Top 3: Selat Hormuz Ditutup Bikin Pengusaha Indonesia Cemas

Artikel mengenai Selat Hormuz Ditutup Bikin Pengusaha Indonesia Cemas ini menjadi salah satu artikel yang banyak dibaca dan masuk dalam Top 3.

Diterbitkan 02 Maret 2026, 06:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel dibantu Amerika Serikat (AS) berpotensi menjadi shock eksternal serius bagi dunia usaha di Indonesia, terutama melalui jalur energi dan logistik karena adanya Selat Hormuz ditutup.

Sekitar 30% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz dan lebih dari 20% perdagangan LNG global berasal dari kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, Indonesia masih mengimpor sekitar 750–800 ribu barel minyak per hari, sehingga sangat rentan terhadap gejolak harga energi global.

Artikel mengenai Selat Hormuz Ditutup Bikin Pengusaha Indonesia Cemas ini menjadi salah satu artikel yang banyak dibaca. selain itu masih ada sejumlah artikel lain yang layak untuk disimak.

Lengkapnya, berikut ini tiga artikel terpopuler di kanal bisnis Liputan6.com pada Senin (2/3/2026):

1. Selat Hormuz Ditutup, Pengusaha Cemas Biaya Logistik Meledak dan Margin Usaha Tergerus

Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel dibantu Amerika Serikat (AS) berpotensi menjadi shock eksternal serius bagi dunia usaha di Indonesia, terutama melalui jalur energi dan logistik karena adanya Selat Hormuz ditutup.

Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira menjelaskan, kawasan tersebut merupakan episentrum produksi energi global sehingga setiap gangguan, termasuk penutupan Selat Hormuz, akan berdampak langsung pada stabilitas biaya produksi nasional.

Ia memaparkan, sekitar 30% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz dan lebih dari 20% perdagangan LNG global berasal dari kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, Indonesia masih mengimpor sekitar 750–800 ribu barel minyak per hari, sehingga sangat rentan terhadap gejolak harga energi global.

Baca artikel selengkapnya di sini

2. Selat Hormuz Ditutup, AS Minta Kapal Berbendera Amerika Hindari Area Konflik

Departemen Transportasi Amerika Serikat (AS) melalui Maritime Administration pada Sabtu mengimbau kapal komersial berbendera AS untuk menjauhi Selat Hormuz dan perairan di sekitarnya. Imbauan ini disampaikan menyusul dimulainya eskalasi militer signifikan di kawasan Timur Tengah.

Melansir kantor berita Anadolu Minggu (1/3/2026), dalam peringatan maritim yang dirilis, disebutkan bahwa operasi militer telah dimulai sejak 28 Februari di Selat Hormuz, Teluk Persia, Teluk Oman, serta Laut Arab. Pemerintah AS juga memperingatkan adanya potensi serangan balasan dari pasukan Iran.

“Disarankan agar kapal menjauhi wilayah ini jika memungkinkan,” demikian bunyi imbauan tersebut.

Baca artikel selengkapnya di sini

3. AS Serang Iran, Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD 100 per Barel

Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan minyak global. Negara anggota OPEC tersebut merupakan produsen minyak terbesar keempat di kartel, dengan produksi lebih dari 3 juta barel per hari pada Januari lalu.

Risiko terbesar muncul dari potensi gangguan di Selat Hormuz—jalur pelayaran paling vital dalam perdagangan minyak dunia. Iran berbagi garis pantai dengan selat tersebut, yang menjadi jalur utama ekspor minyak dari Timur Tengah ke pasar global.

Pasar minyak selama ini dinilai cenderung mengabaikan risiko gangguan pasokan di kawasan tersebut. Namun, mantan penasihat energi Gedung Putih di era Presiden George W. Bush, Bob McNally, memperingatkan ancaman kali ini tidak bisa dianggap remeh.

Baca artikel selengkapnya di sini

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6