YUMMY Fam, komunitas yang mendorong gaya hidup sehat, sekaligus mendampingi perjalanannya menuju World Surf League World Longboard Tour 2026–2027.

President Director YUMMY Dairy Emireza Arifin menilai perjalanan Dhea menjadi pengingat bahwa pencapaian besar tidak pernah lahir secara instan. "Di tengah dunia yang serba cepat, Dhea menunjukkan bahwa prestasi dibangun setiap hari melalui disiplin, konsistensi, dan komitmen," ujarnya.

 

Babak Baru

Kini, perjalanan Dhea memasuki babak baru. Huntington Beach di Amerika Serikat, Bells Beach di Australia, La Union di Filipina, hingga El Salvador akan menjadi empat panggung dunia yang menantinya sepanjang musim World Surf League World Longboard Tour 2026–2027.

Setiap seri bukan hanya menjadi arena kompetisi, melainkan kesempatan untuk membawa nama Indonesia semakin dikenal di dunia selancar internasional. Kisah Dhea juga menyisakan harapan bagi semakin banyak perempuan yang ingin menaklukkan ombak.

Ia masih mengingat masa ketika atlet perempuan harus bertanding bersama peserta laki-laki karena belum tersedia kategori khusus. Pengalaman tersebut tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, ia memilih membuka jalan agar generasi berikutnya memiliki kesempatan yang lebih luas untuk bermimpi.

Sejarah akhirnya lahir bukan karena satu kemenangan, melainkan dari ribuan latihan yang nyaris tak pernah terlihat. Langkah-langkah kecil di pantai Bali, dukungan keluarga, keberanian membaca peluang, hingga hadirnya pihak yang percaya pada mimpinya berpadu menjadi perjalanan panjang menuju panggung dunia.