Perang Iran-AS Ancam Lalu Lintas Selat Hormuz, Purbaya Cemaskan Risiko Ini

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz terganggu akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Diterbitkan 11 Maret 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan adanya potensi dampak terhadap perekonomian global jika jalur pelayaran di Selat Hormuz terganggu akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. 

Purbaya menilai konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai berisiko mengganggu distribusi energi dunia, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak global.

"Ketidakpastian ini tercermin dari meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global, ditandai volatilisasi tinggi pada indeks pasar baik VIX maupun MOVE, pergeseran investor ke aset safe haven, penguatan indeks dolar AS, DXY, serta kenaikan yield US Treasury yang 10 Tahun,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Rabu (11/3/2026).

Purbaya menjelaskan bahwa situasi tersebut dapat memicu perubahan cepat dalam dinamika pasar keuangan global. Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, investor umumnya cenderung memindahkan dana mereka ke instrumen investasi yang dinilai lebih aman.

“Ketidakpastian ini tercermin dari meningkatnya sentimen risk off di pasar global, terlihat dari volatilitas tinggi di berbagai indeks pasar, pergeseran dana ke aset safe haven, penguatan dolar AS, serta kenaikan imbal hasil US Treasury,” tutur Purbaya.

 

Beberapa Jalur Utama

Ia mengungkapkan terdapat ada beberapa jalur utama yang berpotensi menyalurkan dampak gejolak tersebut ke perekonomian Indonesia. Dari jalur perdagangan. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan nilai impor energi Indonesia, sehingga dapat menekan surplus neraca perdagangan sekaligus memengaruhi neraca pembayaran.

Kemudian dari pasar keuangan. Perubahan sentimen global menjadi lebih berhati-hati dapat mendorong keluarnya arus modal asing dari pasar domestik. Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan pada pasar saham, pasar obligasi, serta nilai tukar rupiah.

 

Sisi Fiskal

Aspek terakhirl dari sisi fiskal. Kenaikan harga energi dapat menambah beban subsidi pemerintah serta meningkatkan kewajiban pembayaran bunga utang.

Meski demikian, Purbaya menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya merugikan bagi Indonesia. Lonjakan harga komoditas global juga berpotensi meningkatkan penerimaan negara melalui ekspor komoditas utama seperti batu bara, nikel, dan minyak kelapa sawit.

“Pemerintah terus memantau perkembangan geopolitik secara ketat agar instrumen APBN dapat merespons secara tepat sekaligus menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat,” pungkasnya. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6